Selasa, 29 April 2014

#15 Pengakuan Eks Parasit Lajang by Ayu Utami





Paperback 328 pages
Published Kepustakaan Populer Gramedia Februari 2013
Rating 3,5/5



Sinopsis:

Pengakuan Eks Parasit Lajang adalah otobiografi seksualitas dan spiritualitas pertama di Indonesia. Kisah nyata ini ditulis dalam bentuk novel dengan tokoh A, seorang perempuan yang memutuskan untuk melepas keperawanannya di usia dua puluh tahun, untuk sekaligus menghapus konsep keperawanan yang baginya tidak adil. Selama tahun-tahun berikutnya, yang ia coba lakukan dalam hidup pribadi adalah melawan nilai -nilai adat, agama dan hukum yang patriarkal. Tapi ia berhadapan dengan fakta bahwa patriarkal adalah kenyataan sejarah. Adakah jalan ke luar dari sana? Menyesalka ia sehingga memutuskan menjadi  "Eks Parasit Lajang"?

Buku ini mengambil judul Pengakuan, dari Confessiones yang ditulis St. Agustinus, otobiografi pertama sekitar 1600 tahun silam yang masih tersimpan sampai sekarang.

Seksualitas dan spiritualitas adalah topik penting disini. Tak heran, beberapa teman saya mengatakan bahwa buku-buku Ayu Utami itu saru, tabu dan terlalu vulgar. Buat saya pribadi saya masih menerima ke-saru-an Ayu dengan bahasa sastranya yang indah dan cerdas. Tak heran pula, beberapa reviewer di goodreads yang merasa emosional ketika buku ini berbicara tentang spiritualitas dari sudut pandang agamanya. Meski Ayu berpendapat ini adalah pendapat jujurnya, hasil pelajaran pengakuan dosanya sejak kecil, tetap saja ketika ia menyitir beberapa kejadian di kitabnya, banyak pihak yang emosi. Saya tak bisa membayangkan jika ia berada di sudut pandang agama yang sama dengan saya. Well, terus terang, saya pribadi tidak mengenal cerita-cerita sedetil Ayu di kitabnya. Saya mengenal dari kisah-kisah yang diceritakan ketika saya masih kecil dari orangtua, guru agama hingga bacaan yang sudah di simplified. 


Sepuluh tahun lalu, Ayu menerbitkan buku Pengakuan Parasit Lajang. Saya yang waktu itu juga masih lajang, tertawa-tawa saja membaca 10+1 alasan kenapa tidak menikah. Saya merasa punya teman, sebagian wanita yang lain bahkan merasa mempunyai pembela. Ketika seseorang bertanya, 'mengapa kau tidak menikah'?, ia akan menjawab 'ah, santai saja, si Parasit Lajang juga tidak menikah' (saya tidak pernah menjawab demikian ketika seseorang bertanya pada saya). Tidak heran, 10 tahun kemudian, ketika buku ini terbit, sebagian wanita itu merasa syok, depresi karena tokoh idolanya mengakhiri masa lajangnya. Sementara saya sendiri, yang tetap jadi parasit lajang di rumah ibu saya, merasa itu adalah hak seorang Ayu Utami untuk 'mengkhianati' 10+1 alasannya sendiri yang ia tulis 10 tahun lalu. 

Menikah dan menjaga keperawanan bagi perempuan, menjadi semacam tradisi di lingkungan bahkan turun temurun. Jika seorang wanita tidak menikah, hingga usia tertentu, maka ia akan disebut perawan tua, yang akibatnya akan menjadi perempuan jahat yang nyinyir, suka bersilat lidah, seperti yang dikisahkan A tentang 2 bibinya, guru-guru sekolahnya yang selalu sirik dengan para murid cantik, dan bercerita jahat tentang orang -orang yang menikah. Stereotip itu seolah membenarkan definisi perawan tua. Terus terang, saya sedih jika itu yang beredar di budaya sini. Saya, sebagai lajang, tak pernah mengurus gosip apapun tentang pernikahan teman-teman saya. Saya juga selalu fair dengan murid-murid saya yang cantik dan pintar. Justru beberapa teman saya yang terdengar sirik setiap kali saya bepergian sana sini tanpa minta ijin suami, pergi dengan bawaan ala kadarnya yang jelas berbeda dari mereka yang sudah berbuntut satu, dua hingga tiga. Saya tak pernah berpikir untuk berucap "enak ya yang sudah menikah, kalo mo beli beli bisa tinggal minta suami, piknik bareng anak dan suami, etc....". Herannya, justru mereka yang sering kali menanyakan, buat apakah gaji saya setiap bulan karena tidak ada yang saya tanggung? Apa urusannya?? (weh, edisi curcol nih review). Hahaha...

Mari kembali ke novel. :D

A dibesarkan oleh keluarga yang sangat relijius. Ia bersekolah di sekolah agama yang kemudian justru membuatnya berpikir jauh tentang ajaran agamanya seputar kedudukan seorang perempuan. Kenapa imam, nabi-nabi selalu laki-laki? Kenapa Tuhan menciptakan perempuan dari tulang rusuk Adam? Kenapa Hawa memakan buah pengetahuan hingga mereka tahu betapa nikmat buah pengetahuan itu? Beribu pertanyaan berputar di kepala A dari kecil hingga ia memutuskan melepas keperawanannya tanpa ikatan perkawinan, petualangannya dengan para pria, dan akhirnya memutuskan mengakhiri menjadi parasit lajang. Keputusannya ini bermula dari kejadian-kejadian di kitabnya, tradisi yang beredar di budayanya yang ingin ia lawan. Keputusannya ini pula yang membuatnya melepas ritual agamanya karena pendosa (zina adalah dosa di agama apapun) tak layak memasuki areal suci gedung peribadatannya. Dia meninggalkan semuanya kecuali doa-doa pribadi dan pengakuan dosa pribadi yang tak jarang ia sampaikan secara langsung pada orang yang telah ia lukai.



Membaca buku ini membuat saya bersyukur mempunyai otak kecil yang tentu saja tidak sebesar A hingga berani melawan tradisi dan agamanya. Memang membutuhkan keberanian yang luar biasa untuk tampil sebagai A yang tidak perawan tapi tidak selibat. Mengakui masih lajang di usia sekarang saja cukup sulit (yang jelas saya adalah lajang yang hepi :D). Sulit, bukan suatu ketakutan, karena menurut ibu A, "jika kamu takut sesuatu, sesuatu itu harus diperjelas, sesuatu itu harus dihadapi".   Menjadi lajang di usia setinggi ini tidak mudah, menurut saya lebih mudah menikmati hidup daripada mengakui masih lajang hahaha. Saya dulu, sering kali membaca curhatan pribadi pembaca di kolom-kolom majalah, mayoritas perempuan, paling banyak adalah curhat seputar sulitnya mencari pasangan atau pekerjaan. Sedihnya jika dua masalah itu datang bersama-sama. Saya sanggattt bersyukur mempunyai pekerjaan dan teman-teman serta keluarga yang tidak lagi bertanya tanya kapan saya menjadi eks parasit lajang.

Posting ini saya sertakan dala event posting bareng BBI  April 2014 tema Perempuan


5 komentar:

  1. awww... i like your review la :) jadi inget dulu aku salah satu penggemar berat parasit lajang. sayang yang pengakuan ini belum sempet aku baca, penasaran juga dengan perubahan cara pandang si A di sini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Thx, Astrid. Ni edisi curcol ceritanya...

      Ayo, dibaca yang Pengakuan ini...

      Hapus
  2. setojoooohhhhhh...yang penting happy, lajang or eks lajang gak masalah ..tp tergantung parameter happy juga sih yaa...parameter happy tiap orang kan bisa beda-beda..

    BalasHapus
  3. Nyahahaha... Aku hepi kok, Es. Suweerrr.... :D:D

    BalasHapus
  4. waduh, eng.. aku malah melepas keperawananku di usia delapan belas! *ditempeleng eks parasit lajang

    BalasHapus