Sabtu, 29 November 2014

#40 The Giver by Lois Lowry


Paperback 230 pages
Published Agustus 2014 by Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah Ariyanti Eddy Tarman
Rating 4/5

Bagaimana rasanya hidup di dunia yang sempurna tanpa mengenal arti Cinta?

Jonas sebentar lagi akan menjadi Dua Belas, moment yang membuatnya bergairah sekaligus khawatir. Setiap anak yang menjadi Dua Belas akan menerima tugas yang sudah disesuaikan dengan bakat si anak. Beberapa anak sudah yakin akan bekerja di tempat mana mereka akan ditugaskan, sementara Jonas tidak merasa yakin akan berada dimana.

Waktunya pun tiba. Nama Jonas terlewati begitu saja. Ada yang salah pasti. Ketika akhirnya namanya disebut, dia mendapat kehormatan menjadi si Penerima. Penerima? Apa itu? Menurut si Penerima yang akan segera menyelesaikan tugasnya, sebagai si Penerima, Jonas akan menerima ingatan-ingatan sekian banyak warga dari berpuluh-puluh tahun lalu. Ingatan itu selain menyenangkan juga menyakitkan.

Di dunia Jonas, semua tampak sama, taka da yang lebih menonjol dari yang lain, semua mempunyai usia yang sama di satu waktu. Jonas, Fiona, Asher dan masih banyak anak lain menjadi Dua Belas di bulan Desember. Tak ada perang, tak ada upacara atau acara-acara special semacam ulangtahun. Para lanjut usia hidup ‘bahag ia’ dan tenteram dan rumah lanjut usia hingga wakru ‘pelepasan’ mereka. Akan ada upacara khusus untuk pelepasan ini hingga cukup berkesan bagi lanjut usia. Well, apa itu pelepasan?


Sementara itu di rumah Jonas, ada anggota baru, anakbaru bernama Gabriel yang diberi kesempatan lolos dari 'pelepasan' hingga ia menjadi Satu Desember nanti. Sebagai Penerima baru, Jonas diperbolehkan berbohong. Secara diam-diam ia mentransfer ingatan-ingatan indah nan hangat pada si bayi, sesuatu yang melanggar aturan. Lambat laun, Jonas menyadari ada kesalahan dengan sistem Kesamaan di dunianya. Dia harus berbuat sesuatu untuk mengubah sistem Kesamaan. Mengubah hitam putih menjadi berwarna, mengubah rasa hormat dengan Cinta, mengubah keteraturan semu menjadi lebih manusiawi. Bagaimana caranya?

Membaca novel distopia selalu saja membuat saya berpikir, apakah akan sedemikian canggihnya masa yang akan datang hingga menanggalkan sisi humanis manusia? Ketika segala teknologi mengalahkan hubungan antar manusia hingga yang ada hanya kesempurnaan semu tanpa kehangatan dan cinta. Sangat-sangat tragis. Saya tak mau mengalami dunia macam begini. Saya lebih memilih menjadi ingatan yang hidup dalam diri si Penerima jika saja dunia distopia Lois Lowry ini menjadi nyata. Aahh, semoga tidak akan terjadi.

Beberapa waktu lalu, saya juga sempat menonton film adaptasi dari buku ini. Brenton Thwaites, Jeff Bridges, Meryll Streep, Katie Holmes, Taylor Swift (eh, baru tau dia yang jadi Rosemary—duh tonton ulang deh J) dll menjadi lead characters dalam buku ini. Seperti biasa, secara tidak langsung saya akan membandingkan antara buku dan film. Dan hasilnya, filmnya lebih berwarna dan membuat dada sesak. Selama membaca bukunya, beberapa kali saya ternganga dengan system Kesamaan dalam duinia Jonas, dalam film ada hal-hal lain yang tetap membuat saya terkesan. Beberapa bab sedikit berbeda dari versi buku tapi tetap mendukung ide cerita bahkan menurut saya lebih bagus. Umumnya novel dystopia selalu tebal dan detil dalam hal peraturan ini dan itu, tidak demikian dengan The Giver. Sederhana namun menyentuh. Adegan bunuh-bunuhan juga tidak terlalu kentara. Saya paling suka adegan akhir di film, namun akhir menggantung ada di novel hingga saya sesegera mungkin melanjutkan novel, namun ternyata…… #nospoilerdetected :D

Trailer filmnya The Giver 2014

The Giver ini memenangkan Newberry Award tahun 1994 dan sudah terjual lebih dari 10 juta kopi di seluruh dunia. Di beberapa Negara, seperti Amerika, Canada dan Australia, novel ini menjadi buku wajib baca di sekolah-sekolah menengah. Kereenn..

Note:

Postingan ini saya sertakan dalam Posting Bareng BBI Newberry Award. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar