Rabu, 15 Oktober 2014

#34 Between Shades of Gray by Ruta Sepetys


EBook format
Published March 22nd 2011 by Philomel Books
Rating 4,5/5

Sebelumnya, saya hanya mengenal Hitler yang catatan genocide nya terhadap bangsa Yahudi begitu memilukan. Sebelumnya, saya hanya mengenal Stalin begitu saja, tanpa tahu siapa sosok populer ini. Dan saya mengenal 'kekejamannya' di buku ini dari kacamata Lina Vilkas.

Lina, gadis 15 tahun biasa yang menyukai melukis segenap jiwanya, mempunyai keluarga yang saling mengasihi dan rumah yang nyaman di Lituania. Segalanya lenyap dalam sekejap setelah penjemputan paksa tentara Rusia terhadap rakyat sipil dari keluarga terpelajar. Lina juga harus terpisah dari ayah tercintanya.

Lina, ibu dan adiknya Jonas diangkut di sebuah kereta gelap gulita, berjubel dengan puluhan, mungkin ratusan orang lainnya, termasuk ibu muda yang baru saja melahirkan bayinya. Berhari-hari mereka tersekap dalam kereta gelap dengan tulisan besar-besar di punggung kereta "Prostitute and Thieves". Semua kegiatan dari mulai makan, tidur, aktivitas buang air besar dan kecil dilakukan di sebuah lubang khusus, hingga menjaga kewarasan dilakukan di dalam gerbong kereta tanpa tahu dimana dan kapan mereka akan berhenti.


Di dalam gerbong kereta itu, ada banyak keluarga lain yang bernasib sama, ingin tahu dimana kepala keluarga mereka berada, termasuk Andrius dan ibunya yang cantik. Perjalanan gerbong ini akhirnya berakhir di sebuah tempat yang bernama Altai (Republik Altai terletak di distrik Serbia, Rusia). Rakyatnya yang miskin dipaksa menampung para imigran paksa ini. Disini mereka harus bekerja keras: menanam kentang dan buah beet, dan menggali lubang yang diperuntukkan bagi mereka imigran, yang mati. Para wanita dipaksa membangun barak-barak baik bagi tentara Rusia yang bergelar NKVD ataupun untuk mereka sendiri. Pekerjaan ini dipersulit dengan minimnya bahan bangunan serta cuaca musim salju yang kejam.

Meski terpencil jauh, namun suhu politik panas di Negara mereka terasa hingga di tempat penampungan. Stalin yang kalah melawan Hitler dan Hitler yang digadang-gadang bagi para imigran ini bakal menyelamatkan nasib mereka. Namun kenyataan lain berbicara. Mereka tetap tersekap hingga belasan tahun kemudian…
***
Membaca buku ini saya merasa duduk di kursi yang di beberapa tempat terdapat paku yang bakal mencuat dan menusuk pan*at saya. Bagaimana tidak, kekejaman tentara Rusia ini sering kali membuat saya terpekik ngeri atau mengeluh sedih. Penggambaran dari suasana kumuh serta kemiskinan para imigran ini hingga penyakit menggeroti satu persatu karakter kesayangan saya. Seperti biasa, sebagai penyuka happy ending story, saya kepengen si ini jangan mati, si itu juga. Tapi ternyata si pengarang ‘tega’ mematikan si ini atau si itu. Meski suram, si penulis masih menyelipkan humor satir yang cukup membuat saya tersenyum pedih. Simak saja:
“Oh, yes, a piece of black forest torte and a cognac or two,” laughed Mrs. Arvydas.“I’d love a nice hot coffee,” said Mother.“Strong coffee,” added the bald man.“Wow, I never thought it could feel so good to be clean!” exclaimed Jonas, looking at his hands.
Humor ini terselip setelah kereta yang membawa mereka berhenti dan mereka diperintahkan mandi. Mandi? Sempat saya ketakutan dengan adegan mandi ini teringat kisah mandi di The Boy in Striped Pajamas. Tetapi ternyata saya salah :D #legaaa

Lina, si main character disini sangat mewakili pearasaan, observasi serta perlawanan rakyat sipil terhadap penguasa. Kemarahannya sering kali mengundang bahaya bagi dirinya. Bukan sesuatu yang yang frontal, namun perlawanan ini ia tuangkan dalam lukisannya.  Daya imajinasinya yang liar membuat saya penasaran akan lukisan Lina. Kekagumannya terhadap pelukis dari Jerman Edvard Munch sedikit memberi gambaran saya akan seperti apa lukisan Lina.

It started. Snakes slithered out of his collar and wrapped themselves around his face, hissing at me. I blinked. A gray skull sat on his neck, its jaws flapping, laughing.
Hih… sebegitu liarnya imajinasi Lina untuk bayangan seseorang yang begitu ia benci yang pernah melakukan pelecehan seksual terhadapnya.

Untuk membantu saya sendiri membayangkan lukisan Lina, saya mencoba browse lukisan milik Edvard Much. Beberapa yang mungkin mewakili imajinasi Lina ada di beberapa lukisan berikut ini


sumber Google

Membaca novel historical fiction ini seperti membuka luka lama Perang Dunia II (topic yang sebenarnya saya suka, tapi miris selama membaca novelnya L). Dan tentu saja mau tak mau, saya yang buta akan sejarah PD II dan derita Negara-negara yang berkondlik waktu itu, membuat saya kembali belajar sejarah dan mengenal nama-nama besar yang besar karena keberhasilannya menaklukan dunia sekaligus menorehkan sejarah kejahatannya terhadap manusia. Meski diberi label Children literature,  dengan memasang Lina, bocah 15-16 tahun, muatan kisah di dalam novel ini membuat saya terpana sekaligus miris. Apalagi dibagian akhir kisah, penulis menyebutkan semua kejadian di novel terinspirasi oleh kisah nyata yang didapaatkan penulis dari wawancara para survivor imigran Lithunia.


2 komentar:

  1. Saya suka novel ini!! Lumayan, bisa melihat dari sudut pandang negara lain sewaktu zaman Hitler

    BalasHapus