Sabtu, 03 Juni 2017

Sceduled Suicide Day by Akiyoshi Rikako




Published by Penerbit HaruMay 8, 2017
PenerjemahAndry Setiawan
Rating 4/5

I can say that this book is different from the other books of hers. Mungkin tidak semengejutkan buku sebelumnya, Holy Mother, tapi tetap saja saya syukaaaaa.... ;)) Apalagi info-info seputar fengshui dan deretan nama makanan, cara pembuatannya,  lengkap dengan inovasi kreatif dari para karakter di Novel ini bikin mouthwatering.... yuuummmm....

Ruri Watanabe, atau Ruri chan sudah memutuskan hari bunuh diri dengan lokasi yang ia cari di situs khusus bunuh diri. Desa Sagamino adalah lokasi bunuh diri yang tepat baginya. Setelah menulis surat wasiat bagi siapapun yang akan menemukan suratnya, Ruri chan pun menuju lokasi bunuh dirinya. Sayang langkahnya ini terhambat oleh hadirnya sosok hantu laki-laki yang menghalanginya untuk bunuh diri. Alih-alih menkutkan, si hantu ini justru menawarkan bantuan bagi Ruri-chan untuk mengusut kasus kematian ayahnya.


Ayah Ruri, Sanao Watanabe, adalah seorang pekerja keras di bidang kuliner. Bersama dengan ibunya, mereka mendirikan sebuah restoran idaman yang sepertinya juga bakal jadi idaman buat saya singgahi :D, bernama Oasis. Rancangan bangunan, hingga menu semua dirancang dengan sempurna sesuai dengan fengshui yang begitu dipercaya oleh ibu Ruri akan mendatangkan hal-hal baik dan menghindarkan dari hal-hal buruk. Suatu hari ibu Ruri meninggal. Stuatu pukulan yang hebat bagi Ruri dan ayahnya. Tapi mereka tetap bertahan dengan usaha kuliner mereka. Dan kemudian datanglah Reiko, asisten baru ayahnya yang modis dan kreatif. Dari sekedar berkunjung ke rumah untuk rapat bisnis hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Ruri yang tadinya cukup akrab dengan Reiko menjadi pribadi yang menutup diri. Dia smekain terpuruk ketika ayahnya juga meninggal, dengan dugaan seseorang menginginkan kematiannya demi menguasai kesuksesan restoran dan uang premi asuransi! Tuduhan utama ada pada istri baru sang ayah, Reiko-san.

Dari hasil obrolan teman tentang buku ini, memang ada sedikit perbedaan antara buku ini dengan buku Akiyoshi sensei sebelumnya. Melihat judulnya, saya merasa, saya bakal menemukan hal-hal gelap seperti yang saya rasakan ketika membaca Girls in The Dark. Tapi ternyata, meski masih berasa gelap karena keinginan Ruri untuk mengakhiri hidupnya, cerita mengalir dengan menyenangkan, khas Akiyoshi sensei. Kali ini beliau memadukan antara info-info kuliner dengan pemahaman seputar fengshui. Buat saya yang sangat awam akan fengshui, saya jadi manggut-manggut, oh, ada yang kepercayaan akan hari-hari baik dan jam-jam baik serta hari dan jam sial? Pertanyaannya, jika saya mempraktekkannya dalam kehidupan saya sebagi seorang guru, bagaimana ya jadinya? Hari baik mengajar, jama baik dalam memberi kegiatan siswa dan lain sebagainya. Sepertinya bakal ribet hahahaha… kepo aja sih ya :D

Ending buku ini, meski cukup bisa ditebak, tapi ada beberapa hal yang sempat tidak tertebak. Saya justru bersyukur karena si penulis tetap mempertahankan model tulisan seperti ini, atau saya saja yang kurang prima untuk ‘membaca’ pertanda dari awal? Entahlah. Yang jelas, saya syukaaa endingnya, macam ending school drama di Jdorama hahahaha…









Tidak ada komentar:

Posting Komentar