Senin, 29 April 2013

Balada Ching Ching by Maggie Tiojakin


Paperback, 175 pages
Published Juni  2010 by Gramedia
Rating 4/5

Ching Ching, anak keturunan dengan orang tua tunggal pemilik warung kweetiau, memiliki masa masa sekolah penuh derita. Panggilan yang bernada rasial, teman sekolah yang sering kali mem-bully physically dan gosip hubungannya dengan 'preman' sekolah yang tidak hanya menjadi sasaran guru guru sekolah tetapi juga para gadis populer, menjadikan masa sekolah Ching Ching penuh  derita. Bukan Ching Ching namanya jika ia tidak bangkit melawan.

Andari, pendatang dari Indonesia, Muslim, dan kebetulan menjadi saksi mata tragedi 9/11, berkenalan dengan Aysha, imigran Lebanon. Wajah cantik Aysha penuh luka masa lalu bom yang membunuh keluarganya. Perkenalan ini membuat Andari berpikir ulang tentang siapa yang lebih menderita dalam tragedi itu, tentang siapa yang bertanggungjawab, tentang agama dan ke-Tuhan-an, dll. 


Siapa yang tidak menginginkan mukjizat? Masalahnya, apakah mukjizat itu benar benar ada? Mukjizat sangat dinanti Malik bagi pasien kesayangannya. Tak ada ilmu kedokteran yang bisa menjelaskan apakah mukjizat akan datang, kapan dan kepada siapa.

Percayakah kau akan ramalan kartu-kartu? Bagaimana jika kartu itu mengatakan kau akan kehilangan nyawamu di ulang tahunmu yang kesekian? Apakah kau tidak akan tertarik untuk menantang kebenaran ramalan itu dengan melakukan sesuatu yang justru akan semakin mendekatkan kebenaran ramalan itu?

***

Ini adalah perkenalan saya dengan Maggie Tiojakin. Terus terang, ekspektasi saya tidak terlalu tinggi, bukan, bukan pada bukunya, tapi pada diri saya sendiri. Saya kenal nama Maggie ini dari diskusi teman teman BBI. Saya cukup meng-underestimate otak saya bakal kurang prima (dalam arti yang sebenarnya) untuk memahami isi buku penulis weekender Jakarta Post ini. Ternyata saya langsung ketagihan di cerpen pertama buku ini. Dan tak berhenti sebelum cerpen terakhir. Ah, syukurlah, otak saya lumayan juga, meski menulis review kumcer yang terdiri 13 balada itu bagi saya cukup susah.

Apa yang saya sukai dari buku ini? Di cerpen pertama, penulis mengambil kisah dari keseharian perawat yang mengharap mukjizat. Saya yakin, siapapun mengharap mukjizat datang di saat yang dibutuhkan. Ramuan kata Maggie mengalir tanpa dibumbui sastra yang nyastra yang meski dulu saya kuliah di sastra (Bahasa Inggris-pokoknya sastra kan? ;))), sering merasa kesulitan memahami bahasa sastra. Topik yang diangkat cukup natural. Keruntutan pikiran kalut Liana kadang saya alami. Ketakutan akan hal hal yang hanya terjadi di kepala membuat saya melihat pada diri sendiri. Ending yang menggantung sangat saya prediksi di beberapa cerpen karena kasus semacam itu lazim terjadi di masyarakat, dan masih terus terjadi di masa yang akan datang; seks bebas, hamil karena kecelakaan, perselingkuhan, penyakit maut, dll. Yang membuat shock adalah ending Dua Sisi,  cerpen paling favorit, yang membuat saya terduduk dari tiduran ketika membacanya. Selama membaca kisah berlatar belakang tragedi 9/11 ini, saya terus menebak nebak apa yang akan terjadi pada Andari. Apakah dia akan terjebak menjadi teroris berikutnya sejak pertemuannya dengan Ahmed? Owh, Maggie memang keren. Saya suka ending yang mengejutkan. 

Saya tak tahu apakah Maggie terpengaruh dengan film film barat yag selalu ada adegan ranjang. Di hampir semua cerpen disini selalu saja ada adegan tersebut. Meski diungkap secara halus, dan persoalan kenapa ada adegan itu ada, sedikit banyak membuat saya sedikit risih. Dan kebetulan juga, pelaku pelaku adegan, baik legal atau tidak, selalu dipicu dari hasrat berlebih kaum laki laki.
Ps.
Posting ini saya publish untuk meramaikan posting bareng BBI dengan tema penulis perempuan. Tadinya saya akan memilih A Wrinkle in Time karya Madeleine L'Engle  tapi saya urungkan begitu saya memegang buku ini. Berikut ini sekilas tentang Maggie Tiojakin yang saya kutip dari Goodreads.


Maggie Tiojakin adalah seorang jurnalis, copywriter, dan penulis fiksi pendek. Karyanya telah dimuat di The Jakarta Post Weekender, Asian News Network (ANN), The Boston Globe, Brunei Times, Writers’ Journal, Voices, La Petite Zine, Femina, Kompas, Eastown Fiction, Somerville News, etc. Buku kumpulan cerpen pertamanya, berjudul Homecoming (and other stories) diterbitkan di tahun 2006 oleh Mathe Publications. Dia juga telah menerjemahkan dan mengadaptasi: buku karya Jason F. Wright yang berjudul Wednesday’s Letters (Surat Cinta Hari Rabu); Sugar Queenkarya Sarah Addison Allen; serta mengadaptasi dari film-ke-buku Claudia/Jasmine berdasarkan skrip karya Awi Suryadi. Keduanya diterbitkan Gagas Media (2008/2009).

Saat ini, Maggie tengah menerjemahkan buku karya Sarah Addison Allen yang berjudul Garden Spells. Buku kumpulan cerpen ke-duanya, berjudul Balada Ching-Ching, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, kini telah hadir di toko buku.

Di waktu luangnya, Maggie mengelola sebuah situs gratis yang menghadirkan cerpen klasik karya pengarang dunia baik yang sudah ternama maupun belum dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia untuk asupan masyarakat luas. Situs ini dinamakan Fiksi Lotus.

8 komentar:

  1. ouh.. ini sebuah kumcer toh.. *balik baca ulang reviewnya hehe

    kilasbuku.blogspot.com
    #kilasbukublogwalking

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, kudunya aku tulis di depan ya? Maappp... :)

      Hapus
  2. penasaran, Maggie pernah tinggal di Amerika kah? Kayaknya ceritanya banyak yang berlatar belakang Amerika - dan budaya Barat pada umumnya. Aku pengen baca buku ini jadinya deehh...belum pernah baca Maggie :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kalo liat deskripsinya di Dua Sisi yang detil, sepertinya sih Maggie pernah tinggal di Amrik.

      Setelah buku ini aku juga pengen baca buku2nya yang lain :)

      Hapus
    2. iya ya, kayaknya dia pernah tinggal di amrik, soalnya juga winter dreams itu kental banget amriknya.
      my silly thought; bukunya maggie yg winter dreams itu mestinya berjudul american dreams *no offense ^^v
      eniwei, ttg balada ching ching ini, aku jadi nyesel pernah melewatkan buku ini yang waktu itu ada di rak diskon 25% gramedia -.-a

      eniwei, salam kenal kak lila :)

      Hapus
  3. MT terknal juga sebagai pernerjemah fiksi lotus #nunggudibeliinkalila

    BalasHapus
  4. wah, kumcer ya ? Aku kurang bisa menikmati kumcer... :/ Pernah baca beberapa, jarang ada yang selesai... :/
    salam kenal lila :)

    BalasHapus
  5. Aku jadi pengen baca bukunya MT ini >.<
    Uda terbitan 2010 ya, ga pernah ngeh sumpah :P

    BalasHapus