Rabu, 01 Januari 2014

#1 The Guy Next Door by Meg Cabot





Paperback 558 pages
Published Juni 2003 by Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Indah S. Pratidina
Rating 4/5

To: meg_cabot@thenyjournal.com
From: lilacyclist@blogger.com
Subject: Buku anda

Dear Meg,
Ceritamu tentang Melissa dan John Trent sangat unik. Tau ngga sih, aku sudah membawa bawa novel ini sejak beberapa bulan lalu, tahun lalu. Tapi baru sempet baca beberapa hari lalu. En, surprise, lebih dari 500 halaman, bisa ku selesaikan dalam waktu 2 hari! Ngga biasanya lo ini.

Oya, Meg, kenapa ya, Mel kudu ngamuk begitu tau kalo Max itu ternyata John Trent, si anak milyuner, sampe bikin berita heboh di korannya? Oke, John memang sudah tidak jujur sama Mel, tapi pembalasannya ya ngga gitu gitu amatlah. Well, meski banyak sih yang merasa pembalasan Mel ini cukup setimpal. Tapi, if I were Mel, I would think about another revenge. Tapi apa ya? Belum kepikiran nih :))


Aku suka bagian email2an antar keluarga Trent. Dari keluarga kaya bin tajir, mereka saling akrab satu sama lain. Meski aku cukup mikir juga, di tahun buku ini ditulis, 2003, di jaman smartphone belum seperti sekarang, kirim email layaknya sms itu kok kayaknya susah di akses ya? Oke, mungkin di Indonesia tahun 2003 memang belum populer kirim email layaknya sms ato what'sapp sekarang. Tapi dari beberapa email, menunjukkan kalo si karakter sedang tidak berada di belakang layar komputer.

Kau mau tau aku berada dimana sekarang? Well, saat ini aku sedang jongkok di tangga darurat yang kebetulan dibatasi dinding yang bersebelahan langsung dengan ruang tamu Mrs. Friedlander (email Mel untuk Nadine, page 540).

Nah, Meg. Ga kebayang deh, Mel masih kirim email di saat tegang begitu? Kalo sekarang sih, well, semua orang merasa jadi selebtwit, hingga timelinenya penuh dengan adegan yang sedang dialami. Bahkan beberapa masih sempet motret dan unggah di jejaring sosial :)) . Emmm, mungkin aku yang katrok ya, Meg? Di tahun segitu, aku memang sudah punya email, hanya terbatas ketika pergi ke warnet untuk bisa mengaksesnya. Ah, kok aku mikirnya susah gini ya? Hari ini gini aja masih banyak yang ngga ngakses email kok. Hanya mereka sudah punya banyak aplikasi untuk curhat. Hahaha. Oya, satu lagi, saking banyaknya nama yang saling kirim email, kok ya ngga ada yang salah kamar ya? Maksudku, misal Mel mo kirim email ke John, eh, nyasar ke Nadine. Padahal isinya lagi mesra mesranya. Chat ato group what'sapp aja banyak banget yang pada salah kamar. Kalo ada, pasti kocak banget. #idegamutu #abaikan

Overall, Meg, aku suka banget sama seri pertama Boy ini. Tapi banyak teman yang bilang kalo buku keduanya kurang nendang dibandingkan buku pertama. But I'd give it a try.

Lila

PS. Tau ngga sih, Meg, ini adalah review aneh pertamaku di awal tahun 2014. Maksud hati mo ikut2an stylemu nulis novel ini lewat email, ternyata jadinya aneh gini hahaha. Sudahlah...

2 komentar:

  1. Meg cabot emang okeh!
    Eh nulis review kayak surat gini enak juga ya, kapan2 aku coba ah.. ;)

    BalasHapus