Selasa, 23 Desember 2014

#45 Click by Nick Hornby, Eoin Colfer, etc


Paperback 228 pages
Published September 2012 by Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Jia Effendi
Rating 4,5/5

Kamera. Klik. Klik. Klik. Berjuta kisah. Haru dan bahagia.

George Keane adalah pusat dari seluruh kisah Klik ini. Setelah kepergiannya, ada banyak cara untuk tetap menghidupkannya layaknya anggota The Beatles atau aktor-aktris yang sudah almarhum. Warisannya cukup simple bagi dua cucunya, Jason dan Maggie, yaitu kamera.tua dan kotak berisi kotak-kotak yang didalamnya terdapat tujuh kerang dari jenis yang berbeda. 'Lemparkan kembali kerangnya' adalah pesan terakhir Gee, panggilan akrab si kakek, untuk Maggie.

Usai membaca kisah pertama ini, saya berpikir bakal menemukan petualangan Maggie ke tujuh samudra/ laut yang berbeda. Seru, pikir saya. Ternyata saya salah...

Kisah kedua menceritakan tentang Annie, gadis setengah ikan duyung, yang Gee temui di sebuah tempat eksotis. Saya tak menyangka bakal menemukan Gee dalam kisah, dan bukan Gee yang dikisahkan oleh sang cucu. Petualangan Gee melanglang dunia diceritakan dalam alur maju mundur, baik yang ia ceritakan sendiri, atau dikisahkan seseorang yang mengenal Gee. Lev, penghuni penjara termuda, mempunyai kenangan tak terbatas akan Gee. Demikian juga dengan Vincent atau Vinnie. Ramalan sang nenek tentang cucu bernama Jason dan Maggie disebutkan bahkan sebelum Gee menikah! Tak jarang, kenangan akan Gee ini hanya berupa benda yang ia wariskan pada sang cucu. Kamera bagi Jason, sebelumnya adalah aset yang akan membawanya ke ayah kandungnya, tapi surat dari Gee justru membuyarkan keinginannya. Sayangnya, misteri tentang wanita lain yang kemungkinan mewarnai kehidupan Gee di belahan Eropa, tak mendapat porsi di seluruh cerita Klik ini. (Atau saya aja yang sotoy ga ngerti ending di kisah itu ya?)


Membaca sepuluh cerita dari penulis yang berbeda, bagi saya, tak terlalu terlihat berbeda dari gaya penceritaan. Barangkali jika saya membaca versi aslinya akan terasa berbeda. Masing-masing kisah menyimpan haru yang sama. Tak jarang, mata saya berkaca-kaca di lembar terakhir satu kisah. Di setiap kisah, Gee selalu ada tanpa harus menjadi sentral. Sayajadi mengenal satu sosok yang familiar yang sangat sayang harus pergi ketika saya mengakhiri novel ini...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar