Jumat, 22 November 2013

The Demigod Diaries by Rick Riordan




Paperback 339
Published Juni 2013 by Mizan Fantasy
Penerjemah Reni Indardini
Rating 3,5/5

Menulis diary ternyata bukan hanya dilakukan para non half-blood.... entah menggunakan huruf apa mereka ketika menulis, karena kita tahu mereka pengidap dyslexia....

Diary pertama ditulis oleh Luke Castellan. Perjalanan Luke ketika ia berusia 14 tahun bersama Thalia putri Zeus sebelum bertemu Annabeth. Seperti halnya anak anak demigod, hidup mereka tidak pernah tenang dari kejaran para monster. Mereka pun sering kali mengalami kejadian menyeramkan dan saling bahu membahu membasmi para monster.  Tapi diantara pengalaman itu, kisah yang ditulis Luke di diarynya ini mungkin yang paling mengancam jiwa mereka.
Diawali dengan pertemuan mereka dengan kambing misterius yang membawa mereka ke sebuah rumah yang ternyata berisi demigod Halcyon, putra Apollo yang sedang menjalani masa hukuman. Kesalahannya membaca masa depan seseorang membuatnya membayar dengan pengasingan berpuluh tahun. Dia akan bebas jika bertemu dengan demigod yang tepat untuk memiliki sebuah senjata.


Diary kedua ditulis Percy Jackson. Awal diary cukup romantis dengan adegan perayaan jadian mereka.  Tapi ternyata keinginan makan malam romantis mereka harus tertunda dengan munculnya Hermes. Dewa pengantar pesan ini kehilangan senjata multi fungsinya yang menjadi ciri khasnya, Caduceus. Tanpa senjatanya, Hermes bukan Hermes.  Sangat memalukan memang, Hermes yang juga dikenal sebagai dewa pencuri, kecurian senjata pamungkasnya. Hahaha... Meski berat, akhirnya setuju juga Percy dan Annabeth membantu menemukan Caduceus, dengan imbalan tentunya #eh sejak kapan Percy terima order dari Hermes ya? Wkwkwk...
Petunjuk si pencuri datang dari Hermes,  yaitu raksasa bernapas api, Cacus. Si raksasa setinggi 3 meter dan terhitung pendek di kalangan para raksasa ini paling doyan mencuri barang-barang berkilau bermerk terkenal. Mengingat hobinya ini pasti dia sangat ahli mencuri, pesaing berat Hermes dong ya. :D Petunjuk lain, si raksasa gemar tinggal di gua bawah tanah, tempat tinggal sekaligus gudang penyimpanan barang2 curian, termasuk Caduceus.

Diary ketiga ditulis oleh Leo Valdez, si jenius putra Dewa Hephaestus. Leo kalang kabut dengan menghilangnya Buford, mesin vital untuk kapal Argo II nya. Ohya, kehilangan ini terjadi sebelum Argo II digunakan sebagai alat transportasi menuju perkemahan Half-blood Romawi di buku The Mark of Athena (sudah ke-spoiler duluan, kalo hilangnya Buford bakal ditemukan).

Piper dan pacarnya, Jason, berusaha membantu Leo. Dimulai dari jejak menghilangnya Buford hingga akhirnya mereka menemukan petunjuk.  Sayangnya mereka harus bertemu dengan sekelompok peri hutan,  fans berat Dionysus. Mereka sangat memuja sang dewa, srhingga mereka mengikuti 'tauladan'nya :P yaitu berpesta pora dengan anggur. Leo sempat menyaru sebagai Dionysus,  namun dalam waktu beberapa saat, pengakuannya langsung basi. Kelompok peri sadis bersiap 'mengajaknya' berpesta bersama Piper dan Jason.

Bagian akhir buku ini ditulis oleh putra Rick Riordan yang istimewanya masih berusia 16 tahun dan 'menjelaskan' beberapa pertanyaan mengapa dan bagaimana seputar monster versus demigod.

Bagian ini berkisah seputar penulis narsis Howard Claymore. Tulisannya seputar kehidupan sesudah kematian mengundang perhatian seorang demigod,  Alabaster. Berbeda dari para pahlawan Olympus yang bertarung melawan Kronos, Alabaster ini adalah sedikit dari para demigod yang bertarung di pihak Kronos. Si bocah ini secara tidak sengaja 'mengajak' Claymore ke kehidupannya yang terus menerus dikejar kejar para monster.  Monster kali ini yang memburunya adalah Lamia, jelmaan monster yang kebetulan saudara perempuan satu ibu dari Alabaster. Keberhasilan Alabaster membunuhnya berulang kali tidak secara langsung membebaskannya dari kejaran monster ini. Kemampuanya beregenerasi, membuat Lamia seolah immortal.  Dibutuhkan dua orang cerdas untuk melenyapkannya selamanya. Masalahnya Claymore ada non demigod yang meski mengerti seputar dewa, tapi tak pernah menyangka kehidupan para dewa dan demigod nyata di hadapannya.

Comments:
Seperti yang saya tulis di awal review,  pengidap dyslexia biasanya mempunyai masalah dalam membaca, bagaimana dengan menulis? Saya tak terlalu tahu dengan gangguan semacam ini. Tapi kalo yang dimaksud adalah diary sama seperti diary para peserta X Factor ato AFI ato Indonesian Idol, berupa rekaman, disini mungkin rekaman penulisnya yang tercecer ketika menulis ato akan terlalu tebal bukunya jika detil yang ada di buku ini disertakan dalam bukunya,  saya maklum. Tapi dari dua entry pertama diary, bentuk halaman dan font seperti umumnya diary. Sementara pada Leo, penulis menggunakan kata ganti orang ketiga alih alih orang pertama seperti pada Luke dan Percy.

Well, diary para demigod ini setidaknya sedikit menghangatkan ingatan saya seputar dunia Percy setelah hampir satu tahun menyelesaikan The Mark of Athena dan mempersiapkan diri untuk The House of Hades :D . Saya juga sedikit heran dengan diri saya sendiri yang meski ngaku fans Percy, tapi tak pernah ingat detil di masing masing buku. Jika ada yang bertanya, The Titans Curse itu yang apa ya? Saya cuma bisa bilang ya tentu yang ada kutukan Titan dong. Selebihnya, tauk deh hahaha #maap bagi pecinta Percy Jackson series yaaa.  Oya, saya juga salut dengan Hailey Riordan, putra Rick yang menulis bagian akhir buku ini. Seperti halnya Rick yang mengatakan bahwa tulisan anaknya ini lebih bagus dibandingkan tulisannya ketika ia berusia 16 tahun, saya juga setuju. Hailey memasukkan unsur pertanyaan seputar kehidupan setelah kematian dan tentang ultimate questions about God existence.  Tidak melulu seputar hubungan para dewa dewa dengan anak anaknya yang tersebar seantero jagad. :D:D

2 komentar:

  1. eh tapi lucu juga nih buku ya, jadi tau sisi lain atau hidden stories mereka. ^_^

    BalasHapus
  2. Errr..... Sebenarnya buku ini tepatnya seperti prekuel dari sekuel yang mana gitu. IMHO sih hahaha...

    BalasHapus