Senin, 11 Mei 2015

A Monster Calls by Patrick Ness


Epub format, 126 pages
Published May 5th, 2011 by Walker
Rating 4/5

Because humans are complicated beasts. How can a queen be a good witch and a bad witch? (The Monster, page 116)

Pernah kau merasakan dua perasaan yang sangat bertentangan dalam dirimu? Satu sisi, kau ingin tampil manis, di saat lain kau ingin menunjukkan sisi sebaliknya? Hmmm... Saya pernah...

Menyayangi seseorang dengan teramat sangat, terkadang membuat kita mempunyai dua wajah yang berbeda. Conor, sehari hari dikenal sebagai anak pendiam di sekolah, dengan tiga teman sekolah yang 'langganan' mem-bully-nya. Satu orang, Lily, mantan sahabat kecilnya, menjauh seiring berita sakit ibu Conor yang menyebar di sekolah. Bukannya tidak menyadari parahnya sakit si ibu, Conor berkali-kali menyangkal bakal kehilangan ibunya.


Dalam kesendiriannya, Conor setiap pukul 12.07, selalu didatangi monster jelmaan pohon yew yang tumbuh di halaman rumahnya. Mereka ngobrol, tidak dengan akrab, melainkan saling menyangkal kenyataan masing-masing. Si Monster berkeras dirinya hadir atas keinginan Conor, Conor menyangkal dirinya butuh monster untuk mengalihkan kesedihannya. Itu hanya mimpi buruk, mimpi buruk yang selalu meninggalkan bekas kehadirannya secara nyata di lantai kamarnya!

Saya sempat merasa 'dramatis' dengan komen-komen teman saya di group mengenai buku ini. Saya menunggu saat dramatis dimana saya bakal mencucurkan airmata, sambil memukul mukul dada, saking pahitnya kisah ini. Tapi ternyata, saya tak mengalami fase dramatis itu. Oke, ini memang bukan kisah anak-anak biasa, yang berawal sedih dan berakhir bahagia, melainkan sepanjang kisah, kita disuguhi kisah pahit-namun-realistis, baik dari kisah Conor, maupun kisah-kisah yang diceritakan oleh si Monster. Di dunia ini memang penuh kisah pahit yang siapa saja mengalaminya. Ketakutan akan kehilangan seseorang, sering kali malah menjebak kita untuk 'menghilangkan' orang itu didalam pikiran kita sendiri. Jujur dan berani menghadapi kenyataan justru datang dari 'monster baik' dalam diri sendiri. Ah, Patrick Ness ini menyindir sisi kemanusiaan kita dari kisah di buku ini. :|

Tidak ada komentar:

Posting Komentar