Rabu, 30 April 2014

#16 Garis Batas by Agustinus Wibowo




Paperback 510 halaman
Published by Gramedia Pustaka Utama Juni 2011
Rating 5/5

Apa kabar negeri Tajikistan di seberang sungai? Tampak indah menjanjikan kebahagiaan dibandingkan negeri berselimut selimut debu, Afganistan. 

Setelah lebih dari satu tahun, akhirnya saya melanjutkan kisah perjalanan Agustinus Wibowo ke tanah seberang sungai yang telah membuat penasaran di bab bab terakhir Selimut Debu. Sama halnya dengan si penulis, saya pun mengharapkan keindahan seperti yang terlihat dari seberang sungai, Amu Darya yang hanya beberapa meter saja lebarnya tapi membatasi dua negara dengan kondisi bagai bumi dan langit.

Tajikistan, negara pertama yang dijelajahi seusai terseok-seok keledai keras kepala di Afganistan. Mobil-mobil meluncur di jalan mulus, gadis -gadis berpakaian modern, pendidikan terbuka bagi siapa saja, dan berbagai kemudahan lainnya dibandingkan negara selimut debu. Untuk ini, warga Tajik patut berterimakasihpada Soviet Tapi apakah keindahan itu nyata adanya? Dibandingkan negara stan stan lainnya, Tajikistan adalah negara termiskin dengan pendapatan penduduk rata2 20 dolar, dengan tunjangan pensiun hanya 5 dolar. Harga bensin jauh melampaui kemampuan daya beli. Alhasil, mobil teronggok tanpa bensin, segala sesuatu mulus dengan hadirnya somoni, uang dan uang. Sogokan dimana mana,  korupsi merajalela, tak peduli siapa, dimana dan kapan saja, termasuk di bulan suci Ramadhan. Astagfirullah... Ironis memang, dengan mayoritas penduduk beragama Islam, bulan Ramadhan tak ubahnya bulan bulan biasa, warung-warung tetap buka, vodka tetap ditenggak ckckck...

 Sungai Amu Darya (sumber)

Negara stan kedua adalah Kirgiztan. Apakah ada beda diantara keduanya? Mereka sama sama negara yang lahir dari perut Soviet dan hanya bergaris batas sejauh kira kira 20 kilometer saja. Disini berdiri negara berbeda dengan kesamaan mencolok, polisi yang doyan sogokan dan korupsi. Ini adalah negara yang ingin benar benar melepaskan diri dari kungkungan nostalgia zaman komunis, mereka menggusur bahasa Rusia, mengganti nama kota dan jalan yang berbau Soviet dan patung patung dirobohkan (hal. 142). 

 Kesibukan di kota Osh, Kirgiztan. Ada roti nan segedhe tampah :D (sumber)

Osh, sebuah kota tua di sebelah selatan Kirgiztan, selama ini ber make up ala Rusia, gedung gedung modern, dan mobil lalu lalang mengubur kenyataan bahwa kota ini pernah mengalami kejayaan di masa lalu. Usianya yang mencapai 3000 tahun, sudah pasti menyimpan masa lalu yang luar biasa. Sayang, identitas yang terlihat saat ini adalah wajah Rusia yang ingin disingkirkan, tapi belum juga terlihat jati diri Kirgiztan yang sesungguhnya. Bahasa nasional, sejatinya adalah kebanggaan suatu bangsa, menjadi hal yang ironis di negeri Kirgiz. Rusia terlalu mengakar hingga tak ada ruang untuk bahasa ibu. Bahasa negeri komunis melebur di setiap aspek kehidupan hingga ke hurufnya. 

Bagi negeri-negeri, bahasa nasional adalah perjuangan besar untuk mempertahankan eksistensi dan jati diri. Sementara di belahan lain Asia, pemimpin dan rakyatnya malah bangga bisa menyelipkan  kata dan kalimat bahasa asing, sebagai lambang kecerdasan dan kemajuan berpikir, tertimbun oleh kekaguman dan pemujaan terhadap kemajuan peradaban asing--secuil superioritas dari sindrom inferioritas bangsa terjajah (hal. 179)

Familier dengan negeri Asia tersebut? #uhuk.....

Stan ketiga adalah Kazakhstan. Negeri yang hanya berbatas setengah jam dari negeri miskin Kirgiztan ini mempunyai kehidupan yang sangat kontras. Negeri terluas dibandingkan 4 negara stan lainnya ini menjanjikan sesuatu yang berbeda. Sepi, itu yang ditangkap pertama kali oleh Agustinus, si penulis. Mahal, adalah kesan kedua ketika ia menikmati makan ala kadar dan hotel tengik. Meski kaya raya oleh hasil buminya, Kazakhtan bukan negeri impian yang ideal bagi penduduknya. Sulitnya pekerjaan dan harga harga yang tak terjangkau menjadi keluh kesah penduduknya. Kekayaan hasil bumi menciptakan dua golongan mencolok di negeri ini, kaum pendatang - eksekutif mancanegara bergelimang kekayaan, dan penduduk setempat yang miskin. Kejahatan merajalela tanpa ampun.
 Astana ibukota Kazakhstan. Modern bin mahaalll (sumber)

Negeri kaya ini memang menjadi magnet bagi para pendatang yang dulunya sengaja didatangkan oleh pemerintah Rusia: Korea, Ukraina, Jerman, Turki, Uzbek hingga penduduk Rusia sendiri. Jadilah Kazakhtan negara berkumpulnya berbagai macam ras internasional. Anehnya, di negeri penuh dengan berbagai macam ras ini, tetap saja bisa ditemukan olok olok rasial yang menyakitkan. Saya pikir, para pendatang itu akan maklum dengan kondisi masing-masing. Sayangnya, rasis ini memang dimulai oleh si mantan negara adikuasa itu sendiri.  Di mata orang Rusia, negara- negara dari Asia Tengah adalah negara terbelakang. Orang Muslim  di kawasan ini disebut chernokozhie setara dengan negro. Kulit membungkus manusia. Warnanya adalah garis batas, identitas, label, penentu takdir. 

Selamat datang di negara stan keempat, Uzbekistan, sebuah negara yang terkenal dengan gadis gadisnya yang molek, yang beberapa diantaranya disunting orang orang Indonesia. Negara yang terkenal elok paras penduduknya ini tidak sebanding dengan paras ekonomi di negara ini. Setelah miskin di Kazakhtan, si penulis tiba tiba menjadi kaya hanya dengan memiliki satu tenge! Mata uang Uzbek terbanting. Untuk membeli tiket pesawat saja dibutuhkan berkantung kantong plastik uang Sum, karena pecahan terbesar mata uang ini tidak mencapai. US$1! 
 Gadis2 cantik Uzbekistan (sumber)

Uzbekistan juga terkenal sebagai negara pecahan Soviet yang paling anti Rusia. Kebencian begitu mendalam hingga semua patung tokoh komunis dihancurkan, nama pahlawan Rusia digusur dari papan jalan digantikan nama pahlawan Uzbek, bahasa Rusia digantikan bahasa Uzbek. Saking bencinya, hingga orang keturunan Rusia adalah warga kelas dua disini. Jika di Kazakhtan, keturunan Rusia masih bisa sombong dengan guyon rasialnya, disini, warga Rusia terseok-seok. Bule kecil bermata biru bening menjadi pengemis, mengais sampah orang Uzbek. (Di negara kita pasti sudah jadi pemain sinetron wkwkwk).

Nah, akhirnya, selamat datang di negeri Utopistan alias Turkmenistan, negeri ajaib dengan pemimpin narsis tiada kepalang. Jika si penulis mengatakan Uzbekistan adalah negara tidak normal, saya kurang setuju. Saya lebih setuju jika negara Turkmenistan ini yang disebut negara abnormal. Selama membaca, saya dihantui negara utopia nan dystopia macam Panem atau negara dimana wajah cantik tampan bisa didapatkan setelah usia 17 tahun, negeri rekaan Scott Westerfeld (Uglies series). Negeri ini menawarkan kemudahan, kemewahan, semua barang hingga jasa super murah, keteraturan yang absolut, kebebasan yang kontrolnya centralized dari pemimpin nan agung, Turkmenbashi. Pemimpin ini kemunculannya bisa dimana mana dalam bentuk patung emas, poster hingga kamar hotel bintang lima!! Omongannya adalah ayat ayat yang harus dipatuhi yang tercantum dalam kitab Ruhnama. Segala persoalan dunia, termaktub dalam kitab suci ini. Luar biasa bukan? Lebih hebat lagi, pemimpin narsis ini ingin namanya, nama keluarganya menjadi suatu yang melebur dalam masyarakatnya, maka digantilah nama nama bulan, nama hari dengan nama nama keluarganya. 
 Foto2 diambil dari wikipedia (masya Allah, narsisnyaaa)

Mayoritas penduduk disini beragama Islam, jadi bagaimana kedudukan kitab sucinya dibandingkan Ruhnama? Di pintu masuk masjid Turkmenbashi, tertulis besar besar semboyan suci, "Ruhnama kitab yang suci, Quran kitabnya Allah". Ckckck... Belum berhenti disitu saja, pemimpin yang menjanjikan Abad Emas untuk rakyatnya ini bahkan telah 'meminta' Allah untuk memasukkan mereka yang telah membaca Ruhnama tiga kali untuk masuk surga. #gubraaakkk.... 

Perjalanan Agustinus ke Turkmenistan ini mengakhiri tur negara negara stan dengan kesan campur aduk. Selama proses membaca, saya dilanda berbagai macam perasaan, mulai dari sedikit bosan dengan paparan sejarah ini itu di awal buku, terperangah dan sedih dengan daerah yang tadinya saya harapkan menjadi oase yang sejuk setelah lepas dari Selimut debu, terharu hingga meneteskan air mata, dada sesak dengan kilas balik tragedi rasial yang melanda negeri kita tercinta dan dialami secara pribadi oleh penulis, tertawa geli terus terusan mendapati upacara sakral pernikahan yang diulang hanya karena tamu asing kehormatan datang telat, terharu tiada tara dengan adanya gelaran tarian daerah Nusantara di satu sudut Uzbekistan, hingga ngeri tak terperi dengan kontrol absolut dari sebuah negara yang menjanjikan Abad Emas. Ketika saya menutup buku ini, rasanya saya kehilangan hari hari penuh petualangan dari penulis.

Dalam buku ini, penulis berkali kali menuliskan atau menanyakan, apakah fungsi Garis Batas itu? Garis Batas kadang berupa Kartu pengenal, dokumen dokumen yang menyatakan identitas individu, atau berupa nasionalisme yang sekali saja tersinggung, perang atau bakar bendera akan segera berlangsung. Garis batas di negara negara stan, mempunyai benang merah yang sama, bekas Soviet yang menjadi negara merdeka setelah keruntuhan Soviet. Di dalam negara tersebut, terdapat etnis yang sama, bahasa yang hampir sama, budaya yang mirip tapi masing masing individu mempunyai keterikatan emosional yang berbeda. Perbedaan suku dan imam, menjadikan garis batas itu semakin mencolok, semakin gampang tersulut menjadi pertikaian. Garis batas hadir dengan segala kekuatannya, memilah, mengubur hingga menenggelamkan suatu negara dari dunia luar. 

Agustinus Wibowo, sang penulis buku ini hadir dengan habis-habisan di buku ini. Jika dulu saya kepincut dibuku pertamanya, Selimut Debu, yang ini membuat saya terkesima lalu jatuh cinta dengan gaya penulisannya. Kata-katanya seolah menyihir saya untuk benar-benar melihat negara negara yang ia kunjungi. Saya memahami emosinya di waktu kecil ketika ia mulai diuji rasa nasionalismenya. Saya paham ketika ia bersorak untuk tanah kelahiran orangtuanya alih-alih negara yang ia tinggali. Deskripsinya tentang garis batas terkadang memberi kesan menyesali adanya sekat-sekat diantara umat manusia, tapi tak kuasa menolak adanya garis itu. Langit luas tanpa batas, tanpa konflik, terkesan kurang menarik untuk dijelajahi. Impian John Lennon tentang "and the world will live as one" jadi mengerikan macam negeri Turkmenistan, satu pemimpin, satu suara untuknya. Ah, mungkin saya saja yang kurang utopis, tapi tetap saja negara negara itu jadi kurang menarik tanpa konfliknya. Hidup kita juga bakal kurang menarik jika garis batas itu menghablur jadi satu.


 Map negara negara Asia Tengah

Posting bareng ini saya sertakan di event Posbar BBI tema Traveling

1 komentar:

  1. keren banget yaaa...aku blm pernah baca buku2 gus weng nih... kayaknya mending baca dr selimut debu aja ya?

    BalasHapus