Rabu, 28 Mei 2014

#20 Murjangkung cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu by A. S. Laksana





Paperback 214 pages
Published 2013 by GagasMedia
Rating 3/5

Absurd. Yang kedua absurd. Dan seterusnya.... 

Ini adalah kumpulan cerpen kedua yang mengusung keabsurdan setelah SKTLA nya Maggie Tiojakin. Dan apa yang tertinggal setelah cerpen terakhir ditutup? Lega. Kenapa lega? Well, karena saya akhirnya kelar juga membaca novel nominasi KLA 2013 ini tanpa saya skip hahaha. Setelah lega, tentu saja merasa absurd, seperti rasa di semua cerpen disini :D

Terdiri dari 20 cerpen yang kesemuanya sudah pernah dipublikasikan di harian kota. Tak satupun cerpen pernah saya baca di salah satu harian yang disebutkan di akhir halaman buku ini. Di salah satu harian, saya tahu bahwa harian ini selalu mempublikasikan cerpen dengan keabsurdan tingkat tinggi dengan ilustrasi yang tak kalah absurdnya. Jadi, saya sudah menyiapkan hati bakal mengalami perjalanan kisah-kisah yang panjang dan belum tentu akan saya pahami.

Cerpen pertama dibuka oleh Bagaimana Murjangkung Mendirikan Satu Kota dan Mati Sakit Perut. Melihat judulnya saja saya sudah sakit perut. Kisah tentang Tuan Mur yang berhasil menaklukkan sebuah kota dan menguasainya terasa seperti sebuah sindiran atas sebuah kota / negara yang lengkap dengan para pengkhianat dan mereka yang lemah akal hingga menyerah pada kekuatan lawan hingga mengharapkan kekalahan Tuannya sendiri. 

Kesembilanbelas cerpen lainnya tak berbeda jauh dengan cerpen pertama. Semua terasa seperti membaca kritik sosial yang disampaikan secara absurd, satir namun kocak. Dari sekian cerpen, yang membuat saya cukup berkerut adalah cerpen Kuda. Bukannya ini yang paling absurd melainkan cerpen inilah yang terasa 'normal' dengan alur dan ending yang saya harapkan melenceng dari nalar saya, namun ternyata saya salah. Bukannya senang, saya justru merasa heran dengan cepatnya saya menangkap ide cerita dan menebak ending cerita. Namun tetap saja, seperti yang lainnya, cerpen ini penuh dengan diksi yang bagus, penuh metafora yang indah.

Ia merasakan semak-semak tumbuh di dadanya, ia merasakan rumput-rumput liar dan tanaman berduri menyakiti jantungnya. Mestinya ia keluar dari ruangan itu sebelum dada dan jantungnya koyak-moyak oleh ilalang dan duri-duri yang meliar di dadanya. (hal. 197)


Selama membaca, saya sesekali tergelak dengan percampuran antara kisah-kisah yang populer dalam dongeng, kisah Nabi-Nabi hingga sejarah politik sampai mitos-mitos yang berkembang di satu daerah. Kisah cinta disini pun disampaikan secara liris nan tragis. Saya malah tak berharap banyak akan menemukan kisah cinta dalam kumpulan cerpen ini. Namun ternyata si penulis tetap memasukkan kisah cinta non romantis disini. Alit, si pesulap yang tiba-tiba merasa dirinya tak lagi berbakat hingga memutuskan menjadi pawang hujan demi melindungi gadis yang ia cintai terbebas dari guyuran hujan. Kisah cinta orangtua juga tersaji disini dengan bumbu gender serta dongeng daerah Sangkuriang. Seto, nama yang beberapa kali muncul di beberapa cerpen, harus menerima mempunyai dua orang ibu dengan ayah yang menjadi ibu. 

Meski saling tak berhubungan satu sama lain, seperti yang saya katakan, beberapa cerpen dengan nama yang sama, mempunyai keterkaitan secara tidak langsung, dengan alur waktu yang saya sendiri bingung. Di satu cerpen dikisahkan Seto mempunyai keluarga, di kisah lainnya, Seto adalah seorang anak dengan dua ibu, dan Seto yang lahir dari rahim pembantu, putra haram majikan yang sekaligus cucu ibunya. Duh.... :/

Overall, meski absurd tingkat 9, saya tetap menikmati kisah -kisah yang tersaji disini. Diksi yang keren itu yang mungkin membuat saya betah berlama-lama membaca, serta menebak-nebak akan bagaimana ending kisah ini dan itu. Tak jarang saya terpekik dengan ending yang tak terduga sambil ngakak tiada henti. Saya bisa mengatakan ini perkenalan saya dengan A. S. Laksono yang ingin saya lanjutkan ke buku berikutnya atau sebelumnya. Oya, si penulis yang ternyata berasal dari Semarang, yang ternyata adalah teman SMA kakak saya, yang dulu dikenal dengan nama panggilan Sulak karena nama belakangnya Sulaksono, ternyata juga anak dari teman pengajian ibu saya di kampung #gapentingbanget... :D :D . Tak heran ada sebuah deskripsi detil dari kota kelahiran saya ini, terselip di salah satu cerpennya.


Kau tahu, tidak setiap kota memiliki bukit dan pantai dan Semarang memiliki keduanya, namun ia berkembang menjadi kota yang tidak bagus dan gampang terendam. Ia terendam oleh banjir di musim hujan, terbenam oleh rob di musim kemarau, dan tenggelam oleh poster-poster dan spanduk-spanduk di musim kampanye. Dulu ia pernah karam secara menyedihkan ketika seluruh pokok tanaman di tepi jalan dan pagar rumah harus dicat warna kuning. (hal. 122)
 Tentang Penulis:

AS Laksana (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 25 Desember 1968) adalah seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan wartawan Indonesia yang dikenal aktif menulis cerita pendek di berbagai media cetak nasional di Indonesia. Ia belajar Bahasa Indonesia di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang (kini Universitas Negeri Semarang) dan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Dia juga menjadi salah satu pendiri majalah Gorong Gorong Budaya.

Laksana pernah menjadi wartawan Detik, Detak, Tabloid Investigasi, dan kemudian mendirikan dan jadi pengajar sekolah penulisan kreatif Jakarta School. Kini dia aktif di bidang penerbitan.

Kumpulan cerita pendeknya, Bidadari yang Mengembara, dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik 2004.

Postingan ini saya sertakan dalam posting bareng BBI bulan Mei 2014 dengan tema KHATULISTIWA LITERARY AWARD 

10 komentar:

  1. Iya, Mbak Lila... absurd tapi suka :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Mbak. Meski mumet tetep suka :)

      Hapus
  2. Setuju ga mbak kalau buku ini yg lebih pantas menangin KLA?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Lun. Dari sekian nominasi, aku baru baca ini. Pulang, banyak yang kecewa ya? :)

      Hapus
  3. Wah jadi pengen baca buku ini, kebetulan Waktu berburu Bahan bacaan KLA saya mencari buku ini gak ketemu , maklum di daerah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga dapat minjem. Buku absurd begini layaknya ga dibaca dua kali hehehe....

      Hapus
  4. hyahahhaa, aku sampe pening baca buku ini XD

    BalasHapus
  5. Biar mumet, tapi aku sssuukaaaa dengan diksinya. Nyastra gitu :))

    BalasHapus
  6. Alis saya juga berkerut baca ini. Hahaha. Tapi suka sih, beliau pandai sekali memberi judul disetiap tulisannya :)

    BalasHapus
  7. duuuh butuh mood yang pas kayaknya ya baca ini... kalo nggak yang ada bisa pusing2 terus XD

    BalasHapus