Jumat, 13 April 2012

Horeluya (Arswendo Atmowiloto)



Melihat judul novel tulisan Arswendo Atmowiloto ini, pasti banyak yang langsung melihat dua silabel terakhir, Luya, pasti ada hubungannya dengan Halleluya. Demikian juga yang terbersit dalam benak saya pertama kali melihat judul novel ini. Dan itu memang benar. Novel ini sarat dengan segala ketaatan dari sebuah keluarga Nasrani, Johannes Kokrosono (Kokro), Maria Ludwina Ecawati (Eca), yang tak tentu arah dalam menjalani hidup semenjak putri semata wayang mereka, Lilin atau Lin dinyatakan sakit sumsum tulang belakang dan menunggu donor. Meski sarat dengan muatan agama Nasrani, sebagai seorang  Muslim, saya sangat menikmati isi cerita novel ini. Hanya, terus terang, entah mengapa, saya masih tidak nyaman, jika seorang teman kantor saya, yang Muslim—yang enggan memberi ucapan Selamat Natal pada rekan Nasrani—melihat sampul novel ini. Mungkin saya belum siap saja, jika mereka bertanya ini itu, mengapa saya tertarik buku ini hingga membeli lewat online pula.

Sentral cerita ada pada keluarga Kokrosono, yang mempunyai putri yang mengidap penyakit sumsum tulang belakang. Dalam keputusasaan, Kokro beserta istrinya, Eca, dibantu dua adik mereka, Ade dan Nayarana, bersama sama mendoakan, menunggui, mendoakan, menunggui dan kembali berdoa. Ritual harian yang kemudian membuat mereka ‘lupa’ apa saja yang mereka sudah, sedang , atau ragu apa yang akan dilakukan. Kokro, sejak masih muda, sudah menerima apa saja yang terjadi padanya. Pun ketika ayahnya ditembak mati karena dituduh sebagai anggota partai komunis tahun ’65, dia menerima apa yang sudah digariskan. Tapi tidak bagi Naya, sang adik, yang beringas, yang sembarangan, semaunya, namun dicintai banyak orang karena jasanya sebagai pelindung daerah sekitar dari gangguan preman atau orang2 pemerintah kota. Meski. demikian, cintanya tak terperikan pada sang ponakan yang terbaring tak berdaya. Segala pertanyaan yang menghujat Tuhan, mengapa kakaknya yang begitu baik, iparnya yang berdoa tak henti, ponakan yang tak berdosa, harus menanggung semua beban itu? Mengapa bukan mereka yang hidup tak lurus tidak dihukum Tuhan dengan beban semacam ini?  Mengapa penyakit mematikan yang biasa menyerang mereka yang berkulit putih harus menyerang Lin mereka, yang bukan keturunan kulit putih?
Berderet kalimat2 pertanyaan yang dijawab atau dibiarkan tak terjawab oleh penulisnya, membuat dada saya sesak. Tanpa disadari, pertanyaan yang sama biasanya juga terlintas dalam pikiran saya atau orang banyak pada umumnya. Hujatan dengan kata ‘mengapa’ sering ditujukan pada Tuhan. Apakah Tuhan menjawab?  Ada banyak dimensi dimana pertanyaan itu terjawab atau tidak. Yang bisa dilakukan adalah berdoa. Karena memang itu satu2nya yang bisa dilakukan dan menenangkan, kata Eca.

Membaca buku ini sebaiknya dalam kondisi sepi, sendiri, sehingga jika dada anda sesak, anda bisa bebas mengusap airmata yang tiba2 menggenang. Atau ketika potongan adegan yang sebenarnya lucu, tapi terasa pahit, anda bisa juga bebas tertawa. Seperti ketika Naya makan nasi goreng, yang tidak jelas siapa yang memasak, dan ternyata tidak bergaram. Eca dan Ade hanya saling berpandangan.  Siapa yang memasak. Mata tiba2 mengabur ketika potongan adegan Naya yang kasar membuatkan perayaan Natal yang dia buat meriah, tanpa menunggu tanggal 25 Desember, karena takut Lin tak lagi bisa mencapai tanggal 25 Desember. Pesta meriah, dengan kereta, Bunda Maria yang hamil tua dan salju—sesuatu yang sangat diidamkan Lin.

Well, ini baru pertama kali buat saya menulis book review tanpa menyelesaikan bukunya terlebih dahulu. Karena terus terang, ketika membaca buku ini, pikiran saya pun  terimbas kekosongan pikiran para tokoh dalam novel, yang melakukan pekerjaan, tanpa sadar apa yang kereka lakukan. Sementara saya membaca juga dengan debar yang sama, akankah derita Lin akan berakhir? Novel ini ringan, akan tetapi, bukan Arswendo namanya jika ia tak bermain kata2 efektif yang mampu membuat dada saya sesak, serta tak lupa rima yang indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar