Senin, 12 Agustus 2013

Harry Potter and The Deathly Hallows by J. K. Rowling




Ebook format, PDF, 631 pages, Bahasa Indonesia
Rating 5/5
 
Akhirnya berujung juga perjalanan  Harry Potter atau Lord Voldemort , menemui kemenangan atau kematian?

Harry tak lagi meneruskan sekolahnya di Hogwarts di tahunnya yang ke-7. Dia memilih melakukan tugas yang menjadi wasiat Dumbledore: mencari Horcrux yang tersebar entah dimana dan berbentuk entah apa. Ditemani Ron dan Hermione, Harry, sadar bahwa hanya dirinyalah yang akan bisa mengakhiri kejaran Voldemort sekaligus rezim sihir hitam yang merajalela ini.

Mendapatkan 3 peninggalan dari Dumbledore, Harry dengan snitch yang ia duga ada sesuatu di dalamnya, Hermione dengan buku dongeng popular bagi warga penyihir, The Tale of Beedle the Bard, dan Ron dengan deluminator. Dumbledore memilih mereka untuk memikirkan sendiri masing masing kegunaan dari peninggalannya tersebut. Sementara para anggota Orde of Phoenix mengendus rencana terselubung Harry dan sahabatnya untuk pergi mencari horcrux, namun tak satupun puas dengan jawaban Harry. 

Perjalanan penuh onak dan duri selama berbulan bulan harus dialami ketiga sahabat ini. Berpindah tempat selalu dengan bayang2 Pelahap Maut yang membuntuti. Ditambah kondisi emosional yang labil dengan adanya satu horcrux bersama mereka dan berita seputar kehidupan dan kebohongan Dumbledore. Tak ada yang menyangka kehidupan mantan kepala sekolah Hogwarts ini sebelumnya. Harry yang banyak menghabiskan waktu bersamanya pun tak pernah sekalipun menanyakan masa lalu kepala sekolahnya yang ternyata berasal dari desa yang sama dengan dirinya, Godric’s Hollow. 


Dongeng The Tale of The Beedle The Bard tak kalah menariknya. Campuran antara dongeng dan kenyataan yang telah berlangsung lama. Kisah 3 bersaudara Peverell yang memiliki Jubah Gaib yang saat ini dimilki Harry menunjukkan bahwa kisah ini tidak hanya dongeng semata. Masalahnya, adakah tongkat sihir Elder itu nyata? Diskusi dan perdebatan panjang membawa mereka ke suatu keputusan bahwa dongeng itu adalah hal yang nyata. Hallows yang menjadi lawan Horcrux. Entah mana yang akan mampu menaklukan kematian.
Comments:

Awal kisah buku ke-7 ini sedikit panjang dan bikin ngantuk. Tapi tetap saja tak bisa ngantuk dan tertidur mengingat tebalnya buku ini. Mencapai 1008 halaman…. Pegel juga tangan saya menopang novel bantal ini. Tak heran, saya justru tergoda membaca versi ebooknya, meski dengan terjemahan yang mirip tapi dihiasi beberapa typo yang kadang menganggu tapi dengan tambahan catatan kaki penerjemahnya yang kadang bikin geli sekaligus manggut manggut hahaha.

Kalau tidak salah, saya membaca buku ke 7 ini sekitar 4 atau 5 kali dengan event hotterpotter ini. Tak heran, masih banyak sekali kejadian yang saya ingat dengan hangat di kepala. Beberapa hal kecil yang terlupa adalah bagaimana Peter Pettigrew mati. Yang tetap menarik dan wajib simak karena sering lupa adalah teori panjang dari Ollivander seputar tongkat sihir. Bahwa tongkat sihir memilih penyihir, dan kekuatannya akan berpindah begitu si pemilik terkalahkan. Keingintahuan Harry akan tongkat sihirnya yang bergerak sendiri melawan voldemort hingga rasa penasaran Voldemort dengan kegagalannya melawan tongkat Harry. Sangat rumit dan menarik. 

Beberapa adegan masih membuat saya bergetar #tsaahh… tentu saja adegan Hedwig, pengorbanan Dobby, pengungkapan rasa terima kasih Harry pada peri rumah ini, perubahan haluan peri rumah peninggalan Sirius, Kreacher, pada Harry, pembelaan teman2 Laskar Dumbledore mengusir Dementor saat Harry linglung tak mampu mengeluarkan patronus (terutama support dari Luna), pembelaan Neville dengan teriakan Laskar Dumbledore yang mampu mendatangkan pedang Gryffindor (merinding saya menulis bagian ini), dan terlebih apa yang terlihat di Pensieve yang keluar dari pikiran dan kenangan Snape yang tersimpan rapat selama belasan tahun. Beberapa rekan saya saking percayanya pada Dumbledore tak pernah membenci Snape meski apapun yang ia lakukan pada Harry selama tahun2 ia belajar di Hogwarts adalah bentuk kebencian. Sementara banyak antara saya dan beberapa teman yang lain mempunyai perasaan yang sama, membenci Snape yang memuncak pada pembunuhan terhadap Dumbledore. Tak pernah disangka bahwa seseorang sedemikan sinis dan (cukup) semena mena pada Harry mempunyai masa lalu sedemikan pahit dan menyimpan rahasia sedemikian besar. 

 Yang cukup melegakan adalah adegan pertemuan kembali Harry-Dumbledore setelah ‘kematian’ Harry. Banyak pertanyaan yang semula menjadi pertanyaan Harry (dan juga saya) terjawab. Sejumlah mengapa dan bagaimana terjawab tuntas. Saya lega. Demikian juga dengan dialog panjang sebelum duel maut Harry-Voldemort yang sayang, tak ditemukan di versi filmnya.  Padahal disini semua teori rumit tongkat sihir yang tak pernah bisa dimengerti Voldemort, tentang pengungkapan siapa Snape, dan masih banyak lagi diungkapkan. Sebagai gantinya adalah duel yang mirip duel muggle yang mampu sedikit sihir disini: tinju, dan guling2. Duh, saya justru mengharapkan duel mantra mematikan Avada Kedavra beradu dengan mantra pelucutan yang dipelajari Harry di tahun keduanya di Hogwarts: Expelliarmus! Lebih dramatis action-nya sih, hanya esensi emosinya nyaris tak ada di film, selain lakon pasti menang di akhir. Hanya, jika saya bayangkan, dialog panjang sebelum duel sepertinya agak mengganggu mood bertarung yang sudah diujung tongkat. Mereka yang tidak mengikuti bukunya akan komentar: mau tanding aja ngobrolnya lama bener. Dan ketika saatnya bertarung, hanya satu mantra yang keluar. Kurang seru kali ya? Hahaha… Buat saya sih, tetep buku yang lebih seru meski hanya dengan satu mantra. 

Overall, saya sangat menikmati re-read Hotterpotter ini meski saya pikir, saya butuh lebih lama lagi jeda re-read-nya dengan waktu terakhir saya membaca hingga banyak hal yang terlupa. Efek kejutnya sedikit hilang karena masih banyaknya hal yang masih saya ingat hahaha… Saya yakin 5 tahun lagi, jika ada event serupa, saya pasti akan ikut. :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar