Kamis, 19 September 2013

George’s Marvelous Medicine by Roald Dahl




Paperback, English, 89 pages
Published by Puffin Books 1991
Rating 3/5
Apa yang ingin kau lakukan ketika ada seseorang yang terus menerus marah marah? Membalasnya marah? Bagaiman jika itu adalah saudaramu. Saudara yang seharusnya menyayangimu, membelaimu, mencintaimu lebih daripada cinta orangtuamu sendiri? Yeah, ada yang bilang, kasih saying kakek nenek itu bisa melebihi kasih saying orangtua. Tapi tidak bagi nenek George yang sangat hobi uring-uringan. 

Tidak hanya uring-uringan, tapi juga suka sekali mengata-ngatai George seperti nasty child. Sang nenek ini kalem ketika orangtua George ada di rumah. Begitu mereka pergi, dan tinggallah George berdua dengan sang nenek, maka berulahlah sang nenek. Dia bahkan menakut-nakuti George dengan mengatakan hal-hal yang ia snagat yakin kebenarannya. Dan justru ini sebenarnya menyesatkan. Simak saja 



“Daddy says it’s fine for a man to be tall,” said George.
“Don’t listen to your Daddy. Listen to me.” Grandma said.
“But how I stop myself from growing,” George asked her.
“Eat less chocolate,” Grandma said.
“Does chocolate make you grow?”
“It makes you grow the wrong way. Up instead of down,” she snapped.

Hahahaha…. Sang nenek ini ternyata dulu pertumbuhan sangat lambat sehingga di usianya sekarang, tingginya hampir sama dengan George yang masih berusia 8 tahun. Alih alih makan coklat, sang nenek memberi nasihat pada George untuk menghentikan pertumbuhan dengan memakan kol, lebih lagi jika ada ulatnya disana. Padahal menurut George, ibunya selalu mencuci kol ketika ada ulat disana. Jawaban sang nenek sangat cepat, “Mummy is as stupid as you are!” wwwoooowwww…. Bener bener menyesakan nih si nenek. Maka, George yang sudah ketakutan dan merasa terintimidasi dengan segala ucapan sang nenek berusaha semakmisal mungkin untuk berbuat sesuatu terhadap si nenek. Ide pun muncul.

Nenek mempunyai kebiasaan minum obat di jam jam tertentu. Maka, George mempunyai ide untuk membuatkan neneknya obat baru yang akan menghilangkan segala sifat buruknya. Maka di mulailah petulangan George membuat resep obat hebat. Bahannya tidak sulit didapatkan di sekitar rumahnya. Dari mulai kamar mandi, kamar tidur orangtuanya,  kotak obat bagi hewan ternak ayahnya hingga gudang peralatan ayahnya.  Dari kamar mandi, ia mendapatkan bahan-bahan seperti Goldenloss hair shampoo, toothpaste, superfoam shaving soap, vitamin enriched face cream, hair remover cream, dishworth famous dandruff cure, bubuk brillident for cleaning false teeth, dan masih banyaaaak lagi bahan lain yang masuk dalam ramuan resep hebatnya. Ditambah dengan berbagai macam bahan lain dari tempat2 lain di rumahnya, George sangat teliti membuatnya. Dia ingin semua manfaat yang ada dalam semua bahan itu mampu meembersihkan sifat sifat buruk neneknya. 

Ramuan pun siap dengan kadar kekentalan dan warna yang sama. Dan tibalah saat sang nenek obatnya. George telah membuang isi asli obat dalam botol dan menggantinya dengan ramuan ciptaannya. Nah, berhasilkah George ‘menyembuhkan’ sifat buruk neneknya?

Saya tak habis ngakak ngikik selama membaca novel tipis ini. Ide gila George ‘menyingkirkan’ sifat buruk neneknya ini sama persis dengan keinginan beberapa anak yang kesal akan sifat orangtua yang bawel. Jikalau mereka bisa, ingin rasanya menciptakan orangtua yang mau mengerti mereka. Namun, di kisah ini,  sang nenek ini menjadi pain in the neck bagi sluruh keluarga, tak terkecuali mamanya, putrinya sendiri. Sifat pemarahnya ini seakan tak mengenal musim. Apapun yang dilakukan George atau sang menantu, atau bahkan putrinya sendiri, selalu saja salah. Huh…. Pepetah orang Jawa mengatakan, watuk (batuk) bisa diobati, tapi jika itu watak, maka itu adalah pekerjaan sepanjang hidup bagi orang-orang di sekitarnya. Padahal, sifat satu ini tak ada untungnya apa pun, baik bagi si pemarah, apalgi bagi orang-oranag di sekitarnya hahahaa… Roald Dahl memang jago menyindir orangtua lewat tangan anak anak.


1 komentar:

  1. Aku juga sukaaa buku ini. Absurd banget ya emang novel2nya Dahl itu

    BalasHapus