Minggu, 10 Januari 2016

Sebatang Pohon Tumbuh di Brooklyn by Betty Smith




Paperback 664 halaman
Published Januari 2011 by Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Rosemary Kesauly
Rating 5/5

Sudah lama sekali saya tidak membaca novel epic macam novel yang satu ini. Terhitung setelah saya menuntaskan bacaan The House of The Spirit beberapa waktu lalu. Dengan adanya tantangan bacaan dari Bzee dari blog bacaanbzee.wordpress.com, saya mendapat tantangan membaca buku yang ketimbun belum ada setahun ini. BELUM ADA SETAHUN!!! HAH, seolah saya ini orang suci dari mana hingga buku ketimbun belum setahun bisa sedikit mengangkat dosa-dosa saya wkwkwkwk..

Well, enough said… Saya menyanggupi tantangan Bzee, dan saya pun melewati tenggat yang sudah ditentukan. Tapi saya masih meneruskan kisah klasik ini karena sudah kepalang tanggung juga :D

Novel berlatar belakang Brooklyn ini berpusar pada kehidupan Mary Frances Nolan alias Francie, keluarganya, dan keluarga keluarganya; Paman, bibi, Nenek, Nenek dari ayahnya, hingga tetangga sekitar dan sekolahnya serta mimpi-mimpinya. Semua hal kompleks yang terjadi di Brooklyn dikisahkan dari kacamata Francie.

Terbagi dalam 4 bab, bab pertama berkisah tentang Francie yang waktu itu berusia 10 tahun. Francie menceritakan kehidupan keluarganya yang miskin hingga ia dan adiknya Cornelius Nolan alias Neeley, harus mengumpulkan rongsokan yang kemudian mereka jual kembali. Saking miskinnya, mereka harus menghangatkan kopi yang sudah jadi, berebut makanan setengah basi dari toko terdekat hingga makan apel setengah busuk. Setiap kali Francie mengisahkan makanan di keluarganya, saya jadi ingat makanan sisa di rumah saya yang kadang terlupakan begitu saja hingga membusuk. Sementara keluarga Nolan, begitu bersyukur akan adanya makanan setengah basi yang masih harus mereka tebus dengan beberapa sen atau beberapa penny. Hiburan murah meriah bagi penduduk pemukiman kumuh Brooklyn ini adalah rombongan musik yang datang seminggu sekali dan menerima bayarannya dari koin-koin yang dilemparkan. Francie sempat berpikir untuk menjadi anggota rombongan music ini jika ia besar nanti. Mendapatkan uang serasa begitu mudah tanpa harus mengumpulkan rongsokan atau bekerja keras seperti ibunya atau ayahnya yang setengah pengangguran.


Bab dua menceritakan sedikit flashback dengan adanya kisah tentang pertemuan ayah ibunya, John Nolan dan Katie Rommely. Mereka masih sangat muda ketika mereka menikah dan tinggal di perumahan kumuh di salah satu sudut di Brooklyn. Francie juga menceritakan bibi-bibinya dan paman-pamannya yang unik. Bibi Sissy sangat simpatik meski terkadang unik dengan caranya sendiri, ia menjadi pahlawan bagi keluarga Francie. Dari sekian saudara ayah ibunya, Paman Willie-lah yang paling konyol, meski kadang bibi Sissy juga kocak. Pekerjaan paman Willie sebagai pesuruh yang mengendarai kuda, ia harus bermusuhan dengan kuda yang ia tumpangi. Tak jarang ia mendapat tendangan dari si kuda :D. Nenek Rommelly, ibu Katie-lah yang bisa jadi membentuk karakter Katie yang tangguh yang kemudian menurun ke Francie.

Bab dua ini mengambil porsi terbesar dari keseluruhan bab di novel ini. Kisahnya sangat kompleks dengan pasang surutnya kehidupan keluarga Nolan. Francie dan Neeley mulai masuk sekolah. Katie sengaja memasukkan keduanya di tahun yang sama sebagai siasat mereka akan saling menjaga jika terjadi sesuatu pada mereka. Sayang, Francie memilih pindah sekolah karena ia merasa guru yang mengajarnya di kelas pilih kasih hingga ia yang cemerlang tidak pernah mendapat kesempatan mendapat perhatian dari gurunya. 

Kondisi politik pada saat itu juga sekaligus mempengaruhi Negara setempat. Hak memilih yang hanya dimiliki kaum pria sangat diharapkan oleh Johnny untuk mengubah nasib keluarganya. Sayangnya, tak ada yang berubah. Jahnny, si jago menyanyi yang sekaligus tukang mabuk tetap harus menunggu pekerjaan di Serikat Buruh, Katie tetap bekerja sebagai tukang bersih-bersih, dan anak-anak mereka yang tetap hidup seadanya dan makan seadanya. Bahkan perang mengintai, mengintip para pria dan anak-anak laki-laki yang bisa saja diberangkatkan ke medan perang.

Bab tiga adalah permulaan baru bagi Francie dan Neeley yang telah lulus sekolah dasar. Francie yang bermimpi melanjutkan sekolahnya, harus menelan keinginannya. Ia harus bekerja. Bekerja serabutan yang bisa menghasilkan dollar bagi keluarganya. Pekerjaan-pekerjaan inilah yang nanti membawa Francie ke pekerjaan kerah putih meski ia hanya memegang ijazah SD. Kegemarannya membaca mendapat penyaluran yang luar biasa di pekerjaannya sebagai pembaca koran. Dalam sehari ia bisa membaca lebih dari seratus koran. Berbagai informasi dari segala penjuru negeri, ia lahap setiap hari. Tak ada yang tak ia ketahui, kecuali kapan perang akan mulai. 

Bagian akhir bab empat bisa dibilang sebagai klimaks dari segala kisah keluarga Nolan. Kehidupan membaik. Hubungan keluarga semakin menghangat. Segala kepayahan, kemelaratan masa lalu menjadi bayang-bayang kenangan yang mewarnai masa kecil Francie-Neeley, masa muda Katie, dan masa sekarang yang lebih baik bagi mereka. 

Well, saya berusaha untuk tidak menebar spoiler di review ini, meski yah, saya menceritakan sebagian kecil hal penting yang mungkin bisa dianggap spoiler. Untuk kisah drama keluarga semacam ini, akan sulit sekali menulis review tanpa spoiler. Tapi percayalah, dari 664 halaman novel, bocoran ini hanya seperti butiran debu saja :D . Ada beberapa pertanyaan yang mengganjal akan masa puber Francie yang sangat sayang dilewatkan, tapi ternyata buku ini selesai ketika Francie tengah mengalami masa remaja. Apa boleh buat. 

Membaca buku ini, membuat saya mengerti keadaan Amerika di tahun 1900-1918, era di mana Francie tumbuh. Meski kehidupan Francie lebih banyak ia habiskan di Brooklyn, kondisi politik pada wkatu itu, kehidupan social para penduduk setempat tergambar sangat jelas. Kemiskinan yang dialami keluarga-keluarga di sekitar keluarga Nolan, hingga membuat penulis, Betty Smith, selalu detil menuliskan harga barang-barang atau makanan yang dikonsumsi pada waktu itu. Segala sen, penny, nickel hingga dollar, menggambarkan betapa sulit mengumpulkan sekian sen hingga menjadi penny, nickel dan dollar. Harga barang satu dollar adalah barang yang pasti mewah, atau pelayanan satu dollar yang bagi sebagian orang, tak terjangkau hingga memilih meninggalkan piano kesayangan karena tak mampu membayar tenaga pindahan. Meski keluarga Nolan sempat mengalami pindah rumah tiga kali, namun rata-rata mempunyai kehidupan social yang hampir sama; hidup di pemukiman kumuh meski dengan pendapatan mingguan yang berbeda, anak-anak yang bekerja, tukang gossip antar tetangga, hingga kaum pendatang yang terkadang saling memaki satu sama lain. Hal-hal ini yang mewarnai novel setebal 664 halaman yang saya selesaikan lebih dari sebulan hahaha… Over all, this book is worth reading and collecting. Sayang, saya belum berkesempatan menonton filmnya yang rilis dua kali di tahun 1945 dan tahun 1974,  dengan bintang James Dunn, Peggy Ann Garner, Dorothy McGuire, dll. Sempat menonton beberapa cuplikan di YouTube, menurut saya sih bagus, hanya karakter Francie dan Neeley yang digambarkan kurus, terlihat tidak seperti anak keluarga miskin. Hahaha… sudahlah, semoga saya bisa berkesempatan menonton filmnya dalam waktu dekat hingga saya bisa membandingkan antara novel dan film.

 Poster film-nya tahun 1945

Salah satu cuplikan dalam film A tree Grows in Brooklyn tahun 1945

Tidak ada komentar:

Posting Komentar