Jumat, 27 Juni 2014

#23 Catatan Ichiyo by Rei Kimura




Catatan Ichiyo: Perempuan Miskin di Lembar Uang Jepang
Judul asli: A Note from Ichiyo
Penerjemah: Mochammad Murdwinanto
Published Maret 2012 by Gramedia Pustaka Utama
Paperback 280 halaman
Rating 3/5

"Siapa yang tahu? Kau mungkin akan menjadi sangat terkenal hingga suatu hari wajahmu akan muncul dalam salah satu lembaran uang kertas Jepang". (hal. 173)
Siapa saja kah yang menghiasi lembaran uang rupiah? Jika diperhatikan hampir semua lembar memasang wajah para pahlawan baik pria maupun wanita. Semua orang berjasa besar untuk negeri tercinta ini dengan menyumbangkan tenaga, pikiran hingga nyawa mereka. Ichiyo, bukanlah pahlawan wanita Jepang yang mengangkat senjata demi negara tercinta, tapi sumbangsih nya terhadap dunia sastra Jepang begitu besar hingga wajahnya menghiasi lembaran uang 5000 yen Jepang lebih dari satu abad! Jadi, siapa perempuan istimewa ini?

 Ichiyo Higuchi, terlahir dengan nama Natsuko Higuchi dari keluarga non Samurai yang akhirnya berhasil mensejajarkan diri dengan keluarga Samurai. Lahir tahun 1872 sebagai anak ketiga keluarga Higuchi, Furuya, sang ibu nyaris tidak menginginkan kelahirannya. Tapi si bayi tetap bertahan seperti kehidupannya kelak yang keras dan ia tetap bertahan. Sejak kecil, Natsu alias Ichiyo sudah menunjukkan bakat spesialnya yang didukung sepenuhnya oleh ayahnya, Noriyoshi yang berharap si anak bakal membawa perubahan di keluarganya. Sejak usia sangat belia, Natsu kecil sudah fasih membacakan syair-syair klasik yang memukau rekan-rekan ayahnya. Ibunya, sebaliknya tidak mendukung bakat putrinya karena apalah yang bisa dilakukan perempuan di era Meiji selain melakukan tugas-tugas tradisional perempuan pada umumnya. 



"Apa yang kau coba lakukan, Noriyoshi? Kita hidup di Jepang dan kau tahu posisi seorang wanita disini, kan?" (Furuya)
"Aku percaya pada Natsuko dan masyarakat pada akhirnya akan mengakui bakatnya yang istimewa dalam kesusastraan dan menerima kenyataan bahwa bakat tersebut berasal dari seorang perempuan." (Noriyoshi) (hal. 51)


Natsuko tumbuh dengan kecintaan yang luar biasa pada buku dan kesusasteraan dan keyakinan akan bakat besar dalam dirinya. Sayang, era Meiji adalah era dimana perempuan masih harus melakukan tugas-tugas tradisional. Penulis perempuan kenamaan semacam Nakajima tidak memberikan kesempatan bagi gadis belia yang sedang menggebu-gebu dalam belajar. Meninggalnya sang ayah semakin menutup pintu-pintu koneksi dan perkumpulan sastra yang selama ini menjadi oase kehidupan bagi Natsuko. 

Kesempatan kecil sempat muncul ketika hati Natsuko tertambat pada Nakarai Tosui, penulis roman-roman picisan yang tampan dengan kehidupan glamor. Tidak memedulikan reputasi buruk Tosui, Natsuko tetap menemui pria yang mencuri hatinya ini dan sekaligus menjadi inspirasi dalam novel-novelnya kelak. Tosui adalah pemilik koran dengan reputasi biasa saja. Cerita-cerita Ichiyo muncul disana tanpa bayaran yang sepandan. Sementara keadaan finansial keluarga Higuchi semakin terpuruk kian hari. Berpindah dari satu tempat kumuh ke tempat kumuh yang lain harus dilakukan. Berganti pekerjaan demi kondisi keuangan dan sementara berhenti menulis sempat dilakukan, namun sama sekali tidak memperbaiki keadaan.  Natsuko seolah diciptakan untuk menikmati penderitaan berkepanjangan.

Akhir yang manis setelah berlembar -lembar saya membaca buku ini akhirnya terasa di sekitar 20 halaman terakhir. Itu pun masih harus bersiap diri menemukan kenyataan pahit di akhir hayat penulis di usianya yang ke-24. Hmmm.... Begitu pahitnya kehidupan seorang penulis perempuan di era Meiji meski pada akhirnya muncul penerimaan publik bahwa Ichiyo Higuchi layak diperhitungkan.


Ichiyo Higuchi bagaikan nyamuk menjengkelkan yang menolak pergi meski sudah ditepuk berkali-kali. Pada akhirnya, bahkan para pria yang gemar menyepelekannya sebagai seorang wanita dengan gangguan mental tak layak diperhitungkan dan tidak mungkin menorehkan namanya dalam dunia sastra Jepang yang didominasi kaum pria, sekarang terpaksa mengakui.....(hal. 244)


Unsur-unsur Asia khususnya Jepang sangat terasa di buku biografi setebal 280 halaman ini. Beberapa istilah umum yang bisa ditemukan di novel Jepang lainnya juga digunakan disini, misalnya futon (semacam kasur/matras tipis), ryokan (penginapan), kebiasaan melepas sandal di genkan yang cukup saklek, hingga istilah-istilah kumpulan sastra waktu itu; bundan (komunitas sastra). Jenjang strata keluarga sangat kental di era Meiji (1868-1912), tidak heran jika Noriyoshi begitu berhasrat menaikkan status keluarga mereka setara dengan Samurai. Mindset yang berhubungan dengan status juga sangat kental di era kekuasaan Kaisar Meiji ini, yaitu pedagang lebih rendah posisinya dibandingkan petani (hal. 181).

Membaca buku ini dengan bab pertama yang menceritakan akhir hayat si tokoh utama serasa saya membaca sambil menunggu kematian. Terus terang, saya merasa sia-sia membaca dengan akhir yang sudah jelas di awal kisah. Belum lagi kondisi memprihatinkan yang mewarnai kehidupan si tokoh utama di akhir hayatnya juga bakal saya 'nikmati' sepanjang buku. Pahit memang. Tapi paling tidak, Rei Kimura si penulis Catatan Ichiyo ini mencoba menularkan spirit pantang menyerah yang dimiliki Ichiyo dalam kondisi seburuk apapun. Deskripsi penderitaan Ichiyo juga terasa panjang dan lama membuat saya geregetan kapan si gadis dalam lembar uang Yen ini bakal menemukan kebahagiaan. Saya juga cukup geregetan dengan keputusan Ichiyo yang nyaris 'menjual diri' pada lelaki kaya demi mendapatkan 'kebahagiaan' bagi dirinya dan ibu serta adiknya. Bagaimana mungkin, seorang gadis keras kepala dengan bakat besar seperti dirinya berpikiran sempit untuk melacurkan diri? Hmm... Mungkin saya saja yang kurang tau kondisi di masa itu. Tapi tetap saja saya geregetan.

Overall, kisah kehidupan Ichiyo Higuchi ini cukup menginspirasi pembaca yang berpikir akan menyerah dari keadaan. Berikut karya-karya Ichiyo selama hidupnya. Kelima novel ini aktif ia tulis sepanjang tahun 1895-1896 menjelang akhir hayatnya di bulan November 1896. Semuanya ia tulis berdasarkan pengalaman, pengamatan, observasi yang teliti hingga menjadikan novel-novelnya meraup kesuksesan dan menjadikannya wanita yang 'hidup' sepanjang jaman di lembar uang 5000 Yen.

1. Child's Play.
2. Separate Ways
3. On the Last Day of The Year
4. Troubled Waters
5. The thirteenth Night

Gambar Ichiyo di lembar uang Jepang




Tentang Rei Kimura:
 
Rei Kimura is a lawyer with a passion for writing about unique events and personalities. She has adopted an interesting style of creating stories around true events and the lives of real people in a number of her books, believing that is the best way of making hidden historical events and people come alive for 21st century readers.
With this objective in mind, Rei has touched on historical events like the horrific sinking of the Awa Maru and the Kamikaze pilots of World War II and woven them into touching stories of the people who lived and died through these events.
Then there are stories of courage, love and rejection beautifully portrayed in “Butterfly In the Wind” a story of the concubine of Townsend Harris, first American consul to Japan, set against the colorful and turbulent era of the Black Ships. This book has touched the hearts of many and been translated into languages from Spanish, Polish, Russian, Dutch to Thai, Hindi, Indonesian, Marathi.
Rei's writing also touches on interesting issues like that raised in “Japanese Magnolia” a book based on the true story of two men, a samurai and a peasant who dared to cross two forbidden areas in feudal Japan, that of homosexuality and a class society “so sharply defined it cut like a knife.”
Other controversial stories she has written include “Japanese Rose” a book which asked the question was there ever a Japanese female kamikaze pilot in the Second World War?
But it's not all history and culture, she also writes on contemporary events like “Aum Shinrikyo-Japan’s Unholy Sect” an expose of the 1995 sarin gas attack on the Tokyo subway. Occasionally, her love for animals and sense of humor surfaces in this very heart warming and delightful story of a rogue Pomeranian dog, “My Name is Eric,” a complete departure from Rei’s normal story lines but nevertheless, a refreshing one!
Kimura considers her writing as part of the perennial quest for truth, challenge and fulfillment. Her books have been translated into various Asian and European languages and widely read all over the world.
Apart from being a lawyer, Rei Kimura is also a qualified freelance journalist and is associated with the Australian News Syndicate. (sumber: goodreads)

Note:

Posting ini saya sertakan dalam Posting Bareng BBI dengan tema Sastra Asia bulan Juni 2014.


4 komentar:

  1. Kemarin aku hampir review buku ini untuk posbar tema wanita... tapi malas bikin reviewnya dan malah milih buku Sidney Sheldon.

    Padahal rencananya mau ngerendengin uang 5000 yen Ichiyo dengan uang 10.000 rupiah-nya Kartini dan Cut Nyak Dien :P (angkanya kelihatan lebih gede, tapi nilai intrinsiknya sih jauh...)

    BalasHapus
  2. eh ternyata nggak tebel tebel banget ya, bukunya. dulu mau baca tapi kok.. awang awangen, ngga suka kavernya x_x

    BalasHapus
  3. duuuh kayaknya suram banget kehidupan ichiyo ya :( suka stress sendiri baca kisah nyata yang penuh penderitaan..

    BalasHapus
  4. mau komentar apa, ya? bingung. terharu dengan perjuangan beliau. :')

    BalasHapus