Selasa, 17 Juni 2014

#22 The Heroes of Olympus #4: The House of Hades by Rick Riordan




Paperback, 627 pages
Published April 2014 by Noura Books
Penerjemah: Rika Iffati Fahirah, Nuraini Mastura, Reni Indardini
Rating 4/5

Akhirnya, saya kembali kecemplung ke jurang Tartarus bersama dua demigod handal Annabeth dan Percy....
Setelah setahun, kembali saya berjumpa dengan perjalanan para demigod Yunani dan Romawi untuk menggagalkan bangkitnya ibu Bumi, Gaea. Dalam buku sebelumnya, ramalan mengatakan bahwa akan ada 7 pahlawan demigod yang akan menempuh perjalanan penuh resiko ini. Di The Mark of Athena, dua sejoli Annabeth dan Percy terjerumus dalam Tartarus setelah berhasil mendapatkan patung Athena Parthenos, simbol yang dipercaya akan mendamaikan dua kubu Yunani dan Romawi. Sementara 5 demigod lainnya, terombang ambing di atas kapal Argo II menuju Gerha Hades untuk menjemput Annabeth dan Percy yang nanti akan diperkirakan bakal bertemu di Pintu Ajal.

Annabeth dan Percy tengah melayang jatuh ke dasar Tartarus yang diperkirakan memakan waktu 9 hari dari permukaan bumi ke Tartarus. Waktu yang cukup lama untuk memikirkan langkah tepat untuk tidak remuk ketika tiba di dasar. Tak ada Jason, putra Zeus yang bisa menerbangkan mereka, tak ada Frank yang bisa menjelma menjadi burung untuk menahan laju jatuh mereka. Yang ada hanya keberuntungan...


Sementara itu, Hazel, Frank, Leo, Jason dan Piper, serta Nico di Angelo dan Pak Pelatih Hedge, si satir, tak kalah repot menghadapi banyak rintangan selama perjalanan menuju Gerha Hades.  Tapi jangan salah, rintangan itu justru membuat mereka menyadari kemampuan yang selama ini tak pernah mereka pikirkan. Hazel misalnya, setelah pertemuannya dengan Hecate, dia baru menyadari jika ia punya kemampuan sihir dan memanipulasi Kabut. Frank, selama ini merasa dirinya tak cukup berharga di mata teman-temannya, terlebih di depan ayahnya, si dewa Perang, Mars atau Ares, ternyata mampu menunjukkan dirinya sehebat anak-anak Ares/Mars lainnya seperti Romulus, Horatius, dll. Jason dan Nico, sebuah hubungan pertemanan yang kaku, tak disangka, pertemuan mereka dengan dewa cinta, Cupid yang ternyata jauh dari bayangan--seram fan galak, mendekatkan mereka berdua. Nico, cowok dari dunia bawah, ternyata memendam perasaan spesial pada...... Duh, ga nyangkaaaa.... Jadi, sedikit simpati pada anak ini. Sikapnya yang tertutup semakin menjauhkan hubungan sosialnya dengan yang lain dengan memiliki perasaan tersebut. Leo, selama ini masih memendam rasa sukanya pada Hazel, hingga kadang membuat Frank cemburu. Lemparan dewi salju sinting Khione, mendaratkannya di sebuah pulau mistis yang dulu pernah disinggahi Percy, dan bertemu dengan gadis cantik yang dikutuk tinggal selamanya di dalamnya, Calypso. Hanya pahlawan yang dikirim ke pulau tersebut, dan hanya mereka yang spesial di hati Calypso yang dapat meninggalkan pulau tersebut. Leo tak dapat menahan perasaannya melihat kecantikan dan keluwesan Calypso dalam bekerja. Masalahnya, apakah Calypso mempunyai perasaan yang sama?

Di Tartarus, Annabeth dan Percy tak kurang kisah serunya. Luntang lantung di perut Tartarus, kelaparan dan kehausan, masih ditambah dengan intaian empousa, alias vampir dan para monster, serta munculnya Tartarus, si dewa lubang itu sendiri. Hanya bantuan yang tak terduga dari bangsa Titan dan raksasa yang membuat mereka bertahan hidup dan memuluskan jalan mereka menuju Pintu Ajal.

Sekali lagi Rick Riordan menyihir saya dengan kisah serunya. Bayangan Dunia Bawah dengan segala aspek seramnya, membuat saya tak kurang bergidiknya dengan Percy dan Annabeth. Begitu juga dengan perjalanan Argo II beserta awaknya, tak jarang membuat saya berteriak kegirangan dan bertepuk tangan ketika terjadi sesuatu yang tak terduga. Sayangnya, di beberapa bagian, saya banyak lupa akan beberapa kejadian yang pernah terjadi sebelumnya, atau monster yang sebelumnya pernah dikalahkan. Meski Riordan kembali mengingatkan peristiwa tersebut, tetapi tetap saja saya lupa. Misalnya, kapan Percy bertemu dengan Bob alias Iapetus, bagaimana Percy menyelamatkan Nico yang dikutuk sebagai jambangan bunga, atau Dewi salju sinting Khione. Yang ada dalam kepala saya hanya ingatan kabur tentang scene tersebut. Terlalu pendekkah daya ingat saya? Atau Riordan terlalu banyak memasukkan kejadian dengan banyaknya karakter utama, dan berganti ganti pula point of viewnya. Bayangkan, tujuh demigod yang dalam beberapa bab akan bercerita tentang apa yang tengah dialami, dengan dewa atau monster siapa yang mereka temui, dan kejadian-kejadian besar atau kecil yang nantinya akan sedikit berhubungan di buku berikutnya. Duuuhhh.... Saya bahkan terkadang lupa si demigod ini putra atau putri siapa hahaha.... Well, overall, saya menikmati perjalanan ke empat para pahlawan Olympus ini. Tinggal satu seri terakhir yang segera menutup kisah seru ini, The Blood of Olympus.  Saya hanya berharap, semua demigod yang bertugas selamat dan Leo menepati janjinya pada Calypso dan Nico, meski tidak masuk dalam 7 pahlawan yang diramalkan juga akan mendapatkan ending yang menarik. Jangan dimatikan pokoknya. Saya sudah cukup terharu dengan pengorbanan Bob dan Damasen di seri ini :-)

Oya, ada sedikit quote menarik di buku ini yang saya ambil ketika Nico bertemu dengan dewa Cinta, Cupid.


Cinta bukan permainan! Cinta bukan kelembutan penuh bunga. Cinta adalah kerja keras --pencarian tanpa akhir. Cinta menuntut segala hal darimu--terutama kebenaran. Hanya setelah itu cinta membuahkan ganjaran  (hal. 302).

Saya pikir ada banyak benarnya Cupid mengatakan demikian. Cinta tak datang dengan mudah tanpa kerja keras, terutama untuk mewujudkannya. Tak jarang, orang tersiksa karena cinta. Cinta bukan lagi keindahan tanpa dibarengi kerja keras. Cinta menjelma menjadi monster yang paling ganas (hal. 305).

Note:
Novel ini saya baca bareng pemenang GA BBI birthday bulan April lalu dari blog saya, Annisa M. Zahro. Silahkan kunjungi blognya untuk mengintip reviewnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar