Senin, 01 April 2013

Harry Potter dan Tawanan Azkaban #3 by JK. Rowling



Paperback, 534 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama 2002
Rating 5/5
Saya tak pernah lupa perasaan saya pertama kali selesai membaca jilid 3 seri Harry Potter ini: perasaan bahagia yang hangat seperti perasaan Harry begitu tahu tentang peran sebenarnya Sirius Black; sekaligus kecewa dengan Peter Pettigrew. Tapi yang jelas kepuasan lebih banyak dibanding kekecewaan. Akan tetapi, membaca ulang seri ini, dalam kondisi terpepet deadline, membuat saya ingin sedikit menurunkan bintangnya. Tapi rasanya ini ngga fair, karena terpepet deadline adalah salah saya pribadi, bukan salah Rowling.

Sebelum tahu mengapa saya ingin menurunkan bintangnya, mari tengok sebentar review dari buku ketiga ini.

Harry memasuki tahun ketiganya dengan perasaan galau (kok kayak remaja jaman sekarang ya? Hahaha). Bagaimana tidak, dia tidak sengaja menggelembungkan bibi Marge saking marahnya orangtuanya dijelek2kan, merasa bakal dikeluarkan dari Hogwarts karena sihir di bawah umur, melihat sosok Grim-pertanda kematian, pengalaman nyaris pingsannya di gerbong Hogwarts Express gara gara Dementor. Dementor adalah makhluk sihir penjara Azkaban yang berkeliaran karena karena salah tawanannya-Sirius Black- melarikan diri. Untunglah beberapa hal yang menyenangkan juga terjadi mengimbangi kegalauan Harry: guru Pertahanan Terhadap Sihir Hitam, Remus Lupin yang seru, Hagrid yang menjadi guru di tahun ajaran baru ini, juga kemenangan Gryffindor untuk piala Quidditch.


Membaca ulang buku ini membuat saya menemukan kebiasaan Rowling yang masih terus meneruskan menerangkan ulang beberapa tokohnya seperti di buku ke dua, menerangkan bahwa Harry nestapa di bawah atap rumah pamannya, dan beberapa hal lain. Well, say sah saja sih adanya pengulangan ini, namun buat saya yang entah bagaimana, eh, karena moment hotterpotter ini pasti, merasa ini pengulangan yang time and space consuming. Tapi saya maafkan kok. Toh, di antara jadwal posting yang sudah akhir bulan ini membuat saya bisa melihat sisi terangnya, saya baca skip sedikit di bagian ini. Padahal sebelumnya, saya sangat telaten membaca tiap kata yang ditulis novelist Inggris ini.

Hal lain yang membuat saya juga mengulangi kebiasaan buruk saya, skip some parts adalah ketika scene berada pada Pemutar Waktu milik Hermione. Beberapa dialog juga ditulis ulang, yang membuat saya mengulang dosa manis saya, men-skip some parts, dengan dalih masih mengejar target.

Yang terakhir adalah obrolan di Shrieking Shack, membuka jati diri Black dan Pettigrew. Saya merasa kok lamaaa banget ngobrolnya sementara berkali kali Black mengatakan bahwa dirinya sudah ngga sabar karena sudah menunggu selama 12 tahun. Tapi memang sih dari obrolan ini kita pembaca jadi tau siapa pecundang disini.

PS.
Postingan ini saya ikutkan dalam:
1. Hotterpotter RC
2. Name in RC
3. Read Big #2

3 komentar:

  1. hasil ngebut nih yeeee

    BalasHapus
  2. Aku paling suka buku ini di serial Harry Potter! Suka Lupin. Ehehe.. Yah kalo baca ulang emang jadi makin kritis ya. Hehe.. Aku sih baca sekali aja dulu, lha bukunya aja minjem. Ehehehe..

    BalasHapus
  3. satu satunya haryy potter yg udah saya baca cuma yg seri kelima, salah satu seri paling tebal apalagi punya saya hard cover. tp entah kenapa kalo baca ulang malah makin ngebut bacanya hahahaha.

    BalasHapus