Selasa, 19 November 2013

Liesl and Po by Lauren Oliver




Paperback 318 pages

Published April 2013 by Penerbit Mizan

Penerjemah: Prisca Primasari

Rating: 4/5


Pada malam ketiga setelah ayahnya meninggal, Liesl melihat hantu….


Liesl tidak meratap ketika ia harus hidup dikurung di loteng rumahnya sendiri hingga pada suatu hari ia bertemu dengan Po, hantu cilik beserta anjing kucingnya, Bundle. Po yang berasal dari dunia lain mendapat titipan salam dari Liesl untuh ayahnya. Liesl tidak sempat mengucap selamat tinggal pada ayahnya sesaat sebelum ia meninggal. Po, meski tidak berjanji, akhirnya memang bertemu ayah Liesl dan menyampaikan pesan Liesl padanya. Namun ternyata kematian ayahnya menyimpan rahasia besar hingga membuatnya berkeliaran di Dunia Lain dan membuatnya tidak tenang. 


Mendengar hal yang mencurigakan ini, Liesl berniat menyelidikinya. Tapi sebelumnya ia harus menyebar abu ayahnya di tempat mereka dulu pernah mengenyam kebahagiaan, jauh sebelum kedatangan ibu tirinya. Maka dimulailah pelarian Liesl Po dari lotengnya bersama si hantu Po dan Bundle. Di perjalanan, mereka bertemu dengan Will, murid merana seorang alkemis yang bermimpi menjadi penyihir pemerintah hebat. Sayangnya, cita-cita tingginya ini harus dibuktikan dengan membangkitkan kematian dengan sihirnya. Sihir rumitnya ini berupa tumpukan abu, yang mirip dengan abu ayah Liesl. Bisa dipastikan perjalanan Liesl dkk bakal bertemu dengan segala kerumitan yang ditimbulkan Alkemis, Lady Premiere, dan tentu saja ibu tirinya. Sebuah kesalahan membuat kehidupan Liesl dan karakter lainnyaa tidak lagi sama.



Comments:


Awalnya, saya sedikit ‘memaksa diri’ untuk menyesuaikan dengan buku ini. Well, setelah sebelumnya membaca Wonder, The Help, Insiden Anjing di Tengah Malam, dan beberapa kisah drama ‘real’ lainnya, membaca fantasy novel needs adjustment for me hehehe… Tapi akhirnya sukses juga saya suka dengan buku yang penuh ilustrasi keren agak seram ini. 


Kisah kematian yang tidak wajar sebenarnya bukan sesuatu yang baru dengan bumbu kejahatan ibu tiri pula. Namun, kisah Liesl ini bukan hanya melulu seputar penyingkapan siapa sosok antagonis di sebuah novel namun juga seputar persahabatan lintas dunia serta seputar kehidupan dan kematian. Bonding antara Liesl dan ayahnya sangat terasa meski ayahnya telah meninggal. Liesl paling suka menggunakan kata ‘tak terlukiskan’ untuk menggambarkan sesuatu yang hebat, yang tak terkatakan. Sebuah kata yang ia dapat dari ayahnya yang sering menceritakan kisah kisah untuk orang dewasa padanya dengan kata-kata dewasa pula.


Dia mengulang kata tak terlukiskan dengan lantang, sebanyak tiga kali di kepalaanya, berlama-lamaa pada lekukan hurufnya yang bagaikan ujung lembut krim susu di awal masa kanak-kanaknya.  Ini membuatnya sedikit lebih baik. (hal. 18)


Meski tak pernah tak bertemu muka satu sama lain, Will merasa kedekatannya dengan Liesl. Secara naluriah, Liesl juga merasakan hal yang sama pada bocah laki-laki yang selalu berdiri di seberang jendela lotengnya. Po, meski hantu, juga merasakan kedekatan pada anak manusia di luar dunia lainnya. Sepertinya, Po juga mengalami hal yang sama seperti ayah Liesl, hingga ia masih terus berkeliaran di Dunia Lian, bahkan menembus Dunia Nyata. 
“Beberapa dari mereka berjalan terus.” 
“Terus kemana?” 
“Terus. Ke tempat lain. Ke Sana. Aku juga tidak tahu!” (hal. 20)
Kematian, sang Alkemis adalah sebuah lelucon. Namun tak jarang ia kesal juga karena ia menjadi sangat sibuk dengan banyak jasad yang harus ia bakar dan membuatnya kehabisan guci. Bahkan ia berpikir untuk meminta pada wali kota menghentikan kematian selama seminggu… hahaha…  Biar demikian ia sangat mengenal akrab kematiaan. Dia cukup memahami kematian, sehingga mengerti bahka kematian tidak bisa diakali, dibeli, ditunda, atau diubah jadwalnya (hal. 35).

Kisah untuk anak-anak ini menurut saya cukup gelap dengan bumbu kematian. Well, it’s OK sih untuk mengenalkan kebenaran hidup pada anak-anak, bahwa hidup itu tidak selamanya. Namun, masih saja menurut saya, buku ini gelap bagi anak-anak. Untungnya muncul karakter polisi Mo yang lucu dan baik hati. Kemunculannya membuat kisah ini lebih segar dengan akhir yang menyenangkan pula #sorryspoiler :D. Over all, kisah yang dilatarbelakangi kisah pribadi penulisnya ini sangat asyik dinikmati segala umur, ditambah illustrasi indah meski terkadang bisa mendirikan bulu roma saya. Dengan catatan orangtua harus menjelaskan bahwa sosok Po dan Bundle itu adalah rekaan di buku #hahahayaiyalaahh…  



2 komentar:

  1. Mr. Gray bukannya beda sm Alkemis ya mbak? Alkemis beli bahan2nya di Mr. Gray.. cmiiw.

    BalasHapus
  2. Aha.... iya ya... Makasih koreksinya yaaaa....

    BalasHapus