Jumat, 27 Mei 2016

A untuk Amanda by Annisa Ihsani




Paperback 264 pages
Published 2016 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 4/5

Apa itu distorsi kognitif? Apa pula distorsi kognitif Meramal Nasib? Jangan jangan saya juga mengalaminya? Apa saya termasuk depresi dan butuh Zoloft?

Ehhmmmm... Dalam review di otak saya yang sibuk membuat lesson plan dan terjemahan yang menunggu serta kepo terhadap satu komik yang efeknya belum hilang,  saya rasa review ini bakal penuh curcolan saya. Hmppp..

Amanda,  gadis SMA yang merasa selalu beruntung karena selalu bisa menjawab pertanyaan guru di kelas, sayangnya merasa dirinya menjadi penipu ulung. Dia merasa dirinya tidak pintar, meski IP nya selalu 4.0; tidak cantik, meski sahabatnya bilang ia cantik dan menjadi pacarnya; malas meski ia mati-matian membuka buku pelajaran nya dan mengerjakan pe-er setiap saat. Apa dia haus prestasi? Atau haus pujian? Atau mungkin haus perhatian dari teman sekolahnya yang dipenuhi gadis dan cowok populer!? Pertanyaan yang terus bergumul di benak Amanda ini yang kemudian membawanya ke psikiater.


Sebagai novel young adult, novel ini sangat jauh dari romens cinta-cintaan, meski yah, ada beberapa bagian ketika Amanda hilang separuh dirinya ketika ia putus dari Tommy. Alih-alih romens menye-menye, novel ini mengajak saya berpikir yang ditujukan pada diri sendiri.  Sebagai guru, meski terkesan cuek, saya merasa excited ketika mendengar kelas ini atau itu mengharap saya kembali mengajar kelas itu lagi. Teriakan excited murid  ketika saya kembali ke kelas itu membuat hati saya mekar. Haus kah saya akan perasaan macam ini? Bagaimana jika satu kelas tertentu menolak saya? Hmmmm.... hidup saya tidak berubah.  Tak ada yang berubah di diri saya atau kelas yang menolak dan diajar guru yang lain. Di satu sisi, perasaan ditolak ini cukup menyakitkan tapi hidup saya tetap bergerak. Sedangkan Amanda,  ketakutan akan distorsi kognitif meramal nasib ini membutuhkan seorang psikiater.  Hmmm... Ada sedikit rasa bahagia dalam diri keuangan saya yang aman dari rentetan konsultasi dengan psikiater hahaha....

Amanda menjadi depresi karena ia feminis dan agnostik? Well, saya bukan feminis seperti itu. Duluuu saya sempat tertular bacaan kakak saya yang sangat feminis. Sedikit banyak 'paham' feminis itu masuk dalam kepala saya. Terus apa saya depresi? Oh, hidup saya berlanjut kok. Banyak teman kantor yang usianya di bawah saya yang menikah dan memiliki keluarga dan bercerita ini itu tentang keluarga,  yang jelas jelas bertentangan dengan feminis, saya memilih diam. Daripada dikatakan saya belum berpengalaman bla bla bla, saya memilih menutup kuping saya dengan headset :D Suara Eric Martin atau Taka One OK Rock lebih enak didengar daripada mendengar "Kata suamiku, .....", " suamiku mana mau mengerjakan ini itu, ..". This is my own judgment,  got nothing to say, well say it..... Gitu lagunya One OK Rock wkwkwkwk....

Speaking about agnostic. Hmmmm….. saya mengenal kata ini duluuuuu ketika salah satu materi pelajaran membahas tentang agama (tsaaahhh…berat amat bahasannya yak?). Salah satu vocabulary yang harus dicari kamus adalah agnostic. Meenurut Advanced English Dictionary, agnostic means:
1.       As a Noun. someone who is doubtful or noncommittal about something
2.       As a noun: a person who claims that they cannot have true knowledge about the existence of God (but does not deny that God might exist)

Saya bukan seorang agnostic, saya berusaha tetap berjalan ‘di jalan yang lurus’ seperti doa saya selama ini. Tapi saya akui, iman saya ajeg, tak bertambah tak berkurang. Tetap di jalan yang lurus, menurut saya itu sudah aman. Saya melihat orang-orang di sekitar saya yang bertambah imannya dengan sangat drastic hingga saya nyaris tak mengenalnya. Saya juga melihat orang-orang di sekitar saya berubah keyakinan. Tapi ada juga mereka yang mengubah keyakinannya sekedar ‘percaya’ saja, atau bahkan ‘tidak lagi percaya’ hingga segala formalitas yang wajib dikerjakan sudah dilepaskannya. Nothing to lose. Mereka punya jawaban jika ada serangan menanyakan pada mereka akan kehidupan setelah mati. Tak ada lagi hal yang bisa menggerakkan hati mereka, hingga apapun yang terjadi, mereka tetap berjalan di jalan itu. Apakah mereka membutuhkan psikiater seperti Amanda? Saya pikir hidup mereka tetap berjalan. Senyum, dan rileks menghadapi hidup tetap ada pada mereka. Agnostic bukan alasan yang tepat bagi Amanda untuk menjadi depresi, menurut saya.

All in all, buku ini muatannya berasa ‘berat’ dengan sentuhan agnostic, terutama untuk bacaan di Indonesia. Banyak yang kurang suka dengan buku kedua Annisa ini, kalo sih seneng-seneng aja, justr mengemblaikan reading slump saya yang selama beberapa minggu stuck di komik. Gaya bahasa mirip terjemahan, meski terkesan kaku, dan sedikit mengingatkan saya pada buku-uku terjemahan Meg Cabot, itu juga oke buat saya. Agnostic mungkin kurang mendapat ruang buat kalangan tertentu. Tau sendiri, banyak sekali di sekitar kita yang akhir-akhir ini terlihat meningkat imannya dengan banyaknya program reliji di TV, belum lagi social media, atau broadcast tausiyah langsung dari gadget. Tapi bagi saya, sentuhan agnostic ini justru membuat saya berpikir lebih dalam tentang iman saya sendiri yang selama memang ini ‘stabil’ tak beriak :D


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar