Jumat, 17 April 2015

Jendela Jendela by Fira Basuki


Paperback 151 pages
Published Mei 2004 ( Cetakan kesembilan) by Penerbit PT Grasindo
Rating 2/5

Pernah membaca buku absurd? Saya pernah beberapa kali. Pernah membaca buku aneh yang ditulis penulis terkenal? Baru kali ini. Membaca buku aneh oleh penulis baru, buat saya tak jadi soal. Tapi kalo yang nulis adalah pemilik nama kondang macam Fira Basuki, dengan endorser penulis beken Arswendo Atmowilo dan Sapardi Djoko D, disitu saya terkadang menjadi merasa aneh...

Awalnya saya pikir ini adalah tulisan seputar pengamatan si aku di buku ini tentang para tetangga dari kacamatanya yang dilihat dari kaca jendela apartemen murahnya. Ternyata saya salah, saudara saudara. Cerita di buku ini berputar di keliling si aku (June). Dari mulai bagaimana ia terdampar di Apartemen murah di Singapura, bagaimana perkenalan ia dengan suaminya yang berasal dari Tibet, bagaimana ia pernah berpacaran dengan anak konglomerat dan mendapat perlakuan kasar, bagaimana ia bisa menjadi seorang istri yang boros yang hobi menjual ini itu dan mendapat maaf dari suaminya yang baik hati, bagaimana seorang sahabat tiba-tiba naksir dirinya dan sempat bersenang senang secara seksual, bagaimana sengitnya ia dengan teman kantornya yang narsis (dan ia juga narsis, karena dirinya, dirinya terus yang ia ceritakan), dan bagaimana bagaimana yang lain. Selama membaca, saya menunggu sesuatu yang 'epic' hingga membuat buku ini mendapat endorsement dari dua penulis kawakan tadi, ternyata ga ada yang istimewa. Informasi tentang ini itu yang terasa nyempil nyempil dipaksa menjadikan buku semakin terasa aneh sebagai buku pertama dari seri Jendela Jendela. Cerita tentang dirinya dan informasi ini itunya terasa tumpang tindih tak jelas. Kalo misal ingin membuat cerita seputar drama tentang dirinya, kenapa ada pendapatnya tentang reformasi 1998 dan kecintaannya membaca buku Jayabaya sekaligus menyitir syair di dalam bukunya lengkap dengan terjemahannya, kekerasan dalam rumah tangga yang dialami seorang teman, hingga sakit yang ia alami secara aneh hingga butuh perawatan seorang 'pintar'. Sebenarnya si aku ini mau ngomong apa sih, hingga bercerita tak keruan begini? Maksudnya mungkin ingin membuat buku ini kompleks dengan isyu isyu di sekitar dan cara pandangnya terhadap sekitar, tapi buat saya itu malah membuat buku terasa 'ajaib', ajaib dengan memutar mata, bukan ajaib membelalak takjub.

Ah, sudahlah. Sepertinya saya sudahi saja review ajib saya ini juga. Perkenalan pertama dengan penulis kondang tidak berkesan baik, jadi bakal butuh waktu lama untuk melanjutkan perkenalan berikutnya dengan bukunya yang lain. Ngga fair juga jika saya menilai buku satu untuk mutu buku-bukunya yang lain. Tapi yang jelas ngga saat ini :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar