Kamis, 30 Januari 2014

#5 Me Before You – Sebelum Aku Mengenalmu by Jojo Moyes




Paperback, 654 pages
Penerjemah: Tanti Lesmana
publishedGramedia Pustaka Utama Mei 2013
rating 4/5

Banyak review yang mengatakan buku ini banjir airmata. Saya yang membaca sekilas review itu jadi menunggu nunggu, seperti apa airmata saya bakal banjir. Seberapa tissue yang saya butuhkan untuk menyeka airmata saya?


Lou Clark tahu banyak hal. Dia tahu berapa langkah jarak antara halte bus dan rumahnya. Dia tahu dia suka sekali bekerja di kedai kopi The Buttered Bun, dan dia tahu dia mungkin tidak begitu mencintai pacarnya, Patrick.
Tetapi Lou tidak tahu bahwa dia akan kehilangan pekerjaannya, dan peristiwa apa saja yang akan menyusul kemudian.

Setelah mengalami kecelakaan, WillTraynor tahu dia tidak berminat lagi untuk melanjutkan hidupnya. Duninya kini menyusut dan taka da suka cita. Dan dia tahu betul bagaimana menghentikannya.
Namun Will tidak tahu sebentar lagi Lou akan masuk ke dunianya dengan membawa warna warna ceria. Mereka berdua sama sama tidak menyadari, betapa mereka akan membawa perubahan besar ke dalam kehidupan satu sama lain.

*_*
Review singkat di balik novel ini sudah menjelaskan bahwa novel bertema sicklit ini menjanjikan banjir airmata seperti review yang sudah saya baca di goodreads. Ehem…


Novel ini didominasi dengan PoV Louisa Clark alias Lou yang pada awal kisah merasa stress dengan ditutupnya kedai kopi dimana ia bekerja selama ini. Kondisi keluarganya yang pas-pasan memaksanya untuk mencari pekerjaan lain. Berbagai pekerjaan yang ditawarkan dari Bursa Tenaga Kerja: tugas malam di pabrik pengolahan ayam, menhadiri sesi pelatihan sebagai Penasihat Energi Rumah Tangga, di restoran, hingga tawaran bekerja sebagai penari erotis. Namun semua tidak ada yang membuat Lou memikirkan kedai kopinya.


Tapi tidak ada yang menarik minatku. Aku suka bekerja di kafe itu. Aku suka mengetahui segala hal tentang The Buttered Bun dan mendengar kisah hidup orang orang yang dating. Aku merasa nyaman di sana. (hal. 26)


Hingga suatu hari, sebuah tawaran pekerjaan membawa Lou ke rumah keluarga Traynor, sebagai perawat orang cacat. Will Traynor mengidap quadriplegia, kondisi seseorang yang harus selalu di kursi roda, tidak mampu menggerakkan tubuh dan kakinya, dan sedikit bagian lengan dan tangannya. Tugas Lou sebenarnya adalah sebagaai asisten perawat yang beberapa tahun ini menjadi perawat tetap Will, yaitu Nathan. Pekerjaan yang terliaht sulit ini akhirnya bisa ditaklukkan oleh Lou, hingga ia bisa menikmati setiap kedatangannya ke rumah Will. Hingga suatu saat ia mendengar percakapan antara Mrs. Traynor, ibunya, dengan adik Will tentang suatu tempat yang dalam beberapa bulan mendatang, akan segera mengakhiri hidup Will.
Lou tak kuasa meeneruskan pekerjaanya karena mengetahui apa yang bakal terjadi 6 bulan mendatang. Dia lebih memilih mengundurkan diri daripada meneruskan pekerjaannya karena dia tidak ingin terlibat dalam’pembunuhan’ atau ‘bunuh diri terencana’ ini. Niat Lou ini dimentahkan lagi oleh Mrs. Traynor dan adik Lou, Katrina, yang mempunyai ide brilliant. Lou harus mengajak Will jalan2 kemana saja, melakukan banyak hal yang belum pernah dia lakukan selama menjadi penyandang quadriplegia hingga pada saatnya nanti, Will bisa saja mengubah keputusannya.
Will Traynor adalah pribadi yang angkuh, sombong dank eras kepala. Omongannya di awal pertemuannya dengan Lou sangat sinis. Namun Lou bukan perawat pada umunya, selain ia tidak mempunyai pengalaman sebagai perawat, berbeda dari perawat yang lain, dia bisa seenaknya saja membentak Will ketika ia kesal, beradu argument dengannya, dan mengatur segala agenda yang akan mereka lakukan bersama. Dari padangan Will, Lou adalah pribadi yang sangat ‘hijau’. Dia tidak pernah  menonton film dengan subtitle yang selama ini ia anggap aneh, menonton orchestra, dan banyak lagi. Mereka berdua, Lou dan Will saling memberi warna pada masing masing kehidupan mereka.

Saya suka sekali novel dramatis ini meski ternyata tidak terlalu membuat saya bercucuran airmata. Mungkin karena sudah mengantisipasi ending yang sedih, atau sitausi menyedihkan disini masih kalah dengan beberapa novel lain yang membuat saya berlinang airmata, misal The Hunger Game, Wonder, dan merinding saking terharunya (meski ngga sampai nangis) seperti Insiden Aning di Tengah Malam…atau hati mencelos seperti kehilangan Dumbledore di Harry Potter. Tapi tetap saja saya suka dengan jalinan kisah runtut seputar keluarga Lou yang susah tapi saling mendukung satu sama lain, kecemburuan Lou terhadap adiknya yang lebih beruntung karena lebih cerdas, sandiwara antara Mr. dan Mrs. Traynor sedikit menyebalkan sekaligus menyesakkan, jalan2 yang gagal pun membuat saya sesedih Lou, dan liburan luar biasa di hampir penghujung kehidupan Will. Saking sempurnanya liburan mereka, membuat saya be3rharap akan twist yang mengejutkan di akhir kisah. Ternyata… oh…oh…

Note:
Posting ini saya sertakan dalam posting bareng BBI bulan Januari 2014 untuk event Secret Santa gift.

Untuk Santa saya, thank you thank you very much for giving me this novel. Ehem, saatnya menebak SS saya ya. Hahaha… setelah Tanya sana sini, dan rajin scrolling data member BBI di group BBI facebook, saya berhasil menebak Santa saya.

Clue ‘lebah’ akan langsung terpikir Madu, Bee, dan Honey. Imbuhan huruf ‘G’ di nama tengahnya yang bisa membuatnya menjadi satu tempat wisata di Jawa Tengah juga meyakinkan tebakan saya, ditambah dengan satu hari raya yang dirayakan sebagian besar umat di Indonesia.

So, thank you very much for HANIFAH DIEN(G) FITRIYANTI
Terima kasih juga telah memberi saya clue yang mudah hahaha…. Semoga next time My Santa will be you once more, so I can figure out your handwriting hihihihi…

17 komentar:

  1. Hahaha....gak mberebes mili ya baca ini buku, mbak? Aku sih iyaa :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masak si, Wi, nangis? Ga percaya.... Kalo baca buku biru nangis ngga? #halah

      Hapus
  2. aku juga gak nangis baca buku ini... tapi tetep suka kok.
    wah, berhasil nebak santanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Horeeee...kita berdua emang kurang sensitif untuk bagian sedih2 yaaaaa...

      Hapus
  3. Aku nangis bombay baca ini, pas sebelumnya baca The Fault-nya John Green, abis deh mata belok kayak alien :D
    Aku tebak cari kata 'honey' di riddle-nya, sptnya memang benar tebakan mbak Lila :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, pantas akhir2 ini hujan deras mulu. Ada yang nangis deres rupanya :O

      Hapus
  4. aku juga ga nangis nih baca ini hahaha, dasar tidak sensitif!!! XD tapi keren bisa nebak riddlenya li...aku gak kepikiran sama skali..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Tosss, Astrid, sesama tidak sensitif hihihi...

      Masak sih ga inget sama Hani? Hihihi... #pukpukHani

      Hapus
  5. *ngikik pinjeem wooy kapan kapan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada suara cekikikan... #sereemmmm... #malamjumat :p

      Hapus
  6. antre pinjem di belakang Vina :")

    BalasHapus
  7. antri juga di belakang kak /&i
    #sekalian tisuenya

    BalasHapus
  8. Iyaaah, aku ngaku aku santanya Mba Lila hahahaha
    Maaf ya Riddlenya kurang menantang ya T.T
    aku buat ala kadarnya karena buru buru hahaha
    tapi syukur deh suka sama bukunya :D

    BalasHapus
  9. suka tapi nggak suka banget. sedih tapi nggak sampe nangis, suka dengan tema cerita yang diambil :D

    santanya ngaku dong apakah bener atau nggak :D

    BalasHapus
  10. AAAAAAAAH. Aku mau nangis juga, eh, maksudnya mau baca juga. Hiks. Mahal tapi. #plak.

    Oot dikit ah: TAMPILAN BLOGNYA BARU NIH YEEE. CIE CIEEE. *diteriakin: KEMANA AJA PAAAN?*

    BalasHapus