Jurnal Jo #3: Episode Cinta by Ken Terate

justaveragereader.blogspot.com


Ebook Gramedia Digital 244 pages
Published June 2014
Rating: 3/5

Josephine Wilisgiri is back. Setelah 4 tahun berlalu, akhirnya Jo kembali. Masih SMP sih dengan jeda waktu 4 tahun hahaha…

Well, meski masih SMP kehidupan dan kesibukan Jo tak kalah dengan para sosialita yang sok sibuk. Bedanya, Jo sibuk beneran. Kesibukan Jo yang pertama tentu dengan hatinya. Setelah Rajiv ‘nembak’ dirinya, Jo sibuk mikir, kira-kira apa ya hubungannya dengan Rajiv sekarang? Apakah mereka resmi pacaran? Atau masih teman tapi mesra? Jo sibuk banget mikir tentang hal ini.
Kesibukan Jo yang kedua adalah kehadiran cowok baru di kelasnya, Izzy. Cowok yang kabarnya model iklan dari Jakarta ini, entah bagaimana tiba-tiba muncul di kelasnya dan membuat para cewek jadi demam. Termasuk Jo. Padahal Jo ngga boleh demam pada cowok lain selain Rajiv kan?
Selain kesibukan tak kasat mata itu, Jo juga disibukkan dengan adanya pembuatan peraturan kelas dan tugas sosialnya. Entah bagaimana kabar Klub Sastra-nya setelah ditinggal dirinya. Oh ya, Jo juga sibuk mencari pelajaran ekstra setelah dia mikir Klub Sastra itu ngga keren, dan Rajiv bakalan malu punya pacar yang hanya bergaul dengan buku. Yaelah, Jooo… dasar anak SMP, kamu! Alih-alih meneruskan Klub Sastra-nya, Jo sibuk mencoba bergabung dengan klub cheerleader. Beneran, Jo? Maksa sih, lo…

Setelah terjeda beberapa saat dengan beberapa novel, akhirnya saya kembali meneruskan seri ketiga Jurnal Jo ini. Awalnya, saya hampir menyerah dengan kegalauan Jo tentang hubungannya dengan Rajiv. Beberapa lembar dihabiskan hanya untuk menggambarkan kegalauan Jo dengan Rajiv dan demamnya pada Izzy. Untunglah cerita diselamatkan oleh proyek kelompok sekolah. Cerita sedikit berkembang dengan topik menarik seputar kegiatan sosialnya. Karakter lama kembali hadir dengan kelakuan tak jauh beda: Nadine dengan segala kemewahan yang ia pamerkan kemana-mana, Sally atau Ally si cewek pemburu cowok cakep (ngga belajar dari pengalaman sebelumnya. Huh!), Nabila yang masih dengan perasaan rendah dirinya, dan beberapa karakter lainnya, termasuk Izzy.

Terus terang yang menghidupkan cerita ini justru topik yang akhirnya diangkat oleh Jo dan Nabila untuk proyek kelompoknya. Bullying atau perundungan selalu terjadi dimana-mana dan kapan saja dan terjadi pada siapa saja. Yang menarik adalah perundung biasanya juga adalah korban dari perundungan itu sendiri. Kita melihat bertahun-tahun berbagai kisah orientasi siswa baru di sekolah baru, kejadian serupa masih terus berulang. Dengan dalih orientasi siswa, para senior enak saja menyuruh para adik kelas untuk melakukan ini dan itu. Selepas itu, selalu saja ada anak-anak dengan karakter tertentu menjadi korban perundunga, seperti Nabila. Nabila dan sekian murid setipe, selalu saja menjadi sasaran empuk para pelaku perundungan. Yang parah adalah para korban yang tidak merasa menjadi korban. Entahlah, bergabung pada suatu kelompok terkadang kita harus mencopot apa saja yang semula menjadi sesuatu yang ideal buat kita, tapi itu bukan berarti kita harus berkompromi terus menerus. Jika, Sally berusaha berkompromi, tidak bagi Jo. Untuk bagian ini, Jo terlihat lebih dewasa. Berani berkata tidak adalah suatu tindakan berani.

Masih ada banyak perundungan yang terjadi di sekitar kita, yang kita lihat, baca, dengar, alami. Tidak menjadi bagian dari perundung merupakan hal yang bisa kita ajarkan pada anak-anak, adik kit ajika mereka tidak bisa mencegah. Yuk, sebarkan pergaulan yang sehat bebas dari perundungan dalam bentuk apapun. 😇😇😄


0 Response to "Jurnal Jo #3: Episode Cinta by Ken Terate"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel