Selasa, 26 Januari 2016

Animal Farm by George Orwell




Paperback 207 pages
Published by Fresh Book, Yogyakarta
Penerjemah: J. Fransisca
Rating 5/5

Sebenarnya, saya bingung mo nulis apa untuk review buku ini. Saya terlalu shock dengan ending-nya yang-haduh, kok up in the air banget. Saya berharap kembalinya berkuasanya manusia atas Pertanian Manor. Tapi terus saya berpikir, mungkin Orwell sengaja membuat ending seperti ini untuk menyindir habis-habisan sifat manusia yang serakah (dan yah, saya serakah, dan arogan untuk mengakui bahwa binatang juga bisa bertindak layaknya manusia—setidaknya di buku ini). 

Di awal, saya sudah senyum-senyum membayangkan binatang yang berpikir persis manusia, terutama dalam hal penampilan:


Clover adalah kuda betina yang gemuk dan keibuan. Menjelang usia pertengahan, ia tak pernah bisa kembali ke bentuk idealnya setelah melahirkan anak ke empatnya (hal.7)


Hahahaha…. Itu kan kegalauan para ibu-ibu manusia yang ternyata dialami juga oleh si kuda betina…

Ketika tiba pidato epic dari sang Mayor, babi yang cerdik, saya kembali berpikir, tindakan makar atau pemberontakan ini tak jauh dari manusia yang ingin berkuasa akan dirinya dan kelompoknya. Mayor menginginkan kemandirian para binatang di pertanian Manor tanpa adanya Tuan Jones, si pemilik pertanian, manusia yang dianggap pemalas dan hanya mengeksploitasi binatang piaraannya. Dan terjadilah, Tuan Jones tersingkir dari istananya sendiri, pemberontakan berhasil!!!


Seusai pemberontakan, muncullah pahlawan-pahlawan, tokoh-tokoh yang nantinya akan memimpin, meski dengan embel-embel semua binatang sederajat. Tapi toh, tetap saja ada yang diistimewakan, dan ada yang hanya tahu bekerja keras tanpa banyak berpikir. Boxer, si kuda tangguh mempunyai motto, “aku akan bekerja keras, dan lebih keras lagi”. (Ssstt… jadi ingat semboyan Pak Presiden yang sekarang :D). para tokoh-tokoh cerdik pandai itupun membuat semacam preambule yang harus dipatuhi seluruh jajaran binatang di Pertanian Binatang—bukan lagi Manor.

Tujuh Perintah:
1.       Apapun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh
2.       Apapun yang berjalan dengan empat kaki atau memiliki sayap adalah teman
3.       Tidak ada binatang yang boleh mengenakan pakaian.
4.       Tidak boleh ada binatang yang boleh tidur di atas tempat tidur
5.       Tidak ada binatang yang boleh minum alcohol
6.       Tidak ada binatang yang boleh membunuh sesama binatang lainnya.
7.       Semua binatang sederajat.

Sayangnya, tidak semua binatang di Pertanian Binatang bisa membaca 7 perintah ini. Di Negara kita, kita memiliki Pancasila dengan lima sila-nya. Dari awal Indonesia merdeka hingga berpuluh tahun kemudian, lima sila itu masih bertahan, dengan segala pro dan kontra, dan segala penafsiran atas sila-sila tersebut. Bagaimana dengan 7 perintah di Pertanian Binatang, dimana tiudak semua warganya melek membaca? Sebagian besar diantara mereka hanya memiliki semangat yang mereka mengerti yang ada dalam lagu kebangsaannya yaitu Binatang Inggris. 

Dalam perjalanan kemerdekaannya, para binatang ini memiliki tokoh-tokoh yang dianggap mampu memberi perintah, memikirkan rencana ke depan, mengorganisir ladang, hasil panen, hingga rencana masa pension para binatang. Sayangnya, tokoh-tokoh ini memiliki sudut pandang yang berbeda, hingga muncul pengkhianatan, penyelewangan, dan pembunuhan antar sesama binatang, yang sebenarnya menjadi salah satu perintah dari pertanian Binatang ini. 

Menikmati kelanjutan kisah ini, saya sesekali menjadi trenyuh atas penggambaran yang begitu detil dari Orwell pada manusia yang diwakili para binatang. Tokoh-tokoh semacam Boxer yang kuat, setia tapi bodoh , Napoleon yang licik (nama ini kayaknya ngga ada bagusnya deh ya), Squealer yang licin memelintir  kebenaran, Snowball yang abu-abu, dan banyak sekali wakil-wakil sifat manusia yang ditampilkan disini. Bisa dibayangkan, buku ini ditulis tahun 1944, lebih dari setengah abad berlalu, ternyata sifat manusia masih tidak berubah, bahkan lebih buruk. Politik Negara dimana-mana selalu diwarnai pertikaian yang berakhir dengan mundurnya atau parahnya menghilangnya salah satu tokoh yang kalah. Entah apalagi yang akan terjadi setengah abad yang akan datang. Sepertinya kita butuh Orwell baru untuk membaca masa depan, seperti yang ia lakukan di bukunya 1984. Ah, jadi pengen baca buku itu, demi membuktikna ramalan Orwell, selain Animal Farm.
 

Sebagai penutup, saya suka dengan quote epic berikut yang sayangnya diucapkan oleh oknum paling licin di novel ini:


“…Jangan dibayangkan, kawan-kawan, bahkwa kepemimpinan merupakan suatu kesenangan! Kebalikannya, kepemimpinan merupakan suatu tanggung jawab yang berat dan mendalam. Tak ada satupun bianatang yang percaya lebih tegas dari ini bahwa semua binatang adalah sederajat…” (hal. 84)
 “Disiplin, kawan. Disiplin besi! Itu adalah semboyan untuk hari ini...” (hal. 85)

Dan, seperti yang sudah saya bayangkan, novel ini telah difilmkan beberapa kali. Dan ini adalah salah satu trailernya yang pengen banget saya tonton, nanti jika ada kesempatan :)



2 komentar:

  1. wah saya juga bingung nulis reviewnya buku ini:D
    mungkin dengan nonton filmnya.jadi lebih ngerti, hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, masak sih, sekelas bang Epi juga bingung nulis review buku ini? Kalo aku kan emang otak teflon, bang :D

      Hapus