Kamis, 01 Mei 2014

#17 Slammed (Cinta Terlarang) by Colleen Hoover




Paperback 336 pages
Alih bahasa: Shandy Tan
Published April 2012 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 3/5

Hidup Layken Cohen, menjelang 18 tahun, tak sama lagi begitu ayahnya meninggal karena serangan jantung. Semakin buruk dengan pindahnya dia dan keluarganya ke Ypisilanti, Michigan. Lake, panggilan keluarganya, harus meninggalkan Texas, kota tercintanya dan rumah kenangan bersama ayahnya. Mood Lake berubah seketika ketika ia bertemu dengan Will Cooper, tetangga seberang rumahnya. Will dan adiknya, Coulder, langsung akrab dengan keluarga Lake.

Lake dan Will saling tertarik di hari pertama mereka bertemu. Begitu juga dengan adik-adik mereka, Kel--adik Lake dan Coulder yang sama -sama berusia 9 tahun. Sayangnya, Will-Lake tak bisa melanjutkan perasaan mereka karena ternyata Will adalah guru kontrak di sekolah Lake, dan Lake, tentu saja adalah muridnya. Cinta antar tetangga seberang rumah tiba-tiba berubah menjadi cinta terlarang guru-murid. Will, dengan latar belakang keluarga yang cukup kompleks tak mungkin melepaskan pekerjaannya demi Lake. Sementara itu, Lake kembali dihadapkan dengan kenyataan pahit ketika tau ibunya mengidap kanker paru-paru stadium empat. 

Membaca buku ini serasa melepaskan ketegangan seusai dua buku sebelumnya yang menjadi tema posting bareng. Ringan, lucu tapi cukup menyentuh. Sayangnya, saya kurang menyukai karakter Lake dan Will yang suka berubah -ubah. Satu menit sayang, menit berikutnya menyesal. Fuuhh, capek deh dengan hubungan macam gini. Meski di bagian akhir, Lake menjadi lebih dewasa, tapi tetap saja mengganggu mood baca. Demikian juga dengan Will, satu detik dia lovable, detik berikutnya menjadi jerk. Huh! Sengaja kali ya Colleen menulis karakter macam begini. :D Yang justru saya suka disini adalah Eddie, sahabat baru Lake dengan latar belakang yang fantastis; dia berasal dari berbagai macam keluarga angkat hingga ia mempunyai 29 saudara dan entah berapa orangtua. Tak heran, ia mempunyai karakter yang unik yang sangat mencuri perhatian saya. Yang membuat saya tersentuh dan sedikit berkaca-kaca juga justru pada hubungan Eddie-Joel, ayah angkatnya, bukan pada hubungan gak jelas Lake-Will atau Lake-ibunya yang tengah sekarat. 


Yang menjadikan saya suka dan surprised mengenai buku ini adalah deretan puisi! Ya, PUISI. Tadinya saya pikir Slammed ini semacam novel romance dengan bumbu sedikit kipas, ternyata saya salah besaarrr... Hahaha. Saya terpana dengan puisi pertama yang muncul di buku ini sekaligus menjelaskan apa itu Slam. Slam adalah malam puisi di sebuah kelab dimana setiap orang bebas membacakan puisi mereka di panggung dengan beberapa juri dari penonton pula yang akan menilai penampilan dan puisi yang dibawakan. Saya tiba-tiba teringat dengan film AADC, yang dulu sempat mempopulerkan puisi di kalangan remaja kala itu. Puisi menjadi ajang apresiasi sastra yang tiba-tiba disukai remaja (setidaknya saya lihat dari beberapa murid saya waktu itu). Sayangnya, setelah popularitas AADC hilang, hilang pula gaung puisi. Boro-boro puisi, membaca sastra saja tak begitu populer di kalangan sekolah saat ini. 


"Nilai bukanlah tujuan: tujuannya adalah puisi (Allan Wolf)"


Puisi yang tersebar disini bukan puisi dengan kata-kata penuh metafora atau personifikasi, tapi yang menarik, puisi -puisi disini ditulis dengan deretan diksi yang biasa tapi benar-benar datang dari hati. Seperti puisi pertama yang menyihir saya di awal novel:

Deg deg
Deg deg
Deg deg
Kau dengar itu? Itu bunyi detak jantungku
Deg deg
Deg deg
Deg deg
Kau dengar itu? Itu bunyi detak jantungmu
(sunyi)
Kau dengar itu? Pasti tidak. Itu bunyi mati janinku

Yang paling epik tentu adalah puisi curahan hati Will terhadap Lake. Saya saja bergetar membacanya, apalagi Lake. Duh...

Dulu aku mencintai laut
Mencintai semua tentangnya
Karang koralnya, puncak putihnya, ombaknya yang bergemuruh
Karang yang dijilatinya, legenda bajak lautnya
Dan ekor para putri  duyung,
Harta Karun yang hilang dan harta karun yang terpendam
Dan SEMUA
...........
Semua tidaklah nyata,
Palsu belaka
Jadi simpan saja laut untukmu
Aku akan memilih Danau
Danau=Lake
Uh..oohh... Meleleh melelehhh...

Yang lucu, saya menemukan satu bagian di buku ini yang mengingatkan saya pada Kdrama yang baru saya tonton, You Who Came from the Star. Bagian ketika Lake mengingat kembali ketika ia diberitahu tentang kematian ayahnya. 

Menurut Elizabeth Kubler Ross, ada lima tahap yang dilewati orang yang berduka setelah ditinggal mati  orang yang dikasihinya: penyangkalan, amarah, tawar-menawar, depresi dan penerimaan  (hal. 140)

Yang membedakan adalah di novel ini, Lake benar -benar mengalami kematian ayahnya, di film, Cheong Son-yi ditolak oleh si Alien hahaha... #reviewngelanturini :D. Adalah suatu hal yang lumrah ketika berita buruk datang, banyak hal yang dialami oleh seseorang hingga mencapai tahap penerimaan. 

Teenlit novel ini saya rekomendasikan pada siapa saja yang suka romans ringan. Sayang, kenapa ada sekuelnya ya? Duh...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar