Minggu, 29 September 2013

Boy, Kisah Masa Kecil by Roald Dahl




Paperback 226 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama September 2004
Penerjemah Poppy Damayanti Chusfani
Rating 4/5

Siapa tak punya masa indah di masa kecil? Sepahit apapun, namun ketika tertuang dalam bentuk kisah, selalu saja banyak hal menarik yang bisa diceritakan plus diambil hikmahnya.

Boy, nama alias kecil Roald Dahl,  lahir di Llandaff, Wales 1916. Bisa dikatakan Boy memiliki masa kecil yang indah dan menyenangkan. Keluarganya termasuk keluarga besar kaya di Norwegia. Ayahnya di masa hidupnya menginginkan seluruh anak2nya bersekolah di sekolah Inggris. Kakak adeknya yang semuanya perempuan berhubungan sangat erat satu sama lain, meski dua di antaranya adalah saudara tiri dari istri pertama Ayahnya yang meninggal. Setahun sekali minimal mereka selalu berkumpul dalam liburan yang seru.


Masa kecil tak pernah lepas dari kejadian lucu, nakal dan kadang menyedihkan. Buku yang terbagi 3 masa ini masing masing menceritakan hal2 menarik nan lucu di masanya. Masa pertama adalah masa ketika Boy duduk di bangku SD usia sekitar 7-9 tahun. Tak banyak yang bisa ia ingat ketika masih duduk di bangku Taman kanak kanak. Awal SD diwarnai dengan persahabatan Boy dengan kawan kawan barunya. Dahl, Thwaites dsn dua teman lainnya sangat suka mampir di sebuah toko permen milik Mrs. Pratchett. Meski tokonya sangat disukai anak2, tapi bukan jaminan anak2 menyukai pemiliknya yang galak dan jorok. Sekawan ini saking gondoknya dengan Mrs. Pratchett hingga melakukan pembalasan dendam atas perlakuannya yang tidak menyenangkan. Sayangnya, Mrs. Pratchett tak mau tinggal diam. Di dukung kepala sekolah, Boy dan sekawannya juga terancam.

Permen favorite anak2 ini salah satunya adalah Liquorice Bootlace. Khasnya anak2 yang serba ingin tahu, mereka juga sangat penasaran dengan bagaimana liquorice ini dibuat. Thwaites yang putra seorang dokter telah dicekoki ayahnya bahwa permen yang mempunyai rasa mirip obat batuk ini dibuat dari bubur tikus. Dengan lihainya, sang ayah mengarang cerita bagaimana perusahaan permen ini membuat permen berbentuk seperti tali sepatu ini. Membayangkan cerita karangan ayah Thwaites ini saja saya sudah mules. Bertahun lalu, ada seorang teman saya dari Belanda yang bekerja sebagai native speaker di kantor saya, saat perpisahaan, ia memberikan beberapa makanan khas negaranya. Antara lain liquorice ini. Dan memang benar, rasanya tidak enak. Mirip bubur tikus yang dipadatkan dan trus diinjak injak dan diiris tipis menyerupai tali sepatu. Hueekk.... hahaha...

Karena keisngan Boy dan juga rasa tidak terima ibunya ketika anaknya disiksa di sekolah, sang ibu memindahkan Boy ke sekolah asrama di St. Peter. Di sekolah ini ternyata tak ada ubahnya dengan sekolah terdahulunya yang melegalkan siksaan pada murid murid. Belum lagi para Matron atau kepala asrama yang bisa semena mena menyiksa anak anak yang usil. Tak heran, di awal kepindahannya, Boy merasa tersiksa hingga ia mengarang penyakit usus buntu hingga ia bisa dikirim kembali ke rumahnya dan berkumpul bersama keluarganya. Hahaha… Disini, Boy tidak melulu menceritakan masa sekolahnya yang cukup kelabu di St. Peter, dia juga menceritakan indahnya berlibur bersama keluarga besarnya, mobil barunya yang nyaris menghilangkan hidungnya, dan tentu saja keisengan yang luar biasa terhadap tunangan kakak pertamanya.
Masa berikutnya adalah ketika Boy masuk ke sekolah Repton high school. Lagi lagi kekerasan dilegalkan disini. Para senior yang disebut Boazer (semacam prefek) bisa seenaknya saja memarahi mereka karena kesalahan sepele. Belum lagi gaya hukuman mereka yang sadis, menghajar dengan rotan di bokong para junior. Konyolnya, mereka cenderung mengagumi hasil ‘lukisan rotan’ mereka di bokong ketika rotan ini menyambar tepat di tempat yang sama. Tak ada yang menyangka kau memukulnya lebih dari sekali di tempat yang sama karena begitu tepat sasaran. Ckckckck….

Di bagian ini, Boy juga menceritakan kebanggannya akan dua cabang olahraga yang ia geluti, fives dan squash. Di dua bidang ini, Boy sempat mencicipi ketenaran dengan menjadi kapten untuk masing masing tim. Lucunya, jika sebelumnya sangat umum bagi seorang kapten olahraga sekaligus menjabat sebagai Bozaer, tapi tidak bagi Boy. Master Asramanya mengatakan bahwa Boy tidak akan bisa melakukan asas asas ke-Boazer-annya dengan baik, yaitu dengan memukul para fag (pendamping para Boazer). Selain menonjol di bidang olahraga, Boy juga mempunyai hobi yang geluti dengan sangat baik, fotografi. Guru seni-nya sangat mendukung hobinya ini hingga membuatkannya sebuah pameran di sekolah di semester akhir sekolahnya. Guru2 yang selama ini begitu sengit padanya, dan guru yang tak pernah menyapanya, rata rata memberikan apresiasi yang bagus. Bravo, Boy.

Di bagian akhir, Boy menceritakan bagaiman ia meraih karir setelah lulus dari Repton. Tak perlu belajar di universitas baginya untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan dirinya. Keinginannya hanya satu, melihat tempat tempat eksotis yang menantang, seperti Africa. Pekerjaannya sebagai penjual minyak dengan cepat berganti menjadi pilot selama masa perang, dengan masih tetap menggeluti bidang fotografi.

Masa kecil Boy ini dituturkan berbeda dari kebayakan kisah hidup pada umumnya. Biasanya, orang akan menceritakan sisi kehidupannya yang penuh inspirasi, penuh penderitaan namun kemudian sukses di kemudian hari. Dengan gayanya, Roald Dahl menceritakan masa kecilnya dengan konyol, jenaka, runtut, namun tetap menarik. Banyaknya surat untuk ibunya di sepanjang halaman, menunjukkan betapa dekat hubungan emosi mereka berdua. Sebagai pembaca beberapa buku buku Dahl, saya menemukan cikal bakal kejadian yang kemudian membuatnya menulis buku buku anak lainnya. Saya merasa bahwa ide ide seputar raksasa, coklat, penyihir dan lain lain sudah mengendap disana ketika Dahl masih muda. 

Sebagai  catatan review terakhir, saya menemukan quotation yang terkenal ini di buku ini. Sedikit aneh ketika membacanya, karena biasanya saya membaca dalam versisi bahasa Inggrisnya:

"Bodoh sekali jika seseorang ingin menjadi penulis. Satu satunya kompensasi yang didapatnya hanyalah kebebasan. Ia tak memiliki atasan kecuali jiwanya sendiri, dan itulah sebabnya, aku yakin, ia menjadi penulis. (hal. 220)"

4 komentar:

  1. Huah, one of my fav book!
    Suka banget sama cara Dahl bercerita :)
    Dan yap, quote tersebut sangat berkesan juga karena bikin 'Ya elah, pak, be careful with what you wish for!' :P

    BalasHapus
  2. aku mau jadi penulis. penulis hatimu.... *nyepikah

    BalasHapus
  3. Aaang... tapi tapi penulis itu kalo terlalu bebas bisa jadi kontroversial dong.. #eaa

    I heart writer

    BalasHapus
  4. mbak, kok tahu rasanya bubur tikus???

    BalasHapus