Senin, 29 Desember 2014

#46 The Curious Case of Benjamin Button by Scott Fitzgerald



Paperback 92 pages
Published by BukuKatta
Rating 2,5/5

Sensasi membaca buku setelah menonton filmnya itu memang beda. Ada yang terasa bukunya lebih hilarious, ada juga sebaliknya, terasa monoton. Parahnya si aktor ganteng dan cantik membayangi sepanjang proses baca.

Tahun 1860, lahirlah bayi dari keluarga Button. Si ayah, Roger Button, adalah orang sangat terpandang secara sosial dan ekonomi di Baltimore. Tentu saja kelahiran bayi ini menjadi berita utama yang sangat diharapkan masyarakat. Sayangnya, si bayi lahir tidak seperti yang diharapkan orangtuanya. Ada yang aneh pada Button junior dari wajah hingga tubuhnya. Benjamin, nama si bayi, lahir dengan wajah renta dan tubuh bongkok layaknya orangtua berusia 60-70 tahun. Dan ajaibnya, si bayi langsung bisa berteriak minta ini dan itu.

Roger Button tak bisa menyembunyikan Benjamin. Maka sangat aneh ketika mereka tampil di muka umum, mana si ayah dan mana si anak. Masalah mulai timbul ketika Benjamin memasuki usia sekolah umumnya dihitung dari tahun kelahirannya. Wajah dan tubuhnya, serta pikirannya tidak seperti anak seusianya. Penolakan sekolah harus dialami Benjamin, tapi tidak di kehidupan bercintanya. Dia berhasil meminang gadis tercantik di Baltimore, Hildegarde Moncrief, ketika ia berusia 50 tahun.

Keanehan lain terus mewarnai kehidupan Benjamin. Semakin tahun, semakin muda parasnya, semakin kuat tubuhnya, semakin gila ia bekerja. Kebingungan antara mana si ayah dan mana si anak, kembali terulang dengan lahirnya Roscoe yang lahir normal. Pergolakan ekonomi dan politik mengalihkan perhatian Benjamin dari kehidupan cintanya yang mulai timpang seiring bertambahnya umur pasangan ini. Tahun demi tahun berlalu dengan kesuksesan dan kemunduran bagi Benjamin Button.


Saya sudah menonton filmnya jaauhhh dari saya tahu bahwa film ini berdasarkan buku. Meski bertahun berlalu, ada yang terus membekas dalam pikiran saya tentang film ini. Bukan lain karena kasus unik yang dialami Benjamin . Mungkin juga karena faktor aktor utamanya. Brad Pitt coakeeeppp bwangeeddd pas dia usia muda. Bahkan saya sempat membandingkan antara Benjamin usia.muda dengan film2 Pitt lain ketika ia muda. Misalnya Seven Years in Tibet dan Legend of the Fall. Ya ampun... Perssiiiss banget... Yah, kenapa saya jadi membahas Brad Pitt-nya yaaaaa :D

Oke, balik lagi ke review bukunya.

Ini adalah pertemuan saya yang pertama dengan Fitzgerald. Kesan saya membaca buku ini sangaat biasa. Tak ada yang istimewa. Dari alur hingga gaya penceritaan, lempeng saja. Tak ada dramatisasi yang membuat saya sebagai pembaca merasa wooww.. Diksi juga tak istimewa, mungkin karena saya membaca versi terjemahan ya? Sementara versi filmnya saja membuat saya terbayang bayang selama ini. Visualisasi filmnya memang luar biasa keren meski saya lupa di beberapa bagian. Saya tak tahu apakah diksi biasa dan gaya penulisan tanpa bunga-bunga dramatis memang menjadi khas Fitzgerald. Ketika saya membaca bonus kisah setelahnya, saya mulai meragukan keoptimalan otak saya yang tak kunjung paham kisah yang hanya beberapa lembar itu. Dikemas dalam bentuk drama panggung, Tuan Icky dan Porselin dan Merah Muda benar-benar membuat saya tersesat. Siapa saja karakter utama dan plotnya, ga jelas buat saya. Belum lagi typo-typo aneh yang membuat saya menghentikan proses baca buku ini. Dari mulai nama yang harusnya Jemima, menjadi Jemina, dan typo lainnya.

Ini dia trailer filmnya yang dibintangi Brad Pitt dan Cate Blanchett yang dirilis tahun 2008

PS.

Postingan ini saya sertakan dalam posting bareng BBI Desember 2014 dengan tema bukuKatta

2 komentar: