Rabu, 22 April 2015

Pay It Forward by Emma Grace




Paperback 256 pages
Published April 2015 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 3/5

Apa yang terluntas dalam benakmu ketika mendengar judul Pay It Forward? Yup, betulll.. Seperti yang dibahas di bagian awal buku ini menerangkan satu judul film tahun 2000 yang dibintangi oleh Kevin Spacey dan Helen Hunt serta Haley Joel Osment. Entah berapa kali saya nonton film ini, sendiri maupun bersama murid-murid saya. 5 bintang untuk film ini, sayangnya endingnya bikin mewek tiada henti. Dan bagaimana dengan buku yang mengambil judul yang sama dengan film yang disutradarai oleh Mimi Leder ini?

Gitta atau Anggitta Nathanael adalah seorang mahasiswi jurusan desain disebuah universitas di Jakarta. Ia tinggal bertiga dengan ayah dan oma-nya, Oma Helen. Satu hari, ia bergabung dengan satu permaianan berantai di media social Facebook yang bernama Pay It Forward. Seperti halnya di film, permainan ini juga akan menjalar, mengembang layaknya bisnis MLM, dengan tujuan memberi sesuatu yang akan memberi kebahagiaan bagi mereka yang bergabung. Dalam status Facebook seorang teman, Gitta bersedia bergabung. Dan ia pun meng-copy paste kan status yang sama di dinding Facebook-nya dan menanti 3 orang pertama yang bersedia bergabung. Diantara 3 itu, terselip nama Tedjas, seseorang yang pernah Gitta, enggg…apa ya? Benci sih ngga… tapi yang jelas ia pernah mendapat pengalaman kurang enak dengan cowok ini di awal masa kuliahnya dulu. 

Tedjas Hadisukmana, alias Tedjas, mahasiswa desain, teman kampus Gitta, adalah seorang mahasiswa yang angin-anginan. Masuk kuliah seperti angin. Beredar di kampus, datang dan perginya seperti angin juga. Belum lagi dengan track record-nya yang pernah di skors dan terlibat kekacauan. Mana mungkin, seorang macam Tedjas, bersedia ikut dalam permainan di media social macam Pay It Forward? Apa dia kesambet ya? :D


Dua orang dengan personality yang bertolak belakang dan kisah keluarga yang berbeda dipertemukan dalam permainan Pay It Forward. Di awal kisah, permainan ini seperti tempelan saja, sedikit kabur dengan masalah keluarga Gitta dan penilaian-penilain ia tentang Tedjas. Untunglah, si penulis cukup konsekuen dengan pemilihan judul Pay It Forward ini, dan tidak mengambil judul lain yang menceritakan kekisruhan keluarga Gitta. Masalah keluarga seperti yang dialami Gitta, sepertinya bukan cerita baru di novel, ataupun di sinetron local. Ramuannya dengan permainan di media social ini yang cukup fresh. Gaya bertutur si penulis pun cukup runtut dengan gaya bahasa yang sesekali puitis. Sayangnya, saya masih kurang menangkap, bagaimana mungkin seorang Gitta yang terlahir dalam keluarga yang cukup berada, dan sepertinya tak ada gambaran ia masuk dapur, karena segalanya tersedia, bahkan mencuci piring pun tinggal memencet bel, dan asisten rumah tangga akan membersihkannya—akan melakukan bersih bersih di rumah Tedjas yang—dalam gambarannya, kumuh? Penilaian Gitta tentang seseorang yang terlahir dengan sendok emas di mulut pada Tedjas juga sedikit mengganggu. Oh, well, kita memang tidak bisa menilai seseorang dari penampilannya, tapi  impression macam gini kan bisa kita bandingkan dengan impression orang lain, dengan Kartika misalnya atau siapa saja. First impression memang sering kali salah, tapi bagi saya sih, tapi untuk kemudian dijadikan bahan makian, ehhhmmm….sepertinya Gitta ngga gitu deh. Dia lebih sopan dari yang sebelumnya saya pikirkan, ternyata tidak. Bumbu cemburu di bagian akhir kisah juga terlalu klise, sering terjadi di banyak novel romens. Saya ngga banyak baca novel romens sih, tapi yah, kejadian macam gini sepertinya jadi bumbu yang kurang perlu. Pertanyaan, bagaimana mungkin Tedjas, si biang angin bisa tiba-tiba ikut dalam permainan Pay It Forward juga sedikit mengecewakan bagi saya. Hacked accounts memang banyak, tapi kalo yang nge-hack ini macam Cupidity di iklan Cornello, bisa saja yang menjadikan pertemuan kisah cinta mereka. Tapi kalo hackernya sadis? Memajang foto tak senonoh misalnya, dan memberi komen kurang ajar di akun teman, ngirim pesan di inbox yang minjam duit atau apa gitu, nah, itu bisa lebih seru kali….  Lha kok pikiran saya yang criminal ya? Hehehe… alasan Tedjas ingin keluar dari kampus karena kasihan dengan ibunya, juga rasanya terlalu klise. Alih-alih menjadi anak yang ingin dibanggakan ibunya, dia menjadi anak brengsek dengan tujuan segera dikeluarkan dari kampus…ckckckck… Hari gini, bikin usaha kek, kerja sambilan kek, atau apa gitu dari pada bikin keributan di luar. Well, you’re just lucky to get Gitta, Djas.


Ohya, saya cukup suka dengan ide memberi kebahagiaan secara personal dalam permainan Pay It Forward disini. Ide browsing di laman teman demi mendapatkan kado special, benar-benar membuat saya terharu. Ngga kebayang jika saya yang beruntung. Saya bakal majang foto-foto Hyun Bin atau Hiroshi Tamaki, biar di kado film-film mereka huakakakaka… Sebagai debut novel, Emma Grace cukup menjanjikan untuk memberi warna di dunia literasi tanah air. Omedetou gozaimasu!
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar