Kamis, 26 April 2012

PROM AND PREJUDICE



 Published January 1st 2011 by Scholastic, Inc.

Pernah nonton film Pride and Prejudice yang dibintangi Keira Knightley atau membaca novel karangan Jane Austen? Kalo iya, novel ini adalah versi teenlit dari kisah klasik ini. Namanya teenlit, tentu saja para tokohnya juga para ABG. Yang namanya teenlit, tentu saja bahasanya juga sangat gaul, ringan, dan tidak berpanjang-panjang seperti versi originalnya. Seorang teman saya yang membaca versi terjemahanya mengatakan bahwa versi terjemahannya sedikit mengecewakan dari segi bahasanya. Gaul tapi nanggung, formal, lebih nanggung lagi.  Saya sih lebih memilih versi aslinya, karena gratisan berupa ebook hahaha…


Ceritanya sendiri mengingatkan saya pada Meteor Garden atau Boys Before Flowers. Tokoh utama disini adalah Elizabeth Bennet atau Lizzie (nama yang sama di novel Pride and Prejudice), seorang siswa brillian dalam musik yang mendapatkan scholarship untuk bersekolah di sekolah yang dihuni para borju. Sama dengan Geum Jan Di dalam BBF, dia mendapatkan terror atau pelecehan dengan kondisi sebagai anak beasiswa. Lizzie beruntung mendapatkan teman di luar para siswa borju, Jane dan Charlotte, siswa sesama penerima beasiswa. 

Hidup Lizzie yang di semester pertama sudah cukup pahit dengan menjadi bahan celaan para murid, semakin nestapa dengan munculnya sosok sombong William Darcy. Will atau Darcy seperti di kisah aslinya, adalah tokoh yang nantinya bakal bersanding dengan Lizzie. Tapi tentu saja harus melewati beberapa kejadian untuk menyatukan cinta keduanya. Munculnya Wick dan Caroline sebagai pesaing Darcy dan Lizzie adalah sebagai bumbu kisah remaja ini.

Comments:
Cukup menghibur membaca ebook setebal 120an halaman ini. Bahasanya sendiri lebih simple dibandingkan bahasa yang digunakan Meg Cabot. Kata Pride diganti dengan Prom karena remaja masa kini, seusia SMA, prom night adalah masalah besar yang sudah dipikrkan setahun sebelum prom itu sendiri berlangsung. Sebenarnya kata Pride juga bisa dimasukkan dalam kisah ini, karena sikap Lizzie terhadap Darcy si borju. Lizzie dengan tegas menolak buku pemberian Darcy yang diblei dengan uangnya. Lizzie seolah ‘mati rasa’ dengan mereka yang mempunyai duit banyak. Tidak hanya masalah duit, Lizzie yang pintar merasa bisa berdiri sendiri dengan kemampuannya mendapatkan beasiswa. Ternyata ada hal lain yang menimpa sesame penerima beasiswa sebelumnya yang membuatnya masuk dalam jebakan, yang kemudian mau tidak mau dia harus menekan pride-nya dan meminta bantuan Darcy. Suit suiiittt… 

2 komentar:

  1. wah, menarik nih...
    sejak aktif di goodreads ini aku semakin diracuni YA. hisrom jadi ketinggalan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. lumayan menarik sih
      Terutama dari sisi teenlit. Ngga pake kerutan di dahi pas baca

      Hapus