Jumat, 29 Mei 2015

A Thousand Splendid Suns by Khaled Hosseini



Paperback 507 pages
Published Desember 2010 by Penerbit Qanita
Cetakan 1, Gold edition
Penerjemah: Berliani. M. Nugrahani
Rating 4/5

Hati pria sangat berbeda dengan rahim ibu, Mariam. Rahim tak akan berdarah ataupun melar karena harus menampungmu. Hanya akulah yang kau miliki di dunia ini, dan kalau aku mati, kau tak akan punya siapa-siapa lagi. Tak ada siapapun yang peduli padamu. Karena kau tidak berarti!!

Ancaman Nana, sang ibu, pada Mariam terbukti. Ketika Mariam kecil, nekad menjumpai sang ayah, Jalil, di rumahnya yang megah, dimana ia tinggal bersama para istri sahnya, Nana pun merana, dan mengakhiri hidupnya. Tinggallah Mariam, si harami kecil, sendiri. Kehidupannya pun secara dramatis berubah.

Usia 15 tahun, ia dinikahkan secara paksa oleh ayahnya. Suaminya, Rasheed, adalah pria belasan tahun lebih tua dibanding dirinya. Rasheed adalah duda, dengan kenangan putranya mati tenggelam. Tak heran, ia berharap mendapat seorang putra dari Mariam. Sayang, Mariam tak bisa memberi harapannya. Rasheed yang semula terlihat lembutpun berubah. Kasar, suka mencaci dan menghina Mariam.

Laila, tetangga sebelah Mariam, lahir ketika Mariam sudah mulai menderita dibawah siksaan suaminya. Laila lahir dari keluarga terpelajar, dari ayah seorang guru, dengan dua kakak laki-laki yang sempurna dan ibu yang penyayang. Sayang, perang mulai mengikis kebahagiaan mereka. Dua kakaknya mati syahid di medan perang, sang ibu yang tak bisa menahan kesedihan hingga menelantarkan Laila. Yang tinggal hanyalah sang ayah, dan Tariq, sahabat kecilnya yang pincang.


Perang yang melanda Afghanistan mempertemukan Mariam-Laila. Pergantian pemerintah, dari mulai pendudukan komunis Soviet, perang Massoud-Mujahidin, hingga pemerintahan Taliban, silih berganti menguji mereka. Kehilangan orang-orang yang dicintai, harta benda, hingga harapan masa depan, semua terenggut karena perang. Mereka menjadi saksi sejarah bagi negara mereka dengan segala gejolak, luluh lantak hingga kembali menata diri. Airmata terus menerus mengalir, badan remuk redam dengan siksaan, hingga hati terluka karena cinta dan pengkhianatan.

Seperti sudah saya prediksi, saya harus mempersiapkan hati selama membaca buku lumayan bantal. Semula, saya memang menghindari diri dari segala bentuk spoiler hingga saya pun hanya tahu ini adalah kisah tentang perang Afghanistan, dan bukan tentang dua wanita Afghanistan. Setelah kisah dibuka oleh kisah Mariam, yang dikisahkan dari sudut pandang Mariam, di bab berikutnya, barulah kisah tentang Laila dimulai. Kisah suram menyelimuti kisah Mariam, sebaliknya, kisah lumayan ceria dan penuh pengharapan serta cinta kasih ada pada kisah Laila. Kisah cinta Mariam-Rasheed, terasa pahit dan timpang, kisah cinta Laila-Tariq terasa normal dan serasa bukan terjadi di negara yang melarang hubungan laki-wanita non muhrim. Manis dan hangat. Perpisahan keduanya, nantinya pun terasa menyakitkan. Semua karena perang.

Selama membaca buku ini, saya teringat dengan kisah perjalanan Agustinus Wibowo, penulis perjalanan Afghanistan, Selimut Debu. Jika kisah perjalanan Selimut Debu itu terjadi sekitar awal tahun 2000an, kisah di novel kedua Hosseini ini terjadi jauh sebelumnya hingga tahun dimana Agustinus menginjakkan kakinya di Afghanistan. Sisa-sisa pendudukan Taliban terasa menciutkan nyali, tak terbayang ketika Taliban sedang berkuasa. Pendudukan mereka adalah kematian bagi kebebasan kaum perempuan Afghanistan. Larangan ini dan itu, serta ancaman hukum cambuk menyisakan keterpurukan para perempuan seusai pemerintahan Taliban.

Di Seli2mut Debu, dikisahkan hancurnya dua saksi sejarah nenek moyang Afghanistan di Bamiyan, pusat kebudayaan Buddha yang sangat tinggi hingga akhirnya jatuh ke tangan pemerintahan Islam pada abad kesembilan. Laila-Tariq-Hakim, ayah Laila pernah menginjakkan kakinya disini. Meski kisah ini fiksi, jadi terasa nyata ketika Agustinus menceritakan hancurnya relik sejarah ini dalam pemerintahan Taliban. Dan percaya atau tidak, airmata pertama saya justru tumpah disini. Buat penyuka kisah sedih, mungkin dari awal kisah ini sudah menawarkan kesedihan yang menjanjikan airmata. Di beberapa bab, cukup banyak juga adegan mengejutkan yang membuat saya mengelus dada, dan tak sadar beristighfar.

Overall, kisah dua wanita Afghanistan menjadi semacam prolog atau pelengkap jika sebelumnya saya membaca Selimut Debu. Sama-sama heartbreaking meski indah dalam penyampaian kisah. Yang tak kuat membaca adegan KDRT, saya sarankan tak usah membaca ini karena saya sendiri sering skip selama proses penyiksaan suami ke istri ini. Tapi kisah ini terlalu sayang dilewatkan bagi pecinta novel bestseller dan menjadikan penulisnya masuk ke dalam 100 tokoh paling berpengaruh di dunia tahun 2008 versi majalah Time.

Postingan ini saya buat dalam rangka posting bareng BBI bulan Mei 2015 untuk tema HAM

2 komentar:

  1. aku nangis darah baca buku ini... miris tapi juga bagus banget buat pengingat betapa masih banyaknya wanita korban kekerasan di dunia ini...

    BalasHapus
  2. belum punya hati untuk baca karya KHosseini yang manapun. baca sinopsis n bbrp review aja udah nyesek berasa susah napas.... :'(

    BalasHapus