Sabtu, 22 November 2014

#39 Teka Teki Terakhir by Annisa Ihsani




Paperback 256 pages
Published Maret 2014
Rating 4/5

Kau suka matematika? Oke, buku ini sangat tepat untukmu
Kau benci matematika? Buku ini lebih dari sekedar matematika
So, whether you love or despise math, this book is for you :D

Pernah merasakan obsesi yang sangat dalam pada suatu tempat? Saya pernah. Sebuah rumah yang konon ada hantu, genderuwo atau kendit nglewer, pernah menjadi bulan-bulan saya dan teman-teman masa kecil saya satroni sepanjang masa kecil kami. Begitu juga dengan Laura Welman. Berdua dengan kakaknya, Jack, mereka terobsesi dengan rumah tua sekaligus penghuninya di seberang rumahnya. Selama 15 tahun mereka tinggal di rumah itu tanpa pernah Laura dan Jack mengenal penghuninya.  Gossip tentang rumah hantu dan penghuni gila hingga penyihir beredar di sepanjang perumahan Littlewood. Hingga suatu hari…

Pelajaran matematika sebenarnya bukanlah pelajaran yang sangat sulit bagi Laura. Tapi entah mengapa dia mendapat nilai 0 untuk kuis hari itu. Laura yang kesal membuang kertas ulangan berhiaskan angka 0 di tempat sampah tetangga aneh itu. Keesokan harinya, Laura dipanggil si pemilik rumah yang mengembalikan kertas ulangannya plus catatan di dalamnya serta buku tipis berjudul Nol: Asal Usul dan Perjalanannya. Si tetangga belakangan diketahui adalah suami istri James dan Eliza Maxwell. Buku ini tidak otomatis membaut Laura menjelma menjadi pintar matematika, tetapi telah membuka dirinya akan perjalanan suatu pencarian itu sendiri. 

Interaksi awal Laura dengan James Maxwell ini diikuti dengan rangkaian kunjungan Laura ke rumah tua itu. Ternyata tak ada yang aneh dengan pasangan Maxwell ini begitu kau mengenalnya. Laura menemukan ‘surga’nya disana. Buku, berderet buku dengan macam-macam genre yang bisa ia baca atau pinjam kapanpun ia mau. Eliza juga sangat ramah menerima gadis dua belas tahun yang mulai menunjukkan ketertarikannya dengan matematika ini. Jadi siapakah keluarga Mawell yang selama 15 tahun menjadi gossip para tetangga?

Suami istri Maxwell ternyata adalah pasangan Profesor matematika. James, saat ini masih mengerjakan proyek Teorema Terakhir Fermat. Wah, mendengarnya saja saya pusing. Tapi tidak bagi Laura. Dengan penuh rasa ingin tahu, Laura berusaha memahami apa itu Fermat. Perjalanannya membawanya mengenal tokoh matematika dunia, seperti Pythagoras, Pascal, Newton, Euler, Diophantine, Eric Temple Bell, dll. Nah lo, saya hanya mengenal tiga nama yang disebut diatas. Dan itu masih banyaaak lagi nama2 lain yang saya merasa asing. Ya iyalah, matematika bukan bidang saya bangeett :D Interaksi yang intens ini membuat Laura asik hingga melupakan hari special sahabatnya, Katie, dan secara perlahan, keingintahuan tentang Fermat dari James menular padanya…

Sebelum saya membaca buku ini, saya telah membaca review beberapa teman saya yang mengatakan buku ini akan sarat dengan teori matematika. Meski IQ saya tergolong jongkok untuk matematika, tetap saja saya menemukan keasikan membaca buku yang berasa buku terjemahan ini. Bahasa dan nama-nama di buku ini terasa buku ini bukan buku local. Nama Annisa sendiri juga sangat asing. Tapi ternyata, saya sangaaat menikmati buku ini. Saya merasa menonton film keluarga Amerika, dengan kehangatan khas keluarga dan para tetangga. Hampir semua karakter disini loveable meski tetap saja karakter utama yang menarik ada pada diri Laura. Secara tidak langsung, mungkin Laura juga mewakili bocah-bocah seusianya yang penuh rasa ingin tahu, terkadang merasa tak nyaman dengan lingkungan, dan juga merasa tersisih sementara sang kakak sibuk dengan dunia remajanya. Beberapa bagian mengingatkan masa kecil saya seperti yang sudah ceritakan di awal buku. Oya, saya masih teringat, satu review dari teman saya yang menyebut panggilan Tuan dan Nyonya pada Maxwell terasa kurang tepat karena berasa berjarak. Errr…. Awalnya saya berpikir demikian jika ini buku local dengan setting Indonesia. Tapi ketika saya membaca, dan merasakan setting serta hubungan para karakter, terasa wajar-wajar saja panggilan Tuan/ Nyonya ini. IMHO sih :D

2 komentar:

  1. Hwoaa.... Diophantine, Eric Temple Bell... siapa itu mereka? Hahaha....
    *sama-sama buta matematika

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ga cuma aku yg buta nama2 ajaib itu ya. Mo gugling juga nanggung, ga terlalu pengaruh ke ceritanya sih... :D

      Hapus