Rabu, 29 Januari 2014

#4 Cinta Tak Pernah Tepat Waktu by Putut EA




Paperback, 319 pages
Published by Orakel - Jogjakarta 2005
Rating 3/5

Terus terang, saya kepincut novel ini setelah melihat 'makian' teman saya yang biasa membaca novel 'ajaib' non romans. Ratingnya 4, dengan review 'semacam jleb' gitu lah. Setelah dioper ke satu teman, akhirnya sampai juga novel ini ke tangan saya. Dan saya mulai membaca...

Novel dibuka dengan sebuah prolog dengan banyak analogi tentang banyak hal yang terjadi tak tepat waktu: pengumpulan tugas akhir yang meleset, weker yang berbunyi tak terdengar di hari ujian, dan banyak hal lain yang mirip. Si Aku (tak terdeteksi namanya dari awal hingga akhir) bercerita bagaimana kisah cinta pertamanya yang datang tak tepatwaktu, dan cinta lainnya yang masih berbayang cinta pertamanya. Sakit. Linglung. Tolol dan konyol. Tak pernah berpikir saya ada nasib orang sebegitu sial yang terus berulang. Saya juga pernah mengalami hal sial yang mirip, hanya saya tak bisa bilang bahwa kesialan saya lebih beruntung dibanding si Aku. Masalah cinta selalu saja menjadi hal yang rumit (bagi si Aku dan sepertinya juga saya), masa lalu masih terus menghantui, masa manis yang terasa pahit dikenang dan sepertinya tak perlu... Kenangan itu datang tak diundang, pergi tak diantar, macam jailangkung saja.


"Ia, kenangan, bisa datang dari apa saja, dari mana saja seperti setan. Ia bisa menyentak ketika kita sedang mengaduk minuman. Ia bisa menerabas hanya lewat satu adegan kecil di film yang sedang kita tonton. Ia bisamenyeruak dari sebuah deskripsi novel yang sedang kita baca. Ia bersemayam di mana-mana, di bau parfum orang yang bersimpangan dengan kita, di saat kita sedang termangu di pantai, di saat kita sedang mendengarkan lagu". (hal. 186)

Well, awalnya saya cukup menikmati jalinan kisah ‘sial’ si Aku, tapi kemudian mulai agak terganggu dengan banyaknya bayangan masa lalu yang saya bingung wanita yang mana yang tengah membayanginya (meski ternyata hanya satu hahaha). Kemudian saya juga terganggu dengan masa lalu si Aku yang pernah terlibat di dunia politik awal kehancuran Orde Baru yang dikisahkan entah dari sudut pandang mana hingga tokoh utama diceritakan sebagai ‘kamu’, membuat saya bertanya-tanya kenapa Aku tiba-tiba menjadi ‘kamu”? Entahlah. Saya kurang memahami saja pergantian istilah ini. Selebihnya, saya cukup menikmati ‘kesialan2’ yang dialami si Aku dan juga cerita cerita seputar ‘surga’nya di beberapa tempat yang hampir kesemuanya ada buku disana.

Oya, sebagai pembaca pertama karya Putut EA, terus terang saya sangat menikmati gaya bahasanya yang lugas dan kocak. Pilihan katanya saya suka. Sayangnya, tipo masih banyak tersebar disana sini. Satu lagi, satu kata yang membuat saya ngakak adalah kata yang sangat Jawa, yang saya kurang yakin jika ini dibaca oleh orang lain yang tidak mempunyai basic bahasa Jawa, bisa memahaminya. Kata “diulungkan’ dan ‘mengulungkan’, kenalkah dengan kata ini? Dalam pemahaman saya, yang cukup sering menggunakan istilah ini, kata ini berarti ‘menyerahkan’ atau memberikan. Meski sebenarnya dalam artian bahasa Jawa, makna itu masih kurang mengena. Tapi kenapa ya Putut EA lebih suka memnggunakan kata ‘diulungkan’ dan ‘mengulungkan’ dari istilah yang lebih nasional? Entahlah. Recommended for you all who suffer from shit of life. You are not alone, buddy #evilgrin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar