Selasa, 30 April 2013

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken by Jostein Gaarder




Paperback 282  pages

Published Maret 2011 by Mizan

Rating 3/5

Apakah ada orang yang mempunyai fantasy gila terhadap buku seperti seorang wanita bernama Bibbi Bokken? Dan apakah ada orang yang mempunyai obsesi sekaligus ketakutan seperti Berit dan Nils?


Berit dan Nils adalah saudara sepupu yang terpisah kota tempat tinggalnya- Oslo dan Fjaerland (siapa tinggal dimaena, sudah lupa.. hiks). Bermula dari pertemuan antara Nils dan perempuan tua bermata seperti piring yang membawa buku robek-robek dan sangat tertarik dengan buku- buku hingga ngiler. Perempuan itu yang belakangan diketahui bernama Bibbi Bokken menjadi suatu misteri seru yang sering didiskusikan oleh Berit-Nils dalam buku-surat mereka. Tinggal berjauhan tidak membuat mereka tidak berkomunikasi. Alih-alih memakai telpon, mereka memilih sarana buku-surat untuk saling bertukar cerita, mengungkapkan penyelidikan mereka, kecurigaan mereka terhadap si perempuan tua ngiler dan beberapa orang yang dicurigai sebagai komplotannya, hingga kisah di sekolah masing-masing.


Penyelidikan mereka membawa banyak nama baru dan nama yang tak pernah mereka sangka, guru sskolah Nils, penulis anak anak terkenal Astrid Lindgren hingga Walter Mondale (wakil Presiden Amerika) dan ratu Sonja. Dan apakah mereka benar benar terlibat dengan kasus yang tengah ditangani sepasang saudara sepupu ini yang berhubungan dengan konspirasi rahasia sebuah perpustakaan? Jawabannya ada di bab kedua di novel ini.



***

Huufftt...Fiuuhh... sebelumnya saya ingin tarik napas lega sudah melewati masa tegang pengejaran Berit/Nils trehdap Bibbi Boken,  atau sebaliknya(?). Terus terang, saya cukup tertarik untuk mencobba membaca karya Gaarder ketika mengikuti diskusi di group WA bajaj. Saya tertarik karena menurut teman-teman saya, Gaarder mampu membuat kisah psikologi yang umumnya cukup berat menjadi populer di novel Dunia Shofie.  Nah, kesemmpatan saya untuk sedikit mmenciccpi karya Gaarder ini datang bulann ini, challenge tentang buku. Dan, what do I think about it?? Duh, terus terang, hampir 2 minggu saya habbiskan untuk menghabbiskan kisah petualangann dua saudara sepupu ini. Well, sorry to say I can't  seem to enjoy the way he tells the story.  Otak sangat prima dan temmpat baca yang mendukung sangat dibutuhkan unntuk menyelesaikan nnovel ini. Parah ya saya.


Di awal chapter, saya hampir nyerah, tapi mengingat buku tentang buku yang lain saya.ngga punya, yang ini saja saya dapet minjem, akhirnya saya bertekad menyelesaikan. Saya mencoba meletakkan dir saya sebagai anak-anak, Berit dan Nils, bagaimana mereka berfantasy tentanng orang jahat  bagai penyihir, rasa ingin tahu yang luar biasa dibumbui fantasy liar yang menyeramkan, tapi ternyata berakhir konyol hahaha. Di beberapa bagian, saya cukup menikmati, tapi di bagian yang tidak perlu, membuat saya memilih skip sana sini. Speaking about fantasy, saya menemukan quotation panjang yang kocak dari satu bagian obrolan sepasang saudara sepupu ini.


Jika fantasy sama dengan kebohongan, para penulis mestilah merupakan pembohong yang paling antusias. Maksudku, mereka hidup dari situ dan orang-orang dengan sukarela membeli cerita hasil kebohongan mereka. Mereka bahkan muncul dalam klub klub buku untuk menyampaikan kebohongan melalui pos.

Aku rasa, beberapa orang senang berbohong, sedangkan yang lain senang dibohongi. Dalam setiap masyarakat, dibangun gedung gedung besar yang di dalamnya kebbohongan terkumpul berbaris, dan kita menyebutnya sebagai perpustakaan. Kita pun dapat menjulukinya dengan "laboratorium kebohongan" atau yang mirip mirip itu. Mungkin paling baik kita menamai perpustakaan dengan "tempat penyimpanan lelucon dan fakta". Sebab, tak semua yang tertuang dalam buku adalah kebohongan. Bahkan, dalam satu buku, kebenaran dan fantasi boleh jadi malah berdampigan...

Bayangkan, opini panjang lucu tapi benar ini ada dalam diskusi buku-surat Nils dan Berit. Fantasi ereka sering kali bercampur antara fakta dalam buku Harian Anne Frank dan The Witch milik Roald Dahl.  Cara berdiskusi yang melompat sana sini khas anak anak membutuhkan konsentrasi dan cara berpikir sesuai usia para karakter di buku. Terus terang, saya menikmati sebagian keseruan di buku, ada pula bagian yang membuat saya nguap hanya dalam hitungan lembar halaman. Nama penulis dan judul buku yang berserakan di sana sini menunjukkan cintanya terhadap buku, sebagian saya pernah dengar namanya, tapi ketika menyebutkan nama nama penulis kondang Norwegia, kecuali Astrid Lindgren dan Roald dahl, saya loading cukup lama dsn biasanya loading gagal. Hahaha.

Sebagai penutup, quotation berikut ini sangat cocok untuk posting buku tentang buku ini:


Ketika bersama Berit, Bibbi Bokken dan Mario Bresani di tempat penyimpanan itu, aku mengalami keajaiban. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku mengerti apa sesungguhnya buku itu. Sebuah buku adalah dunia ajaib penuh simbol yang menghidupkan kembali si mati dan memberikan  hadiah kehidupan yang kekal kepada yang masih hidup. Sungguh tak dapat dibayangkan, fantaetisdan "ajaib" bahwa kedua puluh enam huruf dalam alfabet kita bisa dipadukan sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi rak raksasa dengan buku-buku dan membawa kita ke sebuah dunia yang tak berujung. Dunia yang selalu bertumbuh dan bertumbuh, selama masih ada manuisa di bumi.



PS.

Posting ini saya tulis untuk beberapa Reading Challenge yang saya ikuti:

1. Posting bareng BBI bulan April memperingati hari buku.

2. Name in challenge

3. Finding New Author

Menurut saya Jostein Gaarder ini unik, saking uniknya saya mungkin masih mau membaca karya lainnya. Tapi untuk koleksi, sepertinya nanti dulu hahaha

OK, sekilas seputar Jostein Gaarder yang saya kutip dari goodreads:
Jostein Gaarder

Jostein Gaarder is a Norwegian intellectual and author of several novels, short stories and children's books. Gaarder often writes from the perspective of children, exploring their sense of wonder about the world. He often uses metafiction in his works, writing stories within stories.
Gaarder was born into a pedagogical family. His best known work is the novel Sophie's World, subtitled A Novel about the History of Philosophy. This popular work has been translated into fifty-three languages; there are over thirty million copies in print, with three million copies sold in Germany alone.

In 1997, he established the Sophie Prize together with his wife Siri Dannevig. This prize is an international environment and development prize (USD 100,000 = 77,000 €), awarded annually. It is named after the novel.




7 komentar:

  1. sama nih mbak, aku malah dari tahun kemaren bacanya trus mandeg sampai aku lanjutin bulan ini *yang reviewnya belum dibuat juga*
    aku nggak cocok sama JG, nggak semangat baca ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahaha... di beberapa seruu sih, tapi banyak bagian juga yang bikin zzzzz.... :D

      Hapus
  2. Gaarder yang Dunia Sophie seru, yang Vita Brevis terllau filosofis, belum baca yang ini

    BalasHapus
  3. Seru ya? Tapi ngeper sama tebelnya.... Thanks but no thanks deh... :p

    BalasHapus
  4. samaan dengan Dila ya bacanya kak Lila. Aq dulu juga baca yg edisi lama seperti ini, awalnya memang lambat plus bikin bingung, tapi lama-lama jadi seru, sayang endingnya rada kurang greget menurutku. paling asyik membayangkan perpustakaan super di bawah permukaan tanah :D

    BalasHapus
  5. aku suka karena nils dan berit (nama2nya rancu yaaa mana cw dan mana cowo) suka membahas buku2 lain di sini, terutama buku anak yg juga favoritku...tapi awal2 baca emang rada bingung ini surat siapa yg nulis, mana nama2 tempatnya susah pula :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. HobbyBuku: iya. Agak aneh pas ketemu sama Bibbi Bokkennya. Kok cuma gitu aja ya? Padal sepanjang buku isinya kecurigaan mereka mulu. Kurang hhhhhh...gitu :D

      Astrid: iya namanya ngga ngerti co ce nya. Mo ngetik nama tempatnya juga susah nyari di keyboard hahaha. Ah, betul, nama2 Roald Dahl dan beberapa bukunya yg kebetulan sudah kubaca, disebut disini. Seeneengg, ternyata Gaarder juga baca buku itu #halah hahaha

      Hapus