Kamis, 26 Maret 2015

The Maze Runner by James Dashner


Paperback 532 pages
Published November 2011 by Mizan Fantasi (Cetakan pertama)
Penerjemah: Yunita Chandra
Rating 4/5

Apakah kau secerdas Albert Einstein, ato Gallileo, atau Newton? Jika ya, berhati-hatilah. Akan ada pihak-pihak yang akan menculikmu....

Thomas terbangun di sebuah tempat yang sama sekali asing, lebih parah lagi, ia lupa segala-galanya, kecuali namanya. Di tempat baru, yang disebut Glade, ia disambut banyak teman baru, yang semuanya laki-laki di usia yang hampir sepantaran dengannya. Sebagai anak bawang, alias anak baru di tempat itu, Thomas termasuk anak yang berbeda dibanding anak-anak yang lebih dulu tiba di Glade. Alih-alih takut, Thomas merasa marah dan penasaran tentang siapa yang telah mengirimnya lewat kotak dan tiba di Glade. 


Di tempat barunya, Thomas berteman dengan Chuck, bocah imut usia 12 tahunan, dan beberapa Gladers ramah lainnya: Newt, Alby, dan Minho. Glade adalah tempat aneh dengan 4 penjurunya dikelilingi oleh tembok. Di dalamnya, tumbuh tanaman subur dan hewan peliharaan yang gemuk. Tapi ada apa di luar tembok? Minho, adalah orang yang bisa memberi keterangan banyak tentang ada apa di luar tembok. Maze, maze yang sangat luas, yang terus bergeser berganti posisi secara berkala. Minho adalah pelari di kelompok Glade, yang setiap pagi berlari keluar tembok, mencatat, mengingat dan menggambar peta di dalam maze. 

Dari awal melihat Minho, Thomas merasa terpanggil menjadi pelari. Berlari menyusuri maze jauh lebih menggairahkan dibandingkan hanya duduk pasrah di dalam Glade. Satu hal yang Thomas tidak tahu adalah situasi di dalam maze yang penuh dengan makhluk-makhluk yang disebut Griever. Makhluk ini berkeliaran di malam hari, setelah pintu pembatas Glade-maze tertutup. Tak ada yang bertahan hidup jika satu diantara mereka tertinggal di luar. Tapi tidak bagi Thomas. Dia, dalam upaya membantu Minho dan Alby--yang terluka parah, menerobos keluar Glade, memasuki maze. 'Menjemput kematian?', gerutu Minho pada Thomas. Sebentar lagi malam tiba, para Griever segera tiba, memburu mereka, dan mungkin menjadikan mereka sebagai mangsa untuk kuku-kuku tajam mereka.

Suprisingly, mereka bertahan, bahkan Alby yang terluka parah, masih bernapas. Kenekadan Thomas berujung pada dua keputusan yang bertolak belakang: Thomas akan menjadi pelari, dan iaharus dihukum karena melanggar peraturan Glade yang sudah disepakati selama dua tahun. Dihukum? Yang benar saja? Dia bahkan menyelamatkan Alby, dan memberi petunjuk baru pada Minho tentang adanya Lubang Griever. Well, hukum harus tetap ditegakkan. Meski demikian, Thomas telah memenangkan simpati anak-anak Glade, kecuali Gally. Entah mengapa, ini anak bawaannya curiga mulu pada Thomas. Dia merasa pernah melihat Thomas di luar sana, memperhatikan anak-anak Glade. Bagaimana itu terjadi, Thomas bahkan tak ingat masa lalunya? Apakah ia pernah benar-benar berada di luar sana dan mengetahui keberadaan Glade? Terus kenapa sekarang ia sendiri berada di dalam Glade? Kecurigaan Gally bertambah dengan munculnya anak bawang baru. Lebih mengejutkan lagi si anak baru ini adalah perempuan. Setelah dua tahun, baru kali ini Glade kedatangan anak perempuan, seorang anak perempuan yang terus berbicara di dalam pikiran Thomas. Apakah ia dan si anak bawang baru-Teresa, saling mengenal di luar Glade. Bagaimana ini bisa dijelaskan jika tak satu pun diantara mereka tak ingat kehidupan mereka sebelumnya...

Membaca buku setebal lebih dari 500 halaman ini tak terasa berat berkat penulisan bab yang tidak terlalu panjang. Saya memang selalu terintimidasi dengan jumlah halaman per bab yang panjang-panjang, belum lagi kalo tak ada dialog sama sekali. Buku seri pertama Dashner ini enak sekali diikuti, seru, dengan karakter-karakter menyenangkan di dalamnya, kecuali Gally (hmm, lagian ga mungkin lah ya semua karakter di sebuah novel loveable, pastilah ada satu pain in the neck =) ). Thomas, si karakter utama yang terkadang terasa sekali kepo-nya yang tinggi, dan terasa sok pahlawan. Okelah, dia memang kunci dari semua rahasia maze, tapi sepertinya Dashner menciptakan Thomas ini memang bak pahlawan Glade, yang ditunggu kemunculannya selama bertahun-tahun, yang sudah tersurat dalam takdir hidupnya. Kenapa harus Thomas, sementara yang lainnya juga diambil (diculik) ke Glade, dengan nilai kecerdasan di atas rata-rata, kenapa seorang reinkarnasi (?) Thomas Alfa Edison yang ditunggu? Ada apa dengan Isaac Newton? Galileo? Dan para genius lainnya? Mungkin jawabannya karena dia adalah Thomas-Dia-yang-terpilih. Hihihi... #terHarPot :D. Ohya, terus kira-kira Minho itu kependekan dari nama genius yang mana ya? Bukan Lee Minho atau Choi Minho kan? They are not genius enough for the world to get impeessed #dikeplakfansMinho :D

 Poster film the Maze Runner

Menonton filmnya, dari menit-menit awal, saya sudah mulai membandingkan versi buku dan film. Pemeran Thomas cukup bagus mendalami karakter Thomas yang kepo dan sedikit sok jagoan. Sayangnya pertanian dan peternakannya tidak terlalu disorot, padahal saya kan membayangkan peternakan macam di Hayday #hasyaahh... Sayangnya, keakraban Thomas-Teresa tak terlalu kentara di film. Di buku, mereka mampu bertelepati, yang sedikit banyak menjelaskan pada pembaca bahwa mereka dulu barangkali pernah bekerja sama atau bahkan sepasang kekasih. Hmmm, jangan mengharapkan romens disini ya. Beda dari distopia lainnya, trilogi ini kabarnya distopia buat cowok, nyaris ga ada romensnya. Jadi ga bisa fangirling-an macam Peeta atau Four hahaha... Selama seru sih, saya ga gitu butuh sentuhan romens kok... :D . Peta yang digambar oleh para pelari di buku berbeda dari versi filmnya. Well, di film lebih keren sih, tapi di buku lebih kebayang susahnya nyimpan file peta dengan aman. Challenge mencari arti kode-kode juga lebih sulit di buku. Belum lagi Lubang Griever yang membutuhkan para Glader untuk menimbang masak-masak: lewati atau tetap di Glade selamanya. Di film, tak kalah keren sih, tapi sarang Griever itu tak ubahnya maze extension saja, berbeda dari lubang Griever. Perbedaan di sana sini, buat saya, sangat dimaklumi, meski tetap saja visualisasi pembaca terkadang lebih hebat dari visualisasi film. Kengerian yang ditimbulkan oleh Griever cukup terasa di film. Di buku? Jangan ditanya. Sesekali saya skip untuk mengetahui si ini selamat atau tidak hihihi... Okeee, saya bisa kasih jumlah bintang yang sama untuk buku dan filmnya. Bravo!


Postingan ini untuk posting bareng BBI theme Posbar Adaptasi Maret 2015
 

8 komentar:

  1. Ini salah satu film yang menurutku lebih bagus dari novelnya. Jarang banget lo aku berpikiran begitu.... ***seri LOTR extended version yg running time-nya hampir 4 jam aja kubilang masiih kalah dengan novelnya***
    Pas baca novel ini, aku rada bosan, cerita kok isinya lari-lari mulu. Tapi pas nonton filmnya.... eh kok seru ya... sfx-nya bagus, pemerannya juga gak mengecewakan, alurnya dibuat pas buat tontonan.

    *mau nerusin komen LMH dalam toples, tapi gak jadi ah.... hahaha..... * :))

    BalasHapus
  2. aaakkk jadi penasaran... antara pingin baca bukunya dulu atau nonton filmnya XD Oiya penasaran juga sama minho hehe

    BalasHapus
  3. Aku setuju kalau buku ini lebih di eksplore ke dytopia bagi kaum adam. Di film juga, keliatan banget itu adalah tempat dimana orang2 lajang tinggal dan bersenang-senang.
    Buku ini masih duduk manis didalam timbunan. Belum ada waktu untuk baca.

    BalasHapus
  4. Filmnya bertengger manis di dalam laptop, dan bukunya belum sempat beli. dan sayang banget kalo nonton filmnya dulu.hahaha

    BalasHapus
  5. udah nonton filmnya, pengen baca bukunya, tapi tiap mau beli malah beli buku lain ._.

    BalasHapus
  6. Minho itu menurut James Dashner kalau nggak salah terinspirasi dari nama suami ponakan atau siapanya dia gitu yang berdarah Korea dan bernama Minho..

    BalasHapus
  7. Aku udah nonton filmnya terus baca novelnya. Biasanya sih aku bakal tetep suka sama versi novelnya mau gimanapun, tapi kok ini enggak yahh. Aku jadi sedih. Ini aku yang salah atau emang filmnya lebih ngena?:'(

    BalasHapus