Jumat, 06 November 2015

Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali by Puthut EA


Paperback 160 pages
Published by Insist Press 2009
Rating: 5/5

Belum pernah saya sebegitu menikmati sebuah kumcer hingga sakau di akhir cerpen. Dimulai dengan membawa buku ini ke kantor, karena saya bakal nganggur 100% kalau saya tidak membawa buku, meski seringkali buku itu tidak terbaca hahaha... Membaca cerpen pertama dengan judul yang sama dengan judul kumcer ini, I was totally hooked. Tak peduli kegilaan saya dengan Jdorama yang sedang saya tonton, buku ini menjadi oase di tengah kebosanan romens di dorama mwahahaha...

Satu hal yang menjadi ciri khas dari seorang Puthut EA adalah kisah-kisah realis yang liris. Gaya bahasa yang tak perlu diksi puitis, bahkan sesekali bahasa Jawa yang dibahasa-Indonesia-kan, menunjukkan bahwa cerpen yang mungkin termasuk nyastra ini (karena banyak perdebatan tentang istilah sastra), tidak memerlukan diksi sulit, dan ending kisah yang membuat si pembaca bertanya, "Heh!? Maksudnya?!" Satu garis merah dari satu kisah ke kisah lain adalah sejarah kelam negeri ini di masa komunis, dan sesudah komunis bahkan jauh sesudah masa kelam itu berlalu. Dosa-dosa masa lalu serasa tak terhapuskan seberapa berat siksaan yang telah ditanggung. Di kumcer pertama, ada seorang bapak yang begitu mengidamkan membaca karya Pramudya Ananta Toer. Fotokopian bukunya, rela ia bayar. Si aku, si pemberi fotokopi yang tak rela dibayar. Hingga muncul adegan macam begini:
Ia menarik uang itu, mengembalikan ke dompetnya, lalu mengeluarkan uang dua puluhan ribu tiga lembar. "Mungkin kamu tidak enak karena menukar buku Pram dengan uang bergambar musuhnya," ucapnya sambil kembali menyelipkan uang ke sakuku lagi. (hal. 7)

Saya untung bisa menahan tawa di kelas sambil geleng-geleng kepala...


Dari 15 cerpen, kisah seputar sejarah kelam sebelum orde baru mendominasi topik cerita. Tak peduli si aku sebagai pelaku, si aku sebagai pendengar, atau si aku bisa saja laki-laki atau perempuan. Kisah remeh temeh tak luput dari ide cerita. Obrolan dua laki-laki di sebuah vila, semacam obrolan remeh temeh yang sering kali kita obrolkan. Tentang kegalauan, tentang keluarga, pekerjaan, pasangan, dan lainnya (Obrolan Sederhana). Isu agama yang ditolak di negeri ini, meski memiliki ritual berdoa yang sama dengan penganut agama mayoritas disini, menyisakan sesak di dada (Doa yang Menakutkan). Pengalaman masa lalu, yang kebetulan saya alami, menjadi semacam nostalgia ketika membacanya. Rezim orde baru yang mewajibkan menonton film G30S/PKI waktu itu membuat saya terkenang masa sekolah dulu. Imajinasi liar bocah setelah menonton film ini, tak luput menjadi kisah menarik. Membayangkan rumah kosong dengan sumur di belakangnya, menimbulkan rasa takut berbalut imajinasi liar (Rumah Kosong). Ah, Puthut EA, semua kisahnya bertenaga, hingga cerpen terakhir yang membuat saya menutup dengan perasaan galau. Ngga bisa lebih banyak lagi cerpennya? :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar