Senin, 15 September 2014

#31 Julian Chapter by R. J. Palacio


EBook format, epub
Published May 13th 2014 by Knopf Books for Young Readers
Rating 4/5

Apa yang pernah kau lakukan ketika kau berusia 9-10 tahun? Saya suka sekali mengganggu guru saya yang tergolong cakep saat itu dengan bermain di saat pelajaran, pada waktu beliau keluar kelas sejenak. Menurut saya, dan teman - teman itu boleh dilakukan dan asyik serta membuat keriuhan di kelas itu menggairahkan. Tetapi tidak ketika guru saya marah besar, dan laporan kenakalan saya pun terdengar hingga ke orangtua saya... Dan menyesallah saya, karena laporan itu juga datang dengan rapor yang tidak memuaskan  :(

Julian, di novel Wonder, tidak mendapat bagian untuk mengatakan apa yang ia rasakan seperti beberapa tokoh lain di buku. Wonder mengambil beberapa PoV, selain Auggie, si karakter utama. Julian, bisa jadi dianggap sebagai sosok antagonis di Wonder, tanpa kita tahu kenapa dia melakukan hal - hal yang menjurus pada bullying.


Julian, Jack dan Charlotte mendapat kehormatan menjadi murid penyambut murid baru, sekaligus mengenalkan sekolah mereka pada Auggie. Jack dan Charlotte sudah mengetahui kondisi Auggie, tapi Julian belum. Sebelumnya dikisahkan tentang mimpi-mimpi buruk Julian yang berhubungan dengan fisik, atau tepatnya wajah buruk seseorang. Misalnya Voldemort dengan hidung ratanya, Darth Vader yang berwajah seram, ditambah iklan-iklan sepanjang musim Halloween dengan memasang wajah zombie di tengah tayangan film, serta Gollum, sosok buruk rupa di film Lord of The Ring. Semua itu membuat Julian terganggu dengan mimpi - mimpi buruknya. Semua sempat teratasi hingga suatu hari ia bertemu Auggie Pullman.

Sometimes we hate the things we are afraid of,” she said.

Julian membenci Auggie, tapi apakah ia takut padanya? Selama beberapa saat setelah kedatangan Auggie di sekolahnya, Julian merasa dia tak lagi populer, tak lagi disukai teman - temannya.  Banyak diantara mereka yang cepat berteman dengan Auggie termasuk Jack. Dia bahkan berselisih sengit dengan Jack. Ah,  best friend turned out to be an ex. Segala detil tentang apa yang dilakukan oleh Julian sudah diceritakan oleh Auggie di Wonder.

They were not—I repeat, not —a big deal. They were mostly stupid stuff. I didn’t think anyone would ever take them seriously. I mean, they were actually kind of funny!

Saya pikir, melakukan hal-hal yang mengganggu guru itu suatu hal yang keren. Teman saya beberapa kali dipanggil di ruang guru atau ruang kepala sekolah, tetap saja terlihat cool. Tapi ketika saya yang mendapat giliran duduk di kursi pesakitan karena mendengarkan radio transistor yang ngetren waktu itu di saat guru sedang mengajar di kelas, rasa keren itu lenyap.

Julian menganggap pesan-pesan rahasia yang ia kirimkan ke Auggie adalah hal lucu nan konyol. Sekedar buat lucu-lucuan saja. Tiba-tiba hal lucu ini tak lagi lucu ketika ia beserta kedua orangtuanya harus menghadap Dr. Jansen dan Mr. Tushman. Keduanya adalah teman lama bagi kedua orangtua Julian, tapi keadilan tetap harus ditegakkan. Lenyapkan aksi bullying di sekolah Beecher Prep. OK, adegan ibu-bapak-bela-anak ini disamping menarik juga cukup menyebalkan. Bahkan Julian sendiri menanti, apakah ibunya akan menjadi super mom atau sebaliknya not-super-mom. Sering kali para ibu lebih lama marahnya dibanding para anak2 yang berselisih paham. :D


Meski jauh kebih tipis dibandingkan Wonder, R. J. Palacio tetep sukses memikat jalinan kisah sekaligus emosi Julian. Dia tidak sekonyong-konyong menjadi protagonist ketika dia menjadi main character disini. Buat saya yang pada waktu itu hampir seusia dengannya, rasa menyesal tetap ada. His remorse came in an unexpected way that made me teary. Tidak seperti sinetron yang dramatis yang peniuh isak tangis hahaha… 

2 komentar: