Sabtu, 02 Agustus 2014

#27 Ways to live forever (Setelah Aku Pergi) by Sally Nichols


Paperback 214 pages
Penerjemah: Tanti Lesmana
Published Maret 2008 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 4/5

Apa yang akan kau lakukan jika hidupmu tinggal satu tahun? Atau lebih pendek, katakanlah, dua bulan? Akan duduk merutuki nasib atau mencoba hal2 yang belum pernah kau rasakan atau lakukan?

Sam Oliver MacKenzie, usia 11 tahun, penderita leukemia akut, mendapatkan ultimatum batas usianya. Tapi bocah malang ini memilih mengisi sisa akhir hidupnya dengan hal-hal hebat yang kita yang sehat pun tak pernah berpikir untuk melakukannya. Sam bahkan memiliki daftar hal-hal yang ingin ia lakukan dan sebagai luapan emosi ketakutan dan kekecewaannya seputar kenyataan hidupnya, ia juga memiliki daftar pertanyaan tentang kematian yang tidak terjawab. 

Bersama temannya sesama penderita kanker, Felix, Sam menyusun daftar keinginannya itu yang kemudian ingin ia wujudkan dalam sebuah buku. Hal-hal yang tadinya serasa tidak mungkin, menjadi kenyataan bersama Felix, diantaranya adalah mencoba menjadi remaja dan melakukan apa yang biasa dilakukan para remaja: merokok, minum bir, dan mempunyai pacar/ mencium gadis. Keinginan yang lain tetap terwujud tanpa Felix karena keinginan kuat Sam untuk melakukannya: turun di eskalator naik, dan naik di eskalator turun. Hahaha... Ga bisa saya bayangkan jika ini saya lakukan di departemen store dekat rumah saya.  


Keinginan Sam yang lain juga diwujudkan oleh orangtuanya dan didukung keluarga serta orang-orang terdekat. Mrs. Willis, guru pribadi yang mengajar 3 kali seminggu adalah sosok menyenangkan, demikian juga dengan Annie, perawat yang rutin datang ke rumah Sam. Sedikit mengharukan ketika ayah Sam yang semula cukup kaku, pada akhirnya mencoba beradaptasi dengan kenyataan. 

Disuarakan oleh Sam dalam bentuk seperti buku harian sedikit mengingatkan saya pada buku yang baru saja saya baca, The Perks of being wallflower. Sam menyuarakan segala perasaannya dalam buku. Tak jarang, saya sedikit kaget dengan beberapa pertanyaan atau pernyataannya seputar kematian. Beberapa diambil dari sudut pandangnya sebagai bocah menjelang remaja, sebagian adalah hasil risetnya dari buku atau Internet, bahkan dia menulis tentang kematian dari sudut pandang agama: Hindu dan Yahudi, serta kebiasaan beberapa negara ketika seseorang mati.

Terus terang, pertanyaan-pertanyaan tak terjawab itu cukup banyak ditanyakan secara umum, hanya beberapa lebih suka menyimpan pertanyaan itu sendiri. Mereka yang berlatar belakang agama tertentu mungkin mempunyai jawaban-jawaban berdasarkan agama yang dianut, tapi tetap saja butuh 'fakta' untuk membuktikannya seperti yang selalu ditulis oleh Sam tentang fakta-fakta di dalam bukunya. Misalnya saja pertanyaan: Bagaimana kita tahu kita sudah mati? Beberapa ilustrasi film seputar kematian adalah terbangnya ruh dari jasad yang dilihat oleh mereka yang masih hidup. Bagaimana dengan si mati sendiri? Wallahu alam.

Suka atau tidak, buku ini mengingatkan kita untuk mensyukuri umur panjang, kesehatan yang kita punya, sekaligus mengingatkan bahwa kematian milik siapa saja, seperti yang ditulis Sam bahwa anak kecil pun juga mati. Sam memberi semangat bagi kita bahwa ada banyak hal-hal positif yang bisa kita lakukan selama hidup. Mewujudkan keinginan adalah salah satunya. 

Trailer film Ways to Live Forever yang rilis tahun 2010. Sam diperankan oleh Robbie Kay
 

Postingan ini saya sertakan dalam posting bareng BBI bulan Juli dengan tema sicklit.

1 komentar:

  1. Dan sudah ada filmnya juga rupanya. Aku kemana aja.

    BalasHapus