Jumat, 23 September 2016

Cemara Family #2 by Arswendo Atmowiloto




Ebook, Ijak application, 282 pages
Published by Gramedia Putaka Utama
Diterjemahkan oleh: Mariati
Rating 2,5/5

Saya sudah pernah mendengar tentang buku ini lamaaaaaaa sekali tapi baru sekarang saya berkesempatan membaca buku ini yang kebetulan tersedia secara gratis di ijak. Sebenarnya, saya agak kurang sreg ketika menemukan buku ini dalam Bahasa Inggris. Alasan utama saya adalah, saya tidak menikmati gaya Bahasa Arswendo yang saya sangat sukai di buku Menghitung Hari atau di Horeluya. Tapi karena ketika waktu itu jari saya tiba-tiba sudah mengeklik ‘pinjam’ di library Ijak, akhirnya saya baca juga.

Kesan pertama saya ketika membaca kisah Abah sekeluarga bukannya saya kehilangan gaya Bahasa Arswendo, tapi juga kehilangan mood ketika saya dapati terjemahan yang pada awalnya terlihat lumayan, tapi semakin banyak bab yang saya baca, saya semakin gerah. Tidak hanya masalah dengan grammar, tapi juga dengan pilihan kata, pengalihan kata ganti orang pertama yang biasa dilakukan orang dewasa ketika ngomong dengan anaknya (Ema, sebagai contohnya), yang sama sekali diterjemahkan secara mentah. Di keseharian, saya biasa menyebut nama saya pada ponakan atau ibu saya, demikian juga dengan Ema. Di buku ini, sang penerjemah sama sekali memindahkan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris ketika Ema ngomong pada anak-anaknya. Lucunya, ketika tiga anak gadis keluarga ini ngomong, kata gantinya berubah menjadi orang pertama tunggal. Belum lagi beberapa diksi yang saya rasa kurang pas dan terdapat banyaaaakkkk sekali frasa-frasa yang mungkin dalam Bahasa Indonesia itu adalah hal yang wajar. Tapi dalam Bahasa Inggris, dalam satu kalimat, mulai subjek hingga titik, struktur selalu ada subjek, predikat dan objek. Meskipun terkadang masih terserah penulis juga sih, tapi tetap saja deretan frasa yang saya pikir bisa diubah menjadi kalimat membuat saya gataaalll :D Lucunya, terkadang saya justru kurang yakin pada diri sendiri ketika mendapati satu kata yang sebenarnya saya, tapi saya justru yang merasa kurang piknik atau kurang membaca. Misalnya kata ‘Prove’. Dalam bahasa Inggris kata kerja ketiga adalah ‘Proven’, tapi berapa kali terjemahan ini menggunakan kata ‘proved’ di kalimat pasif. Itu hanya satu contoh. Yang lainnya, boanyaaaaakkkk….. aaaarrrggghhh… 


Dari segi cerita, sekilas saya mendengar bahwa kisah-kisah dari kelurga Cemara ini sangat membumi, dipuji karena kesederhanaaannya. Cerita berpusat dari keluarga Abah setelah Abah bangkrut dan harus tinggal di rumah sangaaat sederhana. Ketiga putrinya, Euis, Ara dan Agil saling berganti menjadi topik cerita. Terkadang muncul juga tetangga super kaya, Tante Prancis dan anaknya yang percaya bahwa dengan uang mereka bisa memiliki dunia seisinya :0. Selain itu, muncul juga topik yang sedikit menyerempet kebijakan pemerintah setempat seperti penertiban becak, dll. Cukup menarik untuk diikuti, hanya sayangnya, saya tak kuasa menyelesaikan kumpulan kisah-kisah pendek ini. Jika saja saya membaca novel aslinya sebelum dialihbahasakan, mungkin justru bisa saya selesaikan. 

Overall, ngga terlalu rugi kok membaca novel ini meski saya harus menahan gondok yang tak ada habisnya dan rasa heran berkepanjangan. Saya yang sempat menerjemahkan thesis seorang teman dari bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, dengan struktur Bahasa Indonesia yang kental karena redaksi aslinya memang demikian, dikomplain habis-habisan oleh professor pembimbingnya. Bagaimana mungkin buku yang dirilis oleh penerbit besar macam Gramedia ini lolos dari sensor editor atau proofreader? Wallahualam…

Ohya, ocehan saya yang lain dalam bahsa Inggris bisa diliat disini yaaa...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar