Jumat, 12 Juli 2013

Gregor and The Curse of The Warmbloods by Suzanne Collins




Ebook format, 358 pages
Published July 1, 2006 by Scholastic
Rating 4/5

Berbeda dengan buku ke dua, Gregor yang sama sekali tidak berharap kembali berhadapan dengan dunia Underland beserta penghuninya, Underlander. Di seri ketiga ini, Gregor dan ayahnya sangat berharap ada berita dari Underlanders seputar keberadaan teman2 yang hilang. Pintu portal penghubung Overland menuju Underland yang terletak di ruangan laundry apartement-nya, dengan sengaja dibuka oleh ayah Gregor yang sebelumnya sudah ditutup ibu Gregor.

Selain menunggu berita dari para Underlanders, Gregor juga sudah selama beberapa minggu setelah kepulangannya dari Underland, disibukkan dengan ramalan lain yang dengan sengaja di selipkan oleh Nerissa, ratu pengganti Luxa. Tak heran, begitu selenting berita datang dari Ripred, Gregor segera bergegas memenuhi undangan. Tapi kali ini, ayahnya ingin ikut serta. Tapi sayangnya, ibu Gregor tak mengijinkan, apalagi dalam ramalan itu, Boots, si bayi cerdas juga mengambil bagian dalam tugas berikutnya. Alih2 ayahnya, ibu Gregor kali ini mengiringi pengalaman Gregor.


Betapa shock Gregor begitu mengetahui ternyata ramalan ini adalah mencari obat bagi wabah yang sudah menyerang dengan ganas bond-nya, Ares. Selain kelelawarnya, wabah ini juga menyerang Howard beserta bond-nya dan banyak para gnawers lainnya. Tugas utama Gregor ini adalah menemukan obat penyembuh yang terletak di Vineyard of Eyes. Ibu Gregor yang mengira ini hanyalah kunjungan putra putrinya terhadap sahabatnya di Underland, tak bakal menyangka bahwa tugas ini akan berada di pundah Gregor. Apalagi kenyataan lain mengatakan bahwa dirinya juga terjangkit wabah ini. Gregor tak punya alasan kuat lain selain berangkat menuju perjalanan seru berikutnya.

Selama perjalanan, Gregor kembali bertemu dengan teman2 baru: Hamnet yang ternyata masih mempunyai hubungan keluarga dengan Luxa, beberapa gnawer lainnya yang tertulis dalam ramalan harus ikut dalam misi ini. Perjalanan ini lebih banyak dilakukan di darat terutama berjalan kaki dengan berbagai rintangan: lapar dahaga, serangan tanaman merambat yang ganas, pasir penyedot (seperti lumpur penyedot), serangan pasukan semut, dll, demi menemukan tumbuhan starshade yang terletak di Vineyard of Eyes.

Comments:
Boleh dikata ini adalah proses membaca saya yang terlama dibandingkan 2 seri sebelumnya. Terlalu rapatnya dengan seri sebelumnya membuat saya sedikit…..bosan sih ngga. Tapi yang jelas dengan banyaknya nama nama baru membuat saya sedikit hang. Nama2 itu tidak hanya nama manusia tapi juga makhluk2 lain penghuni Underland, kelelawar dan para gnawers. Tak jarang, saya mengira bahwa si ini adalah tikus tapi ternyata kelelawar dan sebaliknya hahaha.

Secara cerita, Suzanne Collins tetap terjaga ceritanya. Semula, saya mengira bahwa Vikus lah yang membawa peran penting bagi kelangsungan penghuni Underland, seperti halnya Dumbledore di Harry Potter. Tapi ternyata Ripred –si tikus lah yang paling dominan disini: kebijaksanaannya, keberaniannya, kecerewetannya sekaligus kesinisannya menjadi karakter sangat dominan disini. 

Saya juga suka denga para karakter disini. Saya pikir hampir semua adalah tokoh protagonist, meski sosok antagonist yang muncul kemudian cukup membuat saya mual saking saya tidak menyangka bahwa si ini bakal jadi jahat, dan si itu yang di awal sudah terlihat menyebalkan ternyata berkembang menjadi karakter yang menyenangkan.

Overall, seri ketiga ini masih seseru dua seri sebelumnya. Saking serunya, saya tak menyadari bahwa halaman yang saya baca adalah halaman terakhir, dan ketika saya pencet next, ternyata masuklah halaman ke halaman desktop e reader! *banting e reader ke kasur*. LOL.

6 komentar:

  1. woh, baru tahu kalo ada buku Suzane Collins selain HG! Semoga diterjemahkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Lis. Kayaknya kok kecil kemungkinannya ya, karena buku ini sudah terbit sebelum HG. HG aja termasuk telat nerjemahinnya. :)

      Hapus
  2. wakakakakak. sama, aku juga baru tau. mudah-mudahan diterjemanih.

    BalasHapus
  3. Menurut diskusi WA para joglosemar, Gramedia sudah kelimpungan menerbitkan novel terjemahan, apalagi kabar 50 yg ga jelas. Jadiiiiiii.... sini gih, kukirim ebooknya aja. Sampe kau punya cucu, belum tentu ini diterjemahkan wkwkwk...

    BalasHapus
  4. Ini untuk anak atau remaja mbak??

    BalasHapus
  5. Enggg... sepertinya sih cocok untuk anak2 usia 10-15 tahun deh. Gregor nya sendiri usia 11 di awal cerita dan 12 tahun di buku ke lima =)

    BalasHapus