Sabtu, 30 Januari 2016

Little Princes by Conor Grennan + Tebak Santa 2015




Paperback 460 pages
Published by Penerbit Qanita, February 2015
Penerjemah: Eva Y. Nukman
Rating: 4.5/5

Jika ingin membaca kisah tentang kepahlawanan, rasanya buku perjalanan seorang Conor ini adalah pilihan yang tepat. Kau akan ternganga antara kagum, ngeri sekaligus gemas, merasa sedih hingga sesak napas dan di saat yang sama tersedak karena geli luar biasa. Ramuan yang kompleks untuk sebuah buku dibawah 500 halaman.

Conor memulai perjalanan kepahlawannya ini dengan tujuan keliling dunia, dan mampir ke Nepal demi puja puji dari teman-temannya. Siapa sangka jika ia kemudian jatuh cinta jungkir balik dengan Negara yang saat itu tengah dilanda konflik perang saudara. Perjalanan Conor membawanya menjadi seorang sukarelawan di sebuah panti asuhan bernama Little Princes. Disana ia bertemu dengan 18 anak yatim piatu yang dibiayai perusahaan nirlaba demi memberi tempat nyaman dan pendidikan bagi anak-anak korban perdagangan selama terjadi perang di Nepal. Adalah sosok antagonis, Golkka, penjual anak-anak dari sebuah desa terpencil, Humla, yang memberi janji muluk-muluk membawa anak-anak keluarga miskin untuk diselamatkan dari pemberontak Maois, dengan sejumlah uang, yang kemudian ia jual pada orang-orang atau, lebih parahnya, ia telantarkan begitu saja di Kathmandu. Lebih dari 400 anak telah ia renggut dari pelukan orangtua mereka, bahkan ketika mereka masih sangat muda hingga mereka nyaris tak mengenal nama desa bahkan nama orangtua mereka. Pahit sekali.

Dibutuhkan beberapa kali kedatangan bagi  Conor untuk meyakinkan dirinya benar-benar merasa bahwa Nepal adalah rumahnya. Keterikatannya pada anak-anak yang pernah ia janjikan sebuah tempat yang nyaman, tak berjalan sesuai dengan janjinya. Dalam kondisi bokek parah, ia menggalang dana dengan cara apa saja yang bisa membawanya kembali ke Nepal, dan menemukan 7 anak hilang dan mendirikan panti asuhan. Terseok-seok dan jatuh bangun ia dalam usahanya ini bersama Farid, warga Perancis yang mempunyai keterikatan yang sama pada Nepal. Tekadnya mengumpulkan ketujuh anak hilang ini mendapat sambutan yang sangat baik dari pejabat setempat, pejabat yang sebenarnya tidak terlalu penting namun usahanya sangat luar biasa. Dia adalah Gyan dari Dewan Kesejahteraan anak Nepal (eh, jadi kepo, apakah di Negara kita ada dewan semacam ini, selain organisasinya Kak Seto ya? #seriusnanya). Gyan ini dengan gayanya yang lembut namun tegas dan bersungguh-sungguh, selalu dapat diandalkan, meski awalnya terkesan pemberi harapan palsu, bagi saya yang cukup mengenal janji-janji para pejabat di negeri sendiri…hikssss…  saya berpikir, bahwa banyak pejabat seperti Gyan, apakah ia mengurusi kesejahteraan anak atau tidak, bakal berterima kasih tak terhingga dengan apa yang dilakukan oleh Conor dan Farid, serta banyak warga asing lainnya yang berkecimpung dalam penyelamatan anak-anak di Nepal.


Tekad menemukan ketujuh anak hilang ini berkembang menjadi misi menemukan para orangtua yang kemungkinan besar merindukan dan berharap cemas akan keberadaan anak-anak mereka setelah mereka menyerahkan anak-anak mereka pada seseorang yang tidak mereka kenal dua hingga tiga tahun lalu. Maka dimulailah perjalanan berliku menuju dewa Humla, desa sebagian besar anak-anak Little Princes berasal, dan anak-anak dari Kelompok Tujuh (julukan buat ketujuh anak hilang). Medan yang berat karena terletak di pegunungan Karnali, dengan latar belakang gunung Himalaya, ancaman badai salju yang bakal datang kapan saja, hingga sisa-sisa pemberontak Maois yang bisa saja muncul sewaktu-waktu mencegat rombongan kecil Conor. 

Saya pertama kali tertarik membaca buku ini ketika saya membaca kisah perjalanan Agustinus Wibowo, Titik Nol. Waktu itu, Gusweng juga menceritakan kisah dramatisnya yang nyaris kehilangan nyawa ketika ia berada di Nepal. Saya berpikir, Nepal ini memang sebuah tempat magis dengan daya tarik tidak hanya Gunung Himalaya-nya, tetapi juga kebudayaan hingga masyarakatnya yang unik. Awalnya, saya bakal  berharap bakal disuguhi kisah menyedihkan sejak awal, namun ternyata saya justru merasa cukup sebal dengan Conor ini dengan kenarsisannya hahaha… Bahkan ada satu review di Goodreads yang juga memberinya rating satu karena sebal dengan ke-aku-annya. Well, saya cukup tersendat di awal, hingga berpikir mencari hiburan bacaan lain di sela-sela membaca ini. Tapi ketika kisah mulai merambah pada misi kemanusiaannya, dan gaya bercerita yang tadinya terasa konyol menjadi semakin berbobot dan berkali-kali saya tersedu dan di lembar berikutnya saya ngakak-ngakak, saya mulai tak bisa melepaskan buku ini. Kisah perjalanan Conor ini tidak hanya perjalanannya secara fisik dalam pencariannya terhadap Kelompok tujuh serta misi mempertemukan anak-anak-orangtua, tapi juga menjadi perjalanan rohaninya dan Farid. Pertemuannya dengan Liz, sesama sukarelawan anak-anak meski di tempat yang berbeda, mendekatkannya pada iman yang selama ia tinggalkan—iman yang waktu itu masih berbalut misi pedekate pada Liz hahaha… Tak jarang saya ngakak dengan kekikukan Conor, an American yang susah menyatakan isi hatinya pada gadis pujaannya. Hubungan mesranya pada anak-anak serta keterikatannya yang luar biasa pada mereka membuat saya tersentuh. Saya bersyukur, ada banyak orang-orang seperti Conor, Farid, Jacky, Viva, Liz dan tentu banyak sekali para sukarelawan di luar sana yang mengabdikan diri mereka pada misi kemanusiaan. Apakah mereka terinspirasi pada kisah-kisah yang mereka baca, seperti Bunda Teresa, atau mereka secara tak langsung melihat, merasakan hingga menumbulkan empati yang luar biasa hingga meninggalkan zona nyaman mereka. Saya pribadi hanya cukup mendoakan mereka supaya segala yang mereka lakukan membuahkan hasil dan mendapat ganjaran setimpal serta kebahagiaan lahir batin.

PS: bisa dicek blog yang ditulis oleh conor Grennan di  http://conorgrennan.com/little-princes/ atau bisa juga diliat vidoenya yang diunggah di Youtube:




Saatnya menebak Santa sayaaa….

Seperti yang sudah saya post disini, saya sebenarnya mendapatkan dua buku, namun ternyata saya masih menyelesaikan satu buku dulu. Buku satunya, All Our Yesterdays, sudah terbuka sampulnya, terbaca beberapa lembar, dan kemudian perhatian teralihkan ke Ijak…hahahaha… 

Sesuai dengan clue-nya, saya tulis ulang yaaa

From Vampire Assistant
Pallaskenry, Munster 
County Limerick, Ireland

Begitu terima paket, saya buru-buru mencari siapa itu vampire assistant. Karena belum pernah membaca karya si Vampire Assistant ini (errrr…saya jangan digetok yaaa, Santa J), maka saya ngga punya clue siapa itu Vampire assistant. Setau saya keluarga Cullen ga punya assistant rumah tangga deh…. Huakakaka…. Begitu nyari kata kunci Vampire Assistant, saya langsung diarahkan mas Google ke satu nama penulis, dan seterusnya, alamat dan sebagainya mengacu pada satu penulis: DARREN SHAN. Meski belum pernah membaca karyanya, nama penulis ini wara wiri di status update salah satu teman Facebook saya yang rupanya head over heals nge-fans sama penulis yang tinggal di County Limerick, Ireland. Maka, saya pun HAQQUL YAQIN, bahwa Santa saya yang baiiikkk banget ini adalah:

MARYANA ULFAH AS RORO

Ketika Maryana ini masuk di grup Whatsapp BBI Nusa, saya sudah gatel menyapa, Halo, my Santaaaa… hahaha… Tapi kan waktu itu belum waktunya nebak Santa hahaha…

Sekali lagi, makasiihh banget buat kadonya ya, Maryana. Semoga bisa jadi Santa saya lagi di ujung tahun ini. Clue-nya nyerempet Darren Shan lagi, boleh loooo…. :D

14 komentar:

  1. Dih mbak Lila, rikues santanya apeu banget :))

    Btw buku ini ternyata ninfiksi ya. Aku liat covernya selama ini dan mikir ini fiksi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, kenapa sama buku ya,Wi? Bagus kookkk... :D

      Hapus
  2. Aku baca repiu nya mbak merinding. Buku Qanita rata2 buku setipe ini ya mbak Lil?
    beneran deh, aku kira ini juga fiksi mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, aku ga tau kalo terbitan Qanita rata2 begini, Sasti. Mungkin kali yaaa...

      Baca aja, biar sekalian merinding diskonya hahahahaha...

      Hapus
  3. dan aku nebak maryana jadi santa aku.. hiks salah yah #lemes
    hahahahaha

    BalasHapus
  4. Masak Maryana jadi santa dua orang, mute? #inosen...

    BalasHapus
  5. kovernya 'bicara'
    selamat sudah nerima kado dari asisten vampir, mbk XD

    BalasHapus
  6. jelas deh kalo asisten vampir #kibasrambut yang beneran cinta mati sama om Shan ya itu mary :D

    BalasHapus
  7. Ini sih sudah pasti sejelas - jelasnya Maryana, hahahahaha.

    Dia kalau ama Darren Shan kan udah ngefans banget :))

    BalasHapus
  8. waaah pas banget tebakannya ya sepertinya :D btw bukunya bagus ya kayaknya. model2 three cups of tea gitu ya? Tapi yang ini beneran non fiksi hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum baca three cups of tea... Masukin wishlist deh... :D

      Hapus
  9. Tampaknya semuanya tahu kalau santanya Kak Lila itu aku XD

    Hai kak Lila, senang mengetahui kalau kak Lila suka hadiahnya...

    Well, aku perlu lama untuk mikirin riddle. Salah satu alasan aku tak ikutan SS 2014 adalah karena gak bisa bikin riddle XD Tapi pas tahun 2015 aku sempet iseng pake alamat Shanville (nama rumah Darren Shan) dan kepikiran buat jadiin riddle.

    Clue nya sih emang cuma Darren Shan. Karena kulihat, anak BBI yang punya hubungan erat sama dia itu ya aku XD. Oh iya, kalau kak Lila ketikin "Darren Shan BBI" di google, postingan anak BBI yang pertama muncul adalah postinganku :)

    Ngomong apa lagi ya XD

    Well, semoga suatu saat kak Lila akan baca buku Darren Shan....

    *balik ke Shanville*

    BalasHapus
  10. Waaaa... Santaku sudah muncullll... Tengkiu hadiahnya ya, Maryana, en easy riddle-nya hahaha... Ayo sini, boleh lo kirim bukunya om Shan ke aku hihihi... #ngelunjak...

    BalasHapus
  11. Aku kok ngelihat covernya agak horror. -.-

    BalasHapus