Jumat, 13 September 2013

Unwind (Pemisahan Raga) #1 by Neal Shusterman



Paperback 455 pages
Published Agustus 2013 by Gramedia Pustakan Utama
Alih Bahasa: Merry Riansyah
Rating: 3,5/5

Ada banyak orang yang mendadak harus menjadi orangtua tanpa kehendak. Ada banyak orangtua yang tidak siap menjadi orangtua. Tapi berapa banyak orangtua yang ingin menyingkirkan anaknya dengan jalan menyerahkan anaknya ke pemerintah sebagai persembahan dan menjadikan anaknya sebagai stock organ transplantasi?
Connor, seorang anak dari sebuah keluarga yang kemudian memutuskan ‘mengaborsinya’ setelah ia berusia lebih dari 13 tahun. Track record-nya yang penuh masalah membuatnya menjadi seorang Unwind. Risa, tanpa keluarga, hidup di rumah asuh semenjak ia kecil, berbakat sebagai musisi, melakukan kesalahan sepele dalam pentas musiknya, menjadikannya sebagai unwind. Levi Jedediah Calder alias Lev, berasal dari sebuah keluarga yang taat beragama. Semenjak kecil, ia sudah dicekoki dengan paham betapa suci menjadi seorang persembahan yang akan terus hidup dan berguna bagi orang lain.
Adalah sebuah Negara dengan undang undang kehidupan setelah perang Sipil ke II yang disebut sebagai Perang Heartland, memberi wewenang pada masyarakat untuk tidak melakukan aborsi. Sebagai gantinya, mereka bisa ‘membuang’ bayinya di sebuah rumah dimana si empunya rumah akan secara otomatis menjadi orangtua asuh si bayi. Sementara si orangtua asuh, boleh menandatangani sebuah kontrak untuk menyerahkan si anak dengan usia 13-18 tahun sebagai persembahan bank organ transplantasi yang disebut sebagai unwinding atau pemisahan raga. 

Kebijakan yang sama sekali tidak bijak ini berlangsung bertahun tahun. Beberapa anak unwind mengetahui bahwa mereka mempunyai pilihan untuk menjadi bahan bank organ atau bertahan hingga usia 18 tahun dan bebas. Bertahan inilah yang selalu menjadi masalah Negara: menghadapi anak2 unwind yang biasanya bermasalah, membuat kekacauan, karena ketakutan dan kecemasan mereka kehilangan raga meski dengan janji akan tetap hidup dengan cara berbeda.

Setting yang diambil berbelas tahun yang akan datang ini bisa jadi adalah masa di masa adanya lonjakan populasi di Negara Negara besar. Keluarga Berencana? Apaan tuh? Sudah basi. Tak ada lagi family planning, yang ada adalah kelahiran baik yang diharapkan ataupun yang tidak diharapkan. Jalan satu2nya yaitu dengan unwinding. Negara mensahkan bahkan mewajibkan bagi keluarga untuk menyerahkan anggota keuarganya, agama mendukung kebijakan ini dalam ayat-nya.
“Lev menghadiri pembacaan doa sesering yang diperlukan dan selama pelajaran Alkitab, ia mengucapkan hal hal yang benar secukupnya agar tak terlihat mencurigakandia juga selalu diam tiap kali ayat ayat Alkitab dikupas untuk membenarkan pemisahan raga dan anak anak mulai melihat wajah Tuhan di setiap penggalan ayat.” (382)
Situasi chaotic semacam ini menimbulkan berbagai macam karakter di masyarakat. Sikap skeptic terhadap datangnya seorang bayi di teras rumah, tak lagi menimbulkan rasa haru atau belas kasihan. Alih2 mengadopsi, para calon orangtua asuh ini menggilir si bayi ke teras tetangga, dan ke tetangga yang lain. Begitu terus menerus. Tak ayal, muncul pula karakter2 malaikat di tengah terror pengambilan raga ini. Sonia, wanita pemilik café, menyediakan rumahnya sebagai shelter para unwinfd dalam pelarian. 
“…. Satu hal yang harus kau pelajari jika kau sudah hidup selama aku—tak ada orang yang benar benar baik atau yang benar benar jahat. Kita keluar masuk di wilayah gelap dan terang sepanjang hidup kita. Saat ini aku senang karena berada di wilayah yang terang.” (Sonia, hal. 159).
Persoalan cinta menjadi bahasan yang kesekian di buku ini. Bagaimana mungkin seorang ayah yang tega memberikan anaknya pada pemerintah dengan kedok persembahan? Tidakkah ada cinta disana? Connor, meski sadar tak menjadi yang utama dari sekian anak2 orangtuanya, tetap saja merasa terpukul dengan tak ada cinta untuknya. Surat yang ia tulis berlembar lembar berisi kekecewaannya terhadap keluarganya sekaligus rasa cintanya pada mereka.
“…. Seseorang tak punya jiwa hingga ia dicintai. Jika seorang ibu mencintai bayinya—mengignginkan bayinya—bayi itu mendapat jiwa sejak sang ibu mengetahui kehadiarannya. Saat kau dicintai, saat itulah kau mendapat jiwa. Punto. Titik.” (Hal. 237)
Comments:
Membaca novel ini pada awalnya saya merasa terpacu adrenalin saya dengan kisah Connor. Risa dan juga Lev juga mempunyai daya hipnotis yang sama. Sayangnya hingga ke tengah cerita, mulai munculnya tokoh Sonia dan Laksamana, saya mulai berpikir, ini pengarangnya masih ‘baik hati’ menghadirkan tokoh2 semacam mereka. Saya sudah berharap, sepanjang cerita saya akan mendapati adegan sadis pengambilan organ tubuh, tapi ternyata tidak. Ada di beberapa bagian sih, untungnya aroma sadis cukup tercium juga. Tapi masih sangat kurang #bakatsadisyasaya inih…
Oya, selama membaca synopsis buku ini, seputar pemisahan raga demi bank organ transplantasi, saya teringat dengan sebuah isu dari sebuah olahraga plus meditasi yang saya ikuti awal tahun 2000an yang lalu. Selengkapnya bisa dibaca.


Novel dengan genre dystopia ini cukup asyik dinikmati tapi sayangnya, buat saya, The hunger Games lebih asyik. Ato mungkin ada unsur love triangle disana ya? Tapi Unwind ini jauh lebih menarik dibandingka trilogy Uglies yang macet di buku 3, meski dengan bumbu love triangle juga. Errrrr…. Mungkin juga karena PoV yang berubah ubah dari satu tokoh ke tokoh yang lain sehingga buat saya ini tidak cukup membuat jelas karakter seorang Connor seperti ini dan Risa seperti itu. Untuk terjemahannya, saya beri nilai bagus. Well, ini mungkin baru pertama kalinya saya membaca novel dengan penerjemah si Momo alias Merry Riansyah. Oya, Momo  sempat jadi teman main SongPop yang alot hahaha… Good job :D




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar