Kamis, 11 Desember 2014

#43 Pangeran nan Bahagia by Oscar Wilde


Paperback 114 pages
Published Agustus 2010 by PORTICO Publishing
Penerjemah Ratna Setyaningsih
Rating 3/5

Buku tipis ini terdiri dari 5 kisah pendek. Dimulai dari Pangeran nan Bahagia. Kisah ini entah mengapa sedikit nostalgic buat saya. Apakah saya pernah membacanya di suatu tempat? Mungkin saja karena buku ini termasuk kisah klasik yang bisa jadi diceritakan ulang berkali kali dengan versi yang sedikit berbeda.

Berkisah tentang patung pangeran yang indah nan kemilau. Semasa hidupnya (sebelum si pangeran diabadikan sebagai patung), sang pangeran sangat sangat bahagia hingga tak pernah melihat keprihatinan rakyatnya. Setelah menjadi patung dan diletakkan di tempat tertinggi kota, si pangeran akhirnya melihat kenyataan yang berbeda dari dalam tembok istana. Berteman dengan burung layang-layang, sang pangeran menebus apa yang seharusnya ia lakukan semasa hidupnya

Kisah kedua adalah Kisah Burung Bulbul dan Mawar Merah. Seorang pelajar muda jatuh cinta pada seorang gadis yang hanya akan bersedia berdansa dengan seorang pemuda yang membawa mawar merah. Cuaca saat itu hanya mampu menumbuhkan mawar putih. Butuh pengorbanan seekor burung Bulbul untuk sebuah mawar merah. Hiksss.... Sediiiih...


Kisah ketiga tentang Raksasa yang Suka Mementingkan Diri Sendiri. Kisah anak-anak ini tentang raksasa yang tak mau bergaul dengan anak-anak yang suka bermain di kebunnya. Hasilnya, ia kena kutuk. Beberapa lama, kebunnya mengalami salju tiada henti. Tak ada anak-anak bermain untuk menghangatkan cuaca.

Kisah keempat berjudul Teman yang Setia. Bercerita tentang tikus air yang bawel, dan kisah tentang persahabatan dari burung nuri. Kisah itu sendiri adalah hubungan persahabatan tidak seimbang antara Tukang Giling dan anak kecil, Hans. Hans kecil sering dimintai pertolongan atas nama persahabatan oleh tukang giling tanpa pernah mendapat imbalan. Apalagi imbalan kesetiaan seorang sahabat #nyesekdibagianini...


Kisah terakhir tentang Roket yang Hebat. Roket yang sangat sombong diantara kembang api, yang akan diluncurkan pada saat perayaan pernikahan sang pangeran. Apa daya, si roket yang angkuh menjadi lembab karena sesuatu hingga ia batal diluncurkan. Alih-alih dirinya dibuang di sungai. Bertemu dengan beberapa binatang dengan karakter hampir mirip dengannya.

Kisah-kisah di kumcer ini terasa ringan namun sarat dengan sindiran halus dan petuah-petuah sederhana. Misalnya percakapan berikut ini:

Si kodok: ... Aku senang dengan percakapan kita, kujamin.
Si roket: percakapan? Benarkah? Kau telah berbicara sendiri sepanjang waktu. Itu bukan percakapan.
Si kodok: Seseorang harus mendengarkan. Dan aku suka berbicara sendiri. Itu menghemat waktu dan mencegah terjadinya perbedaan pendapat.

Tokoh-tokoh di kumcer ini rata-rata menggunakan binatang dengan karakternya masing-masing. Karakter disini seolah mewakili karakter manusia dengan sifat yang hampir sama. Adakah yang merasa tersinggung dengan sindiran Oscar Wilde ini? Jika iya, bisa menyimak lebih dalam kisah-kisah kumpulan cerita ini :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar