Jumat, 28 Maret 2014

#13 Pacar Senja by Joko Pinurbo




Paperback 162 pages
Published 2005 Penerbit PT Grasindo
Rating 3/5

Tak tahu bagaimana memulai review sebuah buku kumpulan puisi milik Joko Pinurbo ini, yang ternyata adalah antologi 100 puisinya yang diambil dari 5 buku sajak sebelumnya: Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003) dan Kekasihku (2004). Dari kelima buku sajaknya itu, joko Pinurbo harus menyeleksi sekian sajaknya untuk dibukukan kembali dalam bentuk antologi puisi. Tidak semua puisi di buku ini adalah puisi lamanya, ada  dua puisi baru Layang Layang (1980) dan Pohon Bungur (1990). Di dalamnya, Joko memilah lagi sajak sajaknya berdasarkan ide, kisah atau kedekatan tema tertentu ke dalam sub judul.

Ada 7 sub judul di dalam antologi puisi ini. Judul pertama dibuka dengan Celana. Disini Joko bermain kata kata seputar kisah celana sebagai kata yang bermakna harafiah namun lebih sering menggunakannya sebagai kiasan. Pada awalnya, ada beberapa puisi yang membuat saya tergelak karena sedikit vulgar meski tetap indah dalam penyampainnya. Simak saja


Ketika sekolah kami sering disuruhmenggambar celana
yang bagus dan sopan, tapi tak pernah diajar melukis
seluk beluk yang di dalam celana …. (Celana 2, hal. 4)

Entah pikiran saya yang lagi tidak senonoh atau memang demikian yang dimaksudkan oleh si penulis, saya tidak yakin. Dalam puisi ini, saya merasa Joko menyindir para orangtua yang tidak terlalu terus terang tentang beberapa hal yang mereka anggap tabu –seks, sehingga di kemudian hari para anak mencoba mencari tahu sendiri, entah dengan cara yang tepat atau salah 

 Karena itu, kami suka usil dan sembunyi sembunyi
membuat coretan dan gambar gambar porno
di tembok kamar mandi, sehingga kamipun terbiasa menjadi
orang orang yang suka cabul terhadap diri sendiri.

Celana sendiri terkadang bermakna lain di pusinya yang lain. Saya menangkap makna ketakwaan seseorang dalam beribadah. Bahkan bungkus ibadah tak mampu membendung derasnya kecintaan seseorang akan Dzat penciptanya


Celana tak kuat lagi menampung pantat
Yang goyang terus memburu engkau
Pantat tak tahan lagi menampung  goyang
Yang kencang terus menjangkau engkau
Goyang tak sanggup lagi menampung sakit
Yang kejang terus mencengkeram engkau
Telanjang tak mampu lagi melepas,
Menghalau Engkau (Meditasi, hal. 8)

Bercukup Sebelum Tidur adalah judul dari sub judul berikutnya. Terus terang, puisi yang terangkum disini mulai mengajak kening saya berkerut. Kisah kisah di dalamnya cenderung abusrd yang bagi saya susah mencari makna di balik symbol kata ini dan itu. Beberapa saya tangkap adalah kecintaan seseorang terhadap kehidupan duniawi dengan kecantikan badaniah, ketakutan akan ketuaan dan terutama kematian
Ada saatnya ia waswas
kalau yang di dalam cermin
memalingkan muka karena bosan,
karena tak betah lagi berlama lama
Menjadi bayangannya
lalu melengos ke arah tiada

Lagu itu lirih
Suara itu letih
Di ujung kecantikan jarum jam
mulai mengukur irama jantungnya

Aku minta sedikit waktu lagi
buat tamasya ke dalam cemas
Malam sudah hendak menjemputku
di depan pintu.” (Di Salon Kecantikan, hal. 19-22)

Joko banyak menggunakan kata kuburan di dalam puisinya, dari 3-4 sub judul yang mampu saya baca, kata kuburan ini selalu mengambil bagian. Saya tidak tahu mengapa si penulis menyukai menghubungkan segala sesuatu dengan kuburan—kematian. Barangkali saja puisinya cenderung mengajak pembacanya menyadari masa yang akan datang, dengan caranya –gaya puitis yang liris nan tragis. 

Well, saya tak mempu menyelesaikan membaca sekuruh puisi di dalam antologi ini. Terlalu berat buat otak kurang prima saya ini. Semakin panjang puisinya, semakin banyak kata dalam setiap baris kalimatnya, tak terlalu membantu saya memahami apa yang dimaksud si penulis. Saya menunggu nunggu satu judul puisi yang menjadi judul kumpulan antologi ini, Pacar Senja. Ternyata yang saya dapatkan adalah puisi dengan makna ambigu antara kekasih yang datang di kala usia telah senja ataukah taubat yang datang di kala menjelang akhir?  Entahlah…

Sekilas tentang Penulis:

Joko Pinurbo (jokpin) lahir 11 Mei 1962. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1987). Kemudian mengajar di alma maternya. Sejak 1992 bekerja di Kelompok Gramedia. Gemar mengarang puisi sejak di Sekolah Menengah Atas. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001; buku puisi ini kemudian terbit dalam bahasa Inggris dengan judul Trouser Doll (2002). Ia juga menerima Sih Award 2001 untuk puisi Celana 1-Celana 2-Celana 3. Buku puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapat Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2002. Sebelumnya ia dinyatakan sebagai Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Tahun 2005 ia menerima Khatulistiwa Literary Award untuk antologi puisi Kekasihku (2004). Buku puisinya yang lain: Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), dan Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007). Selain ke bahasa Inggris, sejumlah sajaknya diterjemahkan ke bahasa Jerman. Sering diundang baca puisi di berbagai forum sastra, antara lain Festival Sastra Winternachten di Belanda (2002). Oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan sejumlah sajaknya digubah menjadi komposisi musik


Posting ini saya sertakan dalam Posting Baren BBI bulan Maret 2014 dengan tema Puisi

Hasil iseng membaca dua puisi JokPin saya unggah di soundcloud: Pacar Senja dan Telepon Genggam

13 komentar:

  1. Tapi tampaknya keren mbak, mungkin bacanya jangan terburu2, sehari berapa sajak aja gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Thx, Zee. Pengennya sih nulis review sembari membaca jadi kena moodnya. Tapi apa daya.... Ga mampuu...

      Hapus
  2. JokPin ya...
    Ehm....bahkan untuk baca cerpen beliau aja otakku ndak prima. Ndak nemu asiknya di mana x_x

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huakakakaka... Pacar Senja ini yang paling mending untuk posbar dibanding Oka Rusmini dan Beno Siang Pamungkas... IQ jongkok baca tulisan mereka :')

      Hapus
  3. Aku juga pusing baca puisinya beliau ini..
    mendingan baca twitternya beliau deh, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... Aku belum follow twitternya :))

      Hapus
  4. Ehhh puisi pertama yg celana itu lucu juga ya hehehe... tapi puisi yg terakhir bikin berkerut2 XD emang butuh mikir dan suasana tenang bacanya kali ya, ga bole buru2 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di separo buku terakhir bikin kriting jidat. Jadi kucukupkan saja bacaku di tengah hahaha

      Hapus
  5. Hahahaha ngakak baca yg pas puisi celana. Iya baiknya baca puisi emang pelan2 dan diresapi kali ya, trus kita galau massal habis itu hahaha

    BalasHapus
  6. Ikut ngakak baca yg bagian "Celana" itu. Gaya beliau simpel tapi menghentak dan bermakna banyak ya. Keren penyair ini.

    BalasHapus
  7. Selamat Pagi. Kak, saya sangat tertarik dengan buku Pacar Senja. Sudah banyak toko buku baik besar dan kecil bahkan sampai di jejeran buku-buku murah kawasan Terban sama TBY udah saya putaru di daerah jogja tapi nggak pernah nemu buku itu. Kalau memang kakak ada bukunya saya SANGAT tertarik untuk beli. Terima kasih sebelumnya kak, bisa hubungi saya lewat praktikum.sigter@gmail.com kalau memang boleh dibeli kak :( terima kasih sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, maaf ya. Itu buku juga saya dapat minjem. Yang punya ngga mau jual juga...

      Hapus