Kamis, 31 Oktober 2013

Insiden Anjing di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran by Mark Haddon




Paperback 311 pages
Penerjemah: Hendarto Setiadi
Published by Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Desember 2004
Rating 4/5

Buku ini dibuka dengan angka 2. Saya sempat terkecoh dengan membalik halaman sebelumnya, barangkali angka 1 ada di baliknya. Ternyata tidak ada. Saya cek halaman, ternyata utuh, tak ada yang hilang. Akhirnya saya mulai saja membaca buku ini yang diawali dengan angka 2. Ternyata, si pemeran utama buku ini, Christopher Boone sangat cinta dengan bilangan prima, hingga menulis bukunya dengan dimulai angka pertama bilangan prima yaitu 2. 

Di usianya yang ke 15, Christopher Boone tumbuh dengan keyakinan akan menjadi ilmuwan di bidang matematika dan fisika. Sebuah cita cita yang umum bagi seorang anak remaja. Namun Christopher bukanlah anak remaja biasa yang tumbuh dengan biasa. Christopher tumbuh dengan kebutuhan khusus dan perhatian khusus dari orang sekitarnya, terutama orangtuanya. Suatu hari ia mendapati anjing tetangganya, Mrs. Shears mati dengan tusukan garpu kebun di tubuhnya. Ia yang sangat menyayangi anjing itu, Wellington, bertekad ingin mencari siapa pembunuhnya. Keinginannya itu sangat ditentang ayahnya. Namun Christopher tetap gigih melakukan penyelidikan dengan caranya sendiri; mencari jejak, mengurai logika, mewawancarai tetangga dan kemudian menarik kesimpulan dan mencatatnya di sebuah buku. Ia bertekad ingin menulis kisah penyelidikannya ini. Satu satunya orang yang ia bocorkan rahasia seputar rencananya ini adalah Siobhan, salah satu guru sekolahnya yang sangat ia percayai.


Kisah ini bisa dianggap sebagai kisah detektif seperti idola Chrisopher, Sherlock Holmes. Beberapa kali ia menarik kesimpulan berdasarkan kisah2 Sherlock Holmes yang ia baca. Tapi tentu saja, ini bukan kisah detektif biasa karena sang detektif adalah seorang remaja yang menyandang sindrom  Asperger. Selain bertekad ingin mencari pembunuh Wellington, ia juga harus bertekad mengalahkan dirinya sendiri; berbicara dengan orang asing yang selama ini ia hindari, berjalan lebih jauh dari kebiasaannya, menentang ayahnya yang selama ini merawatnya, dan nantinya melakukan perjalanan sangat jauh seorang diri untuk mencari ibunya. Semua itu bukan hal yang mudah bagi Christopher yang membenci warna kuning, yang mempunyai tata letak makanannya sendiri (tidak tercampur satu jenis makanan dengan jenis lainnya),  yang merasa mual dan takut di tengah kerumunan banyak orang, yang marah ketika dipegang orang dan banyak hal lain. 

Membaca buku ini seolah saya dihadapkan pada seorang Christopher Boone secara langsung. Gaya bahasanya yang repetitive, rasa emosinya yang terkadang meledak, rasa takut yang membuatnya muntah, dan emosi yang diakibatkan dirinya yang selalu menuntut keteraturan pada orang orang di sekelilingnya. Emosi ayah ibunya serta orang di sekitarnya juga saya rasakan selama membaca buku ini.. Saya pernah mempunyai seorang murid yang mempunyai sindrom semacam ini. Semula saya tak menyadari bahwa anak yang saya didik di term itu menderita sindrom ini, namun tetap saja ini membuat saya bingung karena ia sering menyapa saya dengan tanpa melihat pada saya. Di beberapa menit sebelum kelas mulai, dia selalu masuk ke ruang guru dan seolah mengingatkan bahwa kelas akan mulai beberapa menit lagi. Dan ini dilakukan sebanyak 2-3 kali dalam 15 menit menjelang kelas mulai. Semula saya anggap ini lucu, tapi iemudian membuat saya kesal, tapi ketika saya tahu bahwa ia menderita sindrom ini, baru saya maklum. Ketika term berakhir, saya berencana mengajak mereka bersepeda keliling daerah tertentu. Murid saya ini mengajak serta saudara kembarnya. Waaahhh….  Saya berpikir, untunglah yang masuk hanya satu anak di kelas saya, tak terbayang jika dua anak kembar berada di kelas. Selama perjalanan, semula semua baik baik saja tapi kemudian timbul masalah ketika saat mereka hendak sarapan. Saya berdalih untuk mencari tempat yang nyaman untuk makan, tapi mereka sangat ngotot untuk makan saat itu juga dimana pun tak masalah. Bahkan mengancam jika mereka tak makan sekarang, mereka bakal mati. Hahhh???!!! Akhirnya saya memilih warung soto terdekat dengan kondisi kurang nyaman. Dan mereka pun membuka bekal makan mereka. 

Jika si penerjemah mengaku kesulitan mengikuti gaya bahasa Christopher yang teratur sesuai kaidah SPOK, dan ia harus bertarung dengan kebiasaannya mengulang kata, saya mempunyai masalah dengan kebiasaannya yang selalu mendeskripsikan sesuatu dengan sangat mendetil, bahkan lengkap dengan ilustrasinya. Belum lagi soal matematika yang selalu muncul hahaha… dengan otak kurang prima di bidang matematika begini yang membuat baca saya sedikit lemot. Semula saya hanya mengejar kisah misterius siapa pembunuh Wellington kemudian berganti dengan misteri ibu Christopher yang menghilang. Namun kemudian saya sadar, kisah ini bukan melulu soal misteri itu, melainkan seorang anak penyandang sindrom Asperger yang berusaha mengalahkan dirinya sendiri di suatu kondisi tertentu, tentang cara observasinya akan lingkungan yang begitu mendetil, carany menenangkan diri, serta bagaimana orang2 di sekitarnya berpikir tentang dirinya. Ini semua membuat saya tahu bagaimana perasaan seseorang dengan sindrom ini berpikir, merasakan dan merespons. 

 NB:
Posting ini saya sertakan dalam event Posting Bareng BBI Oktober 2013 untuk kategori Man Booker Prize. Karya Mark Haddon ini masuk sebagai nominasi Msn Booker Prize tahun 2003. Posting ini juga sekaligus saya sertakan dalam New author challenge. 

Saya menmukan video ini di youtube ketika iseng mencari video dengan kata kunci the Curious Case ... Rupanya bakal ada versi panggungnya dengan harga tiket 12 poundsterling bulan October tahun depan 
 
saya juga menemukan video menyentuh ini dari youtube ketika seorang teman memposting di Facebook pagenya. Christopher Duffley, usia 10 tahun yang buta dan menydang sindrom autis menyanyikan lagu di depan umum #lapairmata


3 komentar:

  1. buku ini sediiiih...terutama tentang hubungan christopher dan bapaknya...jadi pengen baca ulang deh...

    BalasHapus
  2. jadi 1 itu bukan bilangan prima ya? :O

    BalasHapus
  3. Astrid: aku kok ga gitu nangkep sedihnya ya. Tapi trenyuh aja pas bapaknya duduk ndlosor depan pintu pas Christopher puasa ngomong sama bapaknya :)

    Alvina: lhaaa... kau yang lebih tau. Hahaha, dasar otak encer aku ini :D

    BalasHapus