Senin, 14 Mei 2018

Resign by Almira Bastari


Ebook Gramedia Digital, 288 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama, Januari 29,2018
Rating 3/5

 Sebelumnya, saya sudah cukup banyak membaca review bagus akan buku ini, yang jebolan wattpad. Terus terang saya ngga pernah tertarik membaca cerita apapun di platform menulis itu. Ketika satu teman saya menulis pun, dan sosok saya masuk dalam ceritanya pun, saya hanya membaca sekilas. Gimana ya? Menurut saya, lebih baik saya membaca buku yang sudah ada di goodreads demi menambah jumlah baca saya hahahaha... Cetek banget ya alasan saya ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ

Seperti review lainnya, saya juga menikmati novel ini, rasanya kayak makan ceriping atau keripik, kriuk kriuk gitu. Konfrontasi antara bawahan dan atasan disampaikan secara kocak. Rumpian antara kubikel menunjukkan betapa hubungan mereka dekat meski tetap saling curiga satu sama lain, siapa yang bakal resign dari kantor itu terlebih dahulu. Tapi ketika rumpian terhadap si boss yang galak dan semena mena itu disampaikan terus menerus, saya merasa ceriping yang saya makan mulai bikin saya eneg. Pengen segera dibungkus dan dilanjutkan makan nanti ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Mungkin banyak diantara pembaca novel ini yang merasa sedikit terhubung dengan para karakter di novel ini, yaitu merasa ditindas boss hingga hanya satu keinginan di hari depan, mengundurkan diri alias resign. Secara pribadi, saya juga sedang mengalami masalah satu ini di kantor, pengen rasanya mundur dan mendapat pesangon yang layak untuk membuka usaha. Tapi Sepertinya itu masih angan-angan semata deh. ๐Ÿค Berbeda dengan para karakter di novel ini yang masih muda dan lincah mencari pekerjaan baru, hingga tercetus ide traktiran pada mereka yang bakal keluar dari pekerjaan paling dulu. Saya dan teman-teman saya sedang galau apakah bertahan atau menyerah. Jika bertahan bakal merasakan kesewenangan terus menerus, jika menyerah dan keluar dari pekejaan, di usia tak lagi muda ini, kemana kami menuju? Hiksss ๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข Tapi, seperti orang jJwa pada umumnya, selalu ada untung dibalik ketidakenakan akan sesuatu. Untungnya ya saya berada di lembaga pendidikan, sehingga murid-murid adalah hiburan sekaligus pelampiasan Jika ada satu hal yang terjadi, enak atau tidak enak hehehehe.... 

Saya kok jadi menggalau disini ya? ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

Well, seperti yang sebut di awal review, saya cukup menikmati novel yang kriuk ini, dari mulai ceritanya, pace-nya hingga gaya bercerita penulis. Tapi deskripsi tentang kesewenangan si boss Trigan sepertinya terlalu banyak hingga seperti ceriping kalo terlalu banyak, rasanya ya eneg juga. Saya juga cukup sebal dengan Alranita, si karakter utama novel ini. Ketika ia menerima begitu banyak perhatian dari boss gantengnya, bawaannya kok curiga melulu. Kenapa tidak muncul rasa ge-er barang sedikitpun? Dia single, si boss juga, ganteng pula, ngga 'belok' juga kan ya? Jadi menurut saya bolehlah muncul rasa geer di pertengahan cerita, bukannya di hampir akhir cerita baru ia merasa marah dengan perlakuan si boss yang baginya membingungkan. Bukannya dia sendiri yang bikin cerita jadi sedrama ini? Huft.... Tapi yah Untung lah tebal buku ini hanya 280an saja jadi tidak terlalu berlama-lama drama boss dan bawahan yang sebenarnya saling cinta ini ๐Ÿค—

Overall, boleh juga menghabiskan satu judul buku dalam hampir sekali duduk, untuk mempercepat menambah jumlah challenge yang keter beberapa minggu terakhir ini ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

4 komentar:

  1. Saya suka sama buku ini karena kekonyolan Tigran menjabat bos dan menidas Al. Romannya juga kerasa banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tigran tuh kayak tipikal cowok2 pedas di Drakor atau dorama tapi ternyata sweet. macam tsundere gituuu hahahaha...

      Hapus
  2. sukaa baca review ini, terutama bagian yang ini:
    "Jika bertahan bakal merasakan kesewenangan terus menerus, jika menyerah dan keluar dari pekejaan, di usia tak lagi muda ini, kemana kami menuju?"

    soalnya saya juga ngerasain hal yang sama, hehehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe.... Ternyata kok senasib yaaaa....

      Hapus