Senin, 31 Agustus 2015

Milkweed by Jerry Spinelli


Ebook, Epub format
Published September 13th 2005 by Laurel Leaf
Rating 3.5/5

Dia dipanggil dengan banyak nama: Runt, Stopthief, Stupid, dan masih banyak nama yang oa sandang. Usianya baru sekitar 8 tahun ketika ia ditemukan seorang pemuda, Uri, di saat Warsawa tengah panas dengan kedatangan Himmler. Kedatangannya tidaknlain adalah membasmi semua keluarga Jew dengan keturunannya. Si bocah yang sebenarnya adalah keturunan Gypsy, tidak merasakan perbedaan antara keturunan Jew atau Gsy, semua akan berakhir sama. Dibasmi.

Perkenalan si bocah dengan Uri memberinya nama dan kisah keluarga yang secara tiba-tiba ia hapalkan. Nama barunya adalah Misha Pilsudski, dengan keluarga tercerai berai meninggalkan seekor kuda bernama Greta, yang kemudian meninggalkannya pula. Bersama Uri, Misha, dan juga sekelompok anak lain yang hidup bersama mereka. Berlari, mencuri, berlari, mencuri adalah kehidupan Misha dan temannya unruk tetap bertahan hidup. Satu hari, Misha bertemu dengan keluarga Jew dengan anak gadis kecil bernama Janina. Mereka mulai menjalin komunikasi diam-diam hingga ketika semua Jew harus diasingkan ke sebuah perkampungan khusus keluarga Jew, ghetto. Disini, Misha kecil, yang seharusnya merasa terisolasi dari dunia luar, justru menemukan kebahagiaan. Dia menemukan keluarga baru dan tentu saja nama keluarga baru, Milgrom. Dr. Korczak, ayah Janina, menerima Misha di keluarga Jew-nya. Ghetto yang seharusnya membuat mereka terkungkung dan didera penyakit dan kelaparan, tidak membuat Misha menghentikan kebiasaannya berlari dan mencuri. Tengah malam, ia menyelinap keluar ghetto, menuju dunia luar yang ia sebut Heaven, mengeruk lemari makanan, di rumah-rumah orangbkaya, hotel-hotel atau mengais makanan di tempat sampah. Disadari atau tidak, Misha menjadi tumpuan sumber makanan bagi keluarga Milgrom. Misha, diluar kesadarannya, tumbuh menjadi anak yang peduli pada sekelilingnya. Hasil jarahannya, tak jarang ia berikan sebagian untuk anak-anak yatim piatu yang dikelola ayah Janina.

Kehidupan Misha di dalam ghetto berlanjut terus. Penjarahan juga tak berhenti meski semakin banyaknya para serdadu beserta anjing yang berpatroli, dan jam malam yang diberlakukan. Keluyuran tengah malam sepertinya menjadi keahlian tak tertandingi buat Misha. Janina menjadi semacam fotokopi berjalan atau bayangan hidup bagi Misha. Kemanapun Misha pergi, disitu Janina pergi. Apapun yang dikerjakan Misha, ia kopi habis-habisan. Sayang, kematian perlahan para Jew ini dan juga penembakan tidak membuat para Jew ini cepat menghilang dari bumi. Maka, disiapkanlah suatu tempat baru, dimana para Jew ini bakal mendapat kehidupan baru, harapan baru. Berlusin kereta siap mengantar mereka ke tempat yang baru...


Saya beberapa kali mencoba membaca novelnini ketikantahu bahwanininadalah npvelntentang Holocaust. Tapi téyata beberapa kali pula saya gagal melanjutkannya. Hingga saat posting bareng BBI dengan tema Perang Dunia. Dari beberapa novel seputar Nazi, mungkin novel ini tidak terlalu membuat saya intens dengan bacaan saya. Jika membandingkan dengan Between Shades of Grey atau Sarah’s Key, buku ini seperti melihat perang dari kacamata anak kecil, selama masih ada makanan untuk dicuri, dan selama masih bersama dengan keluarga Milgrom, Mishabtak masalah. Bahkan kematian karena kelaparan, kedinginan dan mati tergantung sepeeti hal yang lumrah terjadi dan tak perlu ditakuti atau ditangisi. Ini mengingatkannsaya pada dilm Life is Beautiful-nya Roberto Benigni. Si anak menganggap bahwa perang ini seperti mengumpulkan koin, yang terbanyak akan mendapatkan hadiah tank. Di awal cerita, cukup membosankan buat saya. Kisah pencurian dan mimpi-mimpi Misha menjadi salah satu Jackboots terlalu panjang. Kemudahannya mencuri dan melarikan diri, seolah membuatnya memiliki nyawa 9. Begitupun ketika ia berada di ghetto. Sepertinya, kepercayaannya pada malaikat membuatnya selamat di segala siatuasi. Hal lain yang cukup membuat saya bertanya-tanya adalah masih banyaknya gedung yang masih tetap berdiri meski bom meledak, menghancurkan banyak tempat Jew. Apakah bom itu hanya merusak pwrkampungan Jew tanpa memberi efek pada rumah-rumah non Jew? Selain itu, membaca ini, saya berharap saya bakal menemukan beberapa scene yang akan membuat saya menepuk dada saking mengharukannya, tapi ternyata, kehidupan Misha baik dan menyenangkan. Well, di bagian akhir, ada sih bagian mengharukan yang mau tak mau mengingatkan saya pada bagian akhir Sarah’s Key, yang kalo diingat lagi, bagian itu juga yang membuat saya sedikit menitikkan airmata. Ekspektasi saya yang mungkin sedikit lebay membuat saya sedikit kecewa ketika ternyata kisah ini hanya lempeng begitu saja. Judul Milkweed, mungkin adalah simbol bagi penulis, karena ketika saya cek di kamus, Milkweed means any of various other plants having a milky juice, as certain spurges. Dikisahkan, Misha menemukan sebuah anakan pohon, macam kecambah mungkin, calon pohon, yang terlintas dalam pikirannya adalah nama milkweed. Penampakan bunga atau pohon milkweed ini sangat cantik dengan warna-warna cerah. Apakah ada hubungan antara milkweed dengan holocaust ini, atau mungkin menemukan sebuah calon pohon ditengah banyak kematian, seperti menemukan calon penghidupan baru atau harapan baru di masa yang akan datang? Entahlah. Saya tak mahir menerjemahkan simbol-simbol.

Sebagai penutup, buku ini cocok bagi pembaca yang ingin membaca novel tentang perang dunia tanpa takut bakal dihantui bayang-bayang Nazi. Tapi buat saya pribadi, novel ini kurang nendang untuk novel perang. Hmmm... Sepertinya saya masuk kategori pecinta ending pahit alias unhappy ending. Oh, tidaakkk...

NB:
Posting ini saya sertakan dalam posting bareng BBI bulan Agustus dengan tema Perang Dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar