Rabu, 12 Februari 2014

#6 Refrain by Winna Effendi



Ebook format (jar)
Rating 3/5


Blogpost sering kali memacu saya untuk membaca sebuah buku. Demikian juga dengan buku Refrain ini yang saya baca berkat blogwalk. Yang lebih membuat saya membaca sebenarnya lebih pada filmnya yang sukses menyita perhatian saya dengan memasang Maudi Ayunda dan Afghan sebagai bintang utamanya. Kisah cinta tentang antar sepasang sahabat selalu membuat saya terharu biru. 


Nata dan Niki adalah sepasang sahabat yang sudah dimulai sejak mereka usia sangat muda. Mereka tinggal bersebelahan dan selalu berbagi pengalaman, cerita nakal, seluruh kisah pertama kecuali kisah cinta pertama yang masing masing penasaran seperti apa rasanya. Siapakah yang bakal mengalami cinta pertamanya terlebih dulu? 


Dari awal kisah, penulis sudah menyebutkan bahwa ini adalah kisah cinta sepasang sahabat yang tentu saja sudah bisa ditebak dari awal. Siapakah yang jatuh cinta terlebih dulu sudah bukan hal yang menarik lagi (buat saya lo). Tetapi ternyata mengikuti kisahnya masih tetap menarik, meskipun suguhan utamanya tetap saja pada dua N ini. Masuknya orang ketiga, Annalise, untungnya tidak terlalu mengganggu. Dia muncul sebagai pemanis kisah cinta yang tertunda dari duo sahabat ini. Oliver, cinta pertama Niki, setidaknya memberi bumbu sedap akan apa yang tengah dirasakan oleh Nata. 



Sayangnya saya agak terganggu dengan beberapa hal yang sebenarnya tidak terlalu mengganggu tapi mengganggu buat saya. Misalnya saja penulisan nama Annalise yang selalu ditulis secara lengkap meskipun nama panggilanya adalah Anna. Kenapa harus ditulis lengkap? Saya jadi ingat dengan nama lengkap Georgina alias George yang selamanya ditulis George. Dan Anna, disebutkan adalah siswi yang sering kali berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain di luar negeri. Tapi kenapa dia masih belum terbiasa melihat cowok bertelanjang dada, dan salah tingkah melihat kak Dhanny? Bukannya di luar negeri lebih 'terbuka'? Ah, ini hanya gangguan kecil saja kok. Selebihnya baik baik saja.


Sebelumnya, saya menonton filmnya terlebih dahulu dan kemudian penasaran ingin membandingkan dengan bukunya. Saya berharap bukunya akan lebih menggambarkan suasana hati Nata yang galau. Well, nggak sedetil bayangan saya sih  meski yah, cukup mewakili meski tidak terlalu membuat gemas. Sebaliknya, di film, Afghan sebagai Nata cukup bagus merepresentasikan kegugupannya ketika tampil di Pensi, jutek ketika pertama kali tahu tentang Oliver, dan awkward-nya obrolannya dengan Niki, setelah Niki tahu perasaannya. Di buku, Nata cukup terbuka dengan hadirnya Anna, di film, Nata seolah tidak butuh orang lain selain Niki. Sosok Niki dengan seringnya mendapat rapor merah tidak terlalu dapat di wajah Maudi Ayunda. Cantik dan ceria, cukup bagus diperankan oleh Maudi, tapi rapor merah, ngga deh. Tapi pemilihan Maudi sebagai Niki, bagus juga #komennggakjelas .... Haha haha. Ohya, masalah nggak penting lainnya adalah rumah segede rumah pejabat milik Nata dan Niki di film, rasanya kok janggal kalo Nata naik sepeda pergi ke sekolahnya dengan Niki yang hanya modal mbonceng saja. Kebetulan yang sangat kebetulan ketika tahu alasan mengapa mereka tinggal tanpa orang tua di film karena mereka sedang bertugas luar pulau, di tempat yang sama pula. Dengan pekerjaan bagus begitu, saya yakin at least, motor bisa mereka belikan untuk Nata/Niki. Mungkin mereka menyelipkan iklan bike to School kali ya? Hihihi... Di buku lebih terasa naturalnya dengan hadirnya ibu dan adik Niki, dan sosok ibu yang ternyata bersedia berkorban bagi Anna. Ah, buku vs film selalu saja membuat panjang daftar 'dosa2' yang terkadang nggak perlu tapi perlu dibahas  :))


Ini adalah pertemuan saya yang pertama dengan Winna Effendi. I can say that I quite enjoy it. But I couldn't find any special dictions from her but some expressions that have been repeated from many reviewers. Jadi, saya memilih tidak menulis lagi di review saya. But I definitely would have another book of hers to decide whether she can be my teenlit book writer like Stephanie  Perkins. 

Ehiya, ini dia trailer filmnya. Siapa tahu jadi pengen nonton, seperti saya yang kudu nyewa VCD nya di rental, ngga unduh di YouTube loooo :D



3 komentar:

  1. Belum baca dan belum nonton. #teruskenapa
    Eh-eh, tapi cover versi film menurutku bagus juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nonton aja dulu, pan. Nanti baru baca bukunya. Sama enaknya kok.

      Covernya bukunya bagus karena Afghan ato Maudi-nya? :))

      Hapus
    2. HEH! Masa ditanyain bagusan karena siapa. Ya Afghan lah. #plakkk

      Hapus