Minggu, 05 April 2015

Around The Genre: Childlit Author: Wawancara (imajiner) dengan Kate DiCamillo




Kenal dengan nama di judul ini? Terus terang, nama ini menjadi salah satu penulis yang saya jadikan favorit begitu membaca satu karyanya. Dan karyanya itu, terus terang, saya kenal dari drama Korea yang saat itu sangat booming, He Who Came From the Star. Ring a bell? Yup, gegara drakor itu, jadilah saya membaca The Miraculous Journey of Edward Tulane. Dan saya pun lapar akan karya-karya Kate Dicamillo yang lain.

Setelah bingung mau dijadikan apa tulisan tentang Kate DiCamillo, dan setelah saya membaca referensi sana sini dan sana lagi, maka inilah tulisan singkat saya, wawancara imajiner saya yang saya ambil dari banyak sumber yang tersebar di seantero jagad internet :D

KD: Kate DiCamillo (meski sama inisialnya, saya jelas lebih memilih mewawancara DiCamillo dibandingkan Kris Dayanti #apasih :D)
L: Lila (saya sendiri) (tunjuk hidung)

L: Hallow, jeng Kate DiCamillo. Seneng deh saya akhirnya berkesempatan ngobrol dengan jeng Kate. Ini dalam rangka ultah Bebi yang ke-4 lo…

KD: Oh, halo (kening mengernyit) siapa ya? Do I know you somewhere?


L: Aduh, maap, jeng, lupa mengenalkan diri saya. Kenalken, saya Lila dari komunitas Blogger Buku Indonesia. Itu lo, komunitas keren dengan anggotanya yang keren-keren juga yang menulis banyak review buku, termasuk review bukunya jeng Kate lo. Masak ngga kenal sih? (jawil2 kaos panjang Kate)

KD: Oh, ada ya komunitas blogger buku? Wah, asik ya. Jadi pengen tau gimana respons para pembaca Indonesia tentang buku saya. Eh, btw, kaos saya jangan ditarik-tarik dong. Molor nih…

L: Hihihi… Maap, jeng. Abis saya grogi sih. Tapi ini jatah saya wawancara jeng Kate kok. Nanti jatah Jeng mau wawancara saya tentang BBI, nyusul ya. keburu kepanjangan prolognya nih :D

KD: Oh, OKeee… jadi, mo nanya apa nih tentang saya?

L: Yup, mo nanya nih, jeng Kate kan sudah beberapa kali mendapat penghargaan baut kiprah jeng di dunia buku. Bisa cerita tentang awal nulis jeng?

KD: Oh, well, begini, saya mulai menulis di usia hampir 30 tahun, meskipun dari dulu saya sudah punya passion menulis. Saya bahkan sering bilang ke orang-orang kalo saya ini penulis. Eh, tapi saya ngga nulis-nulis :D . Saya malah bekerja untuk Disney World, Circus World, campground, greenhouse. Aneh ya?

L: Terus kapan mulai nulis? Langsung menulis buku anak-anak kah?

KD: Enggg…. Awalnya saya kurang tertarik menulis buku anak-anak. Saya menulis banyak sekali cerpen untuk pembaca dewasa-yang saya kirim ke majalah, koran-koran, eh, tapi saya mendapat balasan surat penolakan sejumlah naskah yang saya kirimkan. Dan itu jumlahnya 400an!!! Kasihan ya saya…. Saya mulai melirik buku anak-anak ketika saya bekerja di sebuah gudang buku sebagai pegawai yang menyeleksi buku-buku khusus untuk anak-anak. Nah, disitu saya mulai banyak membaca buku untuk anak-anak. Disitulah saya kadang merasa sedih bersyukur, karena saya justru menemukan bakat saya yang sebenarnya.

L: Terus, gimana rasanya ketika mendapat penghargaan Newberry Medal yang ke sekian kalinya untuk Flora and Ullyses? 

KD: Wow, saya rasanya ngga percaya ketika pagi-pagi buta, pukul 5.30, saya ditelpon komite Newberry, mengatakan bahwa saya mendapatkan Newberry Medal.  Saya menangis bahagia. Dan setelah itu saya bengong, itu tadi bener kan, bukan mimpi? Hehehe… oya, sebelum Flora and Ulyyses, saya juga mendapatkan penghargaan yang sama untuk Because of Winn-Dixie—karya pertama saya, dan The Tale of Desperaux.

(Ssstttt... coba tengok moment tak terlupakan JEng Kate ketika menerima Newberry Medal) 

 

L: Jeng Kate ini kan menulis untuk anak-anak, ada kenangan buku apa saja ketika anak-anak?

KD: Well, ibu saya sering sekali membacakan buku untuk saya. Ada buku berjudul ‘Island of the Blue Dolphin’ karangan Scott O’Dell, ‘Harriet the Spy’ karya Louise Fizhugh. Saya juga suka Secret Garden dan The Little Princess. Buku yang membuat saya sedih adalah The Black Beauty. (duh, saya pengen baca tu buku, tapi kok sedih ya? Ga jadi beli nih… ebook aja kalo gitu…)

L: Saya denger, Jeng Kate juga jadi The fourth National Ambassador for Young People’s Literature ya? Bisa ceritakan sedikit tentang ini?

KD: Saya ngga pernah membayangkan akan jadi ambassador. Waktu kecil, saya ini pemalu sekali, padahal ibu saya itu orangnya sangat terbuka. Beliau pasti ngga bakal bisa membayangkan saya pergi ke seberang jalan bertanya pada seseorang, saking pemalunya saya. Bagaimana saya bisa menjadi ambassador? Itu berkat tulisan-tulisan saya. Saya bercerita. Saya menemukan suara saya dari bercerita. Dan bercerita juga membuat saya terhubung dengan banyak orang. Dan ini terjadi begitu saja. 

L: Wah, saya dulu juga pemalu lo, jeng, tapi saya kok ngga jadi ambassador ya? (Emang mo jadi dubes apaan? Progress bacaan aja dikejar-kejar, dikasih peringatan mulu sama goodreads..hahaha)
KD: Hahaha…

L: Menurut Jeng Kate, saat ini banyak sekali anak-anak muda yang membaca segala macam buku. Apakah ada hal yang penting tentang apa yang mereka baca? Fifty Shades of Grey The Hunger Games pernah sangat popular, dan mungkin akan ada buku lain di waktu lain yang booming?

KD: Hmmm… bagi saya sih yang penting adalah proses membaca itu sendiri. Membaca satu buku akan membawamu ke buku berikutnya, dan seterusnya. Dan menurut saya, buku anak juga bisa dibaca oleh para orangtua. Ada bnhyak hal yang membuat kita merasa terhubung dengan suatu cerita. Harry Potter misalnya, buku anak yang sangat dinikmati kaum dewasa.
L: Waah… padahal saingan buku sekarang ini adalah gadget lo, jeng. Gimana tuh untuk mengantisipasinya?
KD: Well, segala sesuatu itu selalu mempunyai plus dan minusnya. Kita tak bisa menganggap gadget sebagai musuh. Yang penting adalah keseimbangan dan sikap yang tidak berlebihan. Peran saya disini adalah mengingatkan bahwa cerita juga bisa semenarik video game. Cerita-cerita bisa membuat kita lebih manusiawi. Itulah peran saya berada.

L: Dari sekian pembaca buku jeng, ada yang istimewa kah? Ada fans gila gitu?

KD: Stalker maksudnya? Hahaha… kasih tahu ngga ya? Yang jelas, seminggu saya bisa mendapat 100an pucuk surat. Selama ini saya membalas sendiri surat-surat itu. Tapi saya ngga tahu, kira-kira saya masih mampu membalas surat-surat itu sendiri ato ngga. Tangan saya sering kram gegara nulis surat.
Bicara tentang fans, saya terkesan dengan seorang anak, sekitar 10 tahun yang sama sekali tak mau membaca buku. Dan pada suatu hari, petugas perpustakaan sekolahnya memberinya Because of Winn-Dixie, dan anak itu membacanya. Dan bahkan menunggu buku saya selanjutnya, the Tiger Rising, dan ia bahkan sudah membacanya dan menuliskan persamaan dan perbedaan antara dua buku tersebut. Dia sangat pintar. Itulah kekuatan suatu cerita.

L: Wow…. Membaca itu bagi sesorang itu kadang seperti mencari makanan yang cocok ya. Kalo cocok yuk, makan lagi, kalo ngga ya, nyicip tempat lain aja #analogingasal… :D
L: Oke, jeng, sudah panjang nih. Jawab pertanyaan berikut ini dengan satu-dua kata aja ya?

KD: 3 kata ngga boleh nih? (Yeeeyy… nawar nih)

L: Pokoknya 2 kata maksimal. Apakah Because of Winn Dixie bakal ada lanjutannya, dengan kembalinya ibu-nya Opal?

KD: Ngga ada.

L: Dimana tempat favorit menulis?

KD: Di rumah

L: Diantara karya-karya jeng, mana yang menjadi favorit?

KD: Semua favorit saya. Mereka seperti anak2 saya

L: Huss.. 2 kata sajaaaaa…. Apakah jeng Kate sekarang menjadi penulis fulltime?

KD: Yak tul.

L: Apakah selalu puas dengan semua karya-karya yang sudah dihasilkan?

KD: Tidak selalu. Tapi saya terus berusaha

L: Husss… dibilang 2 kata aja kok ngiyill… Di novel jeng kan sellu ada peran binatang, apakah jeng punya binatang piaraan? Anjing? Kuda? Tikus? Kelinci?

KD: Anjing, Henry.

L: Apakah Jeng menggambar sendiri di novel-novel jeng?

KD: Ngga

L: Apakaj jeng puas dengan film adaptasi dari novel-novel jeng?

KD: Puas

L: Okeee, jeng, ada pesan terakhir untuk para penulis muda? Siapa tahu para blogger yang ada di BBI ingin tahu resep jeng Kate. Boleh panjang yang ini. Ga mungkin Cuma dua kata aja hehehe…

KD: (lega) syukurlah… Saya mungkin tidak akan menjadi seperti sekarang jika saya mundur karena surat penolakan naskah saya  yang ratusan itu. Sekitar 6 tahun saya menunggu hingga penerbit mau mempublikasikan tulisan saya. Jadi kuncinya adalah kesungguhan dan jangan pernah menyerah. Kejar terus mimpimu.

L: Kyaaaa…. Jeng Kate, terima kasihhh… sudah mau duduk ngejogrok di kasur tipis gambar Masha and The Bear saya malam ini yaaa… Sudah tepos bok*gnnya belum hihihi… sudah gitu, nyambi mainan hayday lagi hahahaha…

KD: Sama-sama jeng Lila. Saya tunggu undangan para blogger untuk mengundang saya ke Indonesia, ke acara IRF gitu  atau yang di Ubud itu juga boleh… Oya, Selamat ultah buat BBI yaa yang ke-4 yaaa… Semoga banyak karya-karya keren yang lahir dari komunitas ini di masa mendatang.
L: Waaahh.. Jeng… makasih ucapannya yaaa. Jadi terharu…

Oya, ini dia karya-karya Kate DiCamillo:

Because of Winn-Dixie
The Tiger Rising
The Magician’s Elephant
The Tale of Desperaux
The Miraculous of Edard Tulane
Flora and Ullyses
Bink And Gollie series
Mercy Watson series
Yang lainnya, silakan cek Goodreads

Artikel ini saya buat untuk memeriahkan event Ultah BBI4thAnniversary untuk thema Children Literature and Young Adult

 Sumber wawancara imajiner:

9 komentar:

  1. Balasan
    1. akyu memang keren ya, dekraaf... :D

      Hapus
  2. yang baru kubaca baru Edward Tulane :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku mulai dari EDward Tulane terus disususl dg pinjeman lainnya :D .. Tapi so far, Edward Tulane emang yg paling keren ..

      Hapus
  3. "Membaca satu buku akan membawamu ke buku berikutnya, dan seterusnya."
    Benaaaaar sekali Jeng Kate.... (atau Jeng Lila??!?) Jadi benar-benar tidak ada salahnya untuk menimbun kaaan..... #modus #pembenaransejati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baiklah... carilah sitiran sitiran lain sekehendak hatimu, kaka... aku akan ikuutt :D

      Hapus
  4. Aku baru baca 2, tapi sudah nimbun beberapa, hahaha... Wah, keren ya, sampe dapat 400an penolakan berarti sangat sangat produktif. *acungkan jempol buat jeng Kate*
    Makasih miss, sudah ngewawancarai jeng Kate (walaupun boongan)

    BalasHapus
  5. Keren jeng. Ngakak juga baca imajiner wawancara. Salam balik buat jeng Kate ya .

    BalasHapus
  6. Mbak, pinjem Edward Tulane dooonk........ *kedip2*

    BalasHapus