Kamis, 20 September 2012

DIMSUM TERAKHIR (Clara Ng)

Paperback, 361 pages
Published April, 19, 2006, Gramedia Pustaka Utama
Rating: 3/5 stars


Empat perempuan bersaudara. Semuanya kembar. Yang terbayang oleh saya bukan karakter mereka yang sudah pasti berbeda satu sama lain. Yang menganggu pikiran saya sebagai perempuan adalah membawa-bawa mereka di rahim selama sembilan bulan. Meraka adalah Indah si sulung, dengan sifat sedikit pushy terhadap adik2nya, paling bertanggung jawab atas keluarga==terutama papanya; Siska, penganut hidup bebas, paling enggan pulang ke rumah, bahkan ketika mendengar papanya sakit keras ia lebih memilih bercinta dengan kliennya yang nggantheng daripada segera pulang; Rosi, gadis transgender pecinta bunga2 mawar sesuai dengan namanya, tinggal di perkebunan bunga potong bersama gadis yang dicintainya; Novera, gadis bungsu paling pendiam diantara para saudaranya, berani keluar dari tradisi agama keluarga dan bermimpi menjadi pelayan Tuhan, dan melupakan cinta duda beranak satu yang mengejar cintanya.


Konflik persaudaraan yang dipertemukan kembali setelah jatuh sakitnya sang papa menjadi bumbu utama kisah Dimsum Terakhir ini. Selain masalah keluarga, Clara NG juga menyelipkan porsi cukup besar masalah rasial warga keturunan. Masalah ini sangat santer di jaman pemerintahan Orde Baru dimana para warga keturunan diharuskan melakukan ini itu untuk bisa dianggap sebagai WNI tulen

Mereka yang katanya Warga Negara Indonesia tapi harus punya surat buktinwarga Negara. SKBRI bahkan sampai surat ganti nama (134)

Saya ingat ketika saya masih duduk di SD, sekitar tahun 80an, masalah rasial ini sangat santer, cenderung anarkis. Ibu saya sempat khawatir ketika banyak warga menyerbu warga keturunan di jalanan hingga sabotase toko mainan langganan saya. Bukan. Ibu saya bukan warga keturunan, melainkan bapak saya yang berasal dari luar Jawa, mempunyai ciri yang sangat mungkin dikeroyok  masa itu. Alhamdulillah, bapak saya selamat. Hal lain yang saya ingat adalah banyak teman saya yang dengan enaknya menikmati mainan jarahan dari toko langganan saya. Saya yang waktu masih kecil tak punya banyak uang jajan, sangat gembira diberi teman saya sebuah tempat pensil cukup bagus. Tapi oleh ibu saya langsung menyuruh saya mengembalikan benda itu. Saya hanya berpikir, kenapa yang lain boleh menikmati barang gratisan ini, kenapa saya tidak boleh? Bertahun kemudian, saya bersyukur ibu saya sangat bijak menolak barang tidak halal itu.

Dimsum Terkahir mengacu pada kebiasaan keluarga ini di setiap Imlek menikmati dimsum di pagi hari sebelum mereka melakukan sembahyang sesuai tradisi mereka. Dimsum terkahir kali mereka lakukan sebelum mereka akhirnya harus kehilangan papa mereka. Masalah persaudaraan yang tadinya tercerai berai dan saling tuntut antar satu dengan lainnya diselesaikan dengan cara para kembar ini.

Comments:

Sebelumnya, saya belum pernah membaca karya Clara Ng, dan inilah yang pertama. Terus terang  saya cukup penasaran dengan mbak Clara yang cukup produktif menulis novel. Bagaimana kesan saya setelah membaca yang pertama ini? Sepertinya it will take me a looong time to read her other works. Is she that bad? Nope. She’s good at expressing the issue of racism, cocok bener buat mbak Clara, hanya yang sedikit menganggu adalah gaya humornya yang menurut saya, garing. Gaya komikal Indah yang kebelet ke belakang, hingga jungkir balik dari angkot, untuk menyampaikan bahwa ia tengah harap2 cemas menunggu tamu bulanannya, dan ketakutannya akan hamil, menurut saya ngga banget. Saya sempet berpikir, apakah Indah ini juga mengidap penyakit mematikan dengan menemukan tetes darah di celananya atau apa. Eh, ternyata, dia yang mencintai seorang pendeta dan sempat terjerumus nafsu, sangat mengharap datangnya tamu bulanan. Ah, hubungan kebelet dengan ketakutan hamil itu sepertinya terlalu ajaib dihubungkan. Untuk issue rasial yang bagus, humor macam ini malah membuat saya sakit perut saking ill feel-nya. Humor selipan lainnya pun juga ngga terasa feel-nya, buat saya sih.

Oya, entah kenapa ada beberapa bagian kalimat yang menurut saya redundant alias pengulangan yang tak perlu.

Bagaimana mungkin seseorang bisa menulis rangkaian kalimat dengan beigtu indahnya? Bagaimana caranya? Bagaimana? Bagaimana? How? HOW? HOOOWWWW?? (hal. 210)

Selain humor yang menganggu saya, rupanya saya ini bukan tipe pembaca yang baik, karena selalu saja mengingat orang lain ketika membaca novel ini atau itu. Dalam Dimsum Terkahir ini, cukup banyak kata2 bijak hingga pidato Dharma seputar dirinya yang seorang vegan. Saya bukan vegan, hanya separo saja, tapi saya malas memberi pidato seputar rasa cinta kita terhadap alam yang ditujukan dengan cara menjadi vegan. Jadi, ketika ada celotehan Dharma seputar vegan ini, saya cukup terganggu. Orang mempunyai pilihan menjadi vegan atau omnivore, saya tak perlu tahu alasannya, apalagi mendengar pidatonya.  Kiranya saya yang kebangeten kali ya yang ngga bisa liat tujuan mbak Clara Ng promoted healthy life by being a vegan. #nggausahdianggapbagianini

Oiya, meski demikian ada juga quotation yang saya cukup suka di novel bersampul merah imlek ini. Scene ketika Nung, papa para kembar, berbincang dengan pastor Antonius, dalam epilog yang diambil dari PoV Antonius sesudah kematian Nung.

Penuaan berarti pertumbuhan; pematangan, suatu konotasi yang bermakna positif. Karena itu, kita harus merayakan kehidupan dengan sebaik-baiknya. (Nung, hal 334)

Bagian lain yang saya suka adalah pengenalan etnik budaya Cina yang cukup kental. Mulai dari kebiasaan orang2 di Tahun Baru Imlek, makanan hingga upacara kematian ala Tao yang dulu biasa saya lihat di serial kungfu Mandarin jaman Chin Yung hahaha. Ternyata itu beneran to? Hihihi. Keren. 


Overall, saya suka dengan issue yang diangkat oleh Clara Ng, hanya untuk humor, semoga mbak Clara bisa lebih elegan memberi suasana konyol dalam ceritanya. Semoga di novel berikutnya, yang bisa saya pinjam, saya bisa ketawa dengan humornya mbak Clara plus tersentuh di bagian kata bijaknya. Nanti. Kapan? Kapan? When? WHEEN?? (ikutan redundant)

7 komentar:

  1. Sampe sekarang ini buku jadi wishlist yang belum terkabulkan.. ckck. kapan2 deh.... "kapan2" terus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga ngendon lama di timbunan pinjaman :)

      Hapus
    2. Jadi setelah ngendon lama di timbunan, cuma dpt 3 bintang?

      Hapus
    3. Ya, hahaha... Alasannya ya itu tadi kurang cocok joke nya....

      Hapus
  2. berarti Clara Ng belum cocok ya ma Ka Lila :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cocok buat etniknya, ngga buat humornya :)

      Hapus
  3. Info menarik nih... Clara Ng akan jadi pembicara talkshow loh...
    Perlu cara dan ranah tertentu untuk membicarakan seksualitas yang berkualitas. Tidak perlu ragu untuk ikut serta ke dalam bingkai persoalan seks.

    [PSIKOMEDIA PROUDLY PRESENT
    SIKOLASTIK 2015]

    Talkshow bareng Clara Ng (penulis serial novel Indiana Chronicle, The (Un)reality Show, dan Utukki: Sayap Para Dewa)"

    · Minggu,15 NOVEMBER 2015
    · 07.00 - selesai
    · Ruang G100 Fakultas Psikologi UGM

    ~ 50k (talkshow + booksigning)
    ~ 35k (talkshow)

    Reservasi tiket:

    (Nama_instansi_jumlah tiket _50/35)
    Kirim ke CP️088215398854 (Dita)

    BalasHapus