Sabtu, 29 November 2014

#41 13 Reasons Why By Jay Asher


Paperback 287 pages
Published Oktober 2011 by M-Pop (Kelompok Matahati
Penerjemah: Mery Riansyah
Rating: 4/5

Apa efek terburuk dari bullying?
Mati
Terbunuh
Atau bunuh diri

Hannah Baker memilih yang kedua.

Hannah, remaja yang mungkin tidak pernah menikmati indahnya persahabatan, hangatnya berpacaran, seru-seruan dengan teman seusianya karena ia terburu menelan pil yang mengakhiri hidupnya. Tapi dia tidak tinggal diam sebelum ia mati. Ia harus memberi 'pelajaran' bagi para pengganggunya. Ia ingin, tak ada lagi bullying yang berakhir seperti dirinya.

Maka, dia buatlah 7 kaset berisi rekaman alasan mengapa ia mengakhiri hidupnya. Kaset2 itu ia 'dedikasikan' untuk mereka yang telah mewarnai hidupnya secara kelam. Nama-nama siswa yang memang bermasalah, siswi yang tampak manis, rekan yang dari luar terlihat loveable, cowok pendiam tak percaya diri, dan gurunya. Semua nama itu saling terhubung, terkait dan berujung hilangnya nyawa seorang remaja.


Diceritakan dengan dua narator sekaligus, suara Hannah di kaset dan Clay Jensen yang mendapat giliran mendapat paket kaset dan mendengarkan namanya masuk dalam 13 alasan Hannah. Rasa ingin tahu dan depresi Clay selama mendengarkan kaset2 itu serasa menular pada saya. Beberapa kali saya percaya bahwa Clay tidak melakukan sesuatu yang buruk pada Hannah, pada beberapa kali pula saya ikut depresi Clay yang ketakutan tentang apa yang akan diceritakan Hannah tentang dirinya. Belum lagi perjalanan Clay mengunjungi tempat-tempat yang tertera di peta yang diberi tanda Hannah untuk didatangi, untuk mendapat sensasi perasaan Hannah saat mengalami kejadian kelam itu. Semacam treasure hunt dengan efek yang getir alih-alih menyenangkan.

Terus terang, saya tidak setuju dengan tindakan Hannah yang menyerah begitu saja di kehidupannya. Belum lagi, saya pikir she likes courting catastrophe for herself. She knows exactly some students' reputation, but she just doesn't care until she got her lesson. And then it's too late. Ok, saya memang tidak merasakan apa yang dirasakan Hannah, tapi tetap saja bunuh diri bukan pilihan. Jangan pernah menjadi pilihan. Pergaulan yang salah tentu saja menentukan perlakuan sosial terhadap kita. Dia sudah menjadi bulan-bulanan list bokong terindah, dan kemudian diperparah dengan pesta-pesta serta siswa-siswa yang kemudian memperparah keadaannya. Jika saja saya Clay, depresi itu akan bertahan lama. Sangat lama. Ditambah penyesalan tak kalah panjang. Aahh, puk puk Clay.

Meski tone kisah ini sangat kelam, saya sangat menikmati gaya bercerita Jay Asher dengan dua narator yang terkadang saling bersahutan secara tidak langsung. Pada mulanya, saya cukup bingung dengan perpindahan narator yang terkadang berpindah setting juga. Clay yang sedang di gudang, mendengarkan kisah ketika Hannah berada di tempat lain. Tapi lambat laun, saya bisa mengikuti perpindahan sewaktu-waktu ini. Belum lagi kemudian saya membaca catatan akhir penulisnya bagaimana ia mendapat ide menulis dengan narator kaset. Kerennn!!

Eh, katanya buku ini akan difilmkan, saya pikir malah sudah. Ternyata belum. Dengan memasang Selena Gomes sebagai Hannah, entah kapan proyek ini selesai. Ketika saya cek di youtube, yang saya dapatkan hanya trailer fanmade, dengan mencampur adegan sana sini. Duh, kacaauu... :D


Note:
Postingan ini saya sertakan dalam posting bareng theme judul dengan angka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar